Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Buku Gerundelan Penulis Kere (Dok. pribadi/ Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Selain Animal Farm yang sangat populer, buku karya George Orwell lain yang bisa dinikmati dengan nuansa kemiskinan London Selatan adalah Gerundelan Penulis Kere yang diterjemahkan dari Keep the Aspidistra Flying.

Buku ini ditulis pada tahun 1936, dua dekade sebelum penulisan Animal Farm dan 1984. Baru saya selesaikan beberapa jam yang lalu, buku ini menggambarkan kemiskinan di bawah kapitalisme yang masih relevan dengan situasi hari ini.

Sinopsis

Mengikuti kehidupan Gordon Comstock, pria dari kalangan terpelajar kelas menengah dalam usia tiga puluh tahun yang mati-matian membenci sistem kapitalis, tetapi juga menolak ideologi sosialis.

Setelah lulus sekolah, Gordon pernah mendapat pekerjaan yang cukup layak sebagai seorang akuntan dan penulis iklan. Dengan bangga, ia meninggalkan pekerjaan bergengsi di sebuah agensi periklanan.

Namun, prinsipnya yang tidak mau tunduk pada “dewa uang” menjadikannya keluar dari pekerjaan itu dan memilih mengejar mimpinya menjadi penyair, terlebih setelah buku kumpulan puisinya berjudul Mice terbit dan diulas lebih dari 16 media serta dianggap sebagai penulis yang menjanjikan. Keluarganya yang begitu miskin tidak habis pikir dengan pilihan Gordon.

Gordon sendiri hidup terlunta-lunta sampai menemukan pekerjaan sebagai penjaga toko buku dengan gaji dua pound seminggu. Nyatanya, menjadi penulis tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai artikel yang dikirim ke berbagai media tak kunjung mendapat jawaban. Hari-harinya hanya menunggu surat demi surat. Kekasihnya hampir mematahkan hatinya karena tidak lagi menganggap suratnya. Dengan penghasilan yang sangat sedikit, Gordon hidup dalam kemelaratan yang payah.

Pola pikirnya sangat buruk. Ia meyakini semua orang menghinanya karena tidak punya uang. Orang akan menghormatinya jika ia punya uang. Pemikirannya semakin membuat kita penasaran, apalagi pendapatnya tentang pernikahan, di mana Gordon menganggap perempuan hanya akan menikah karena uang.

Uang, segalanya tentang uang. Ravelston, temannya yang kaya, sesekali ingin meminjaminya uang sekadar untuk makan, tetapi selalu mendapat penolakan dari Gordon. Satu-satunya orang yang sering ia utangi adalah Julia, kakak sepupunya yang sama miskinnya. Gordon begitu mendambakan tidur dengan perempuan. Rosemary selalu menolak berhubungan. Lagi-lagi disalahkan oleh Gordon karena uang. Berhubungan harus dengan uang, bayi adalah uang. Hal ini membuat muak, karena Gordon butuh uang, tetapi menolak pekerjaan yang dianggapnya kapitalis.

Sesekali artikelnya terbit dan mendapat honor yang cukup besar. Bukannya berhemat, justru dihabiskan dalam sekali jalan. Bukan membayar utang ke Julia, melainkan mentraktir teman-temannya, membeli bir dan wiski hingga mabuk dan berkelahi dengan polisi. Kejadian ini menjadi titik balik. Gordon sempat ditahan beberapa jam sampai Ravelston menyelamatkannya.

Ia pun menjadi seperti gelandangan yang tinggal di rumah kalangan atas milik Ravelston. Belas kasihan menghancurkan persahabatan mereka. Gordon tidak suka dikasihani. Sesekali Rosemary mengajaknya berjalan ke pedesaan atau sekadar makan malam, tetapi selalu ditolak Gordon dengan alasan uang. Bahkan saat kekasihnya hendak membayar makan, ia menolak dengan alasan harga diri. Titik baliknya justru Gordon semakin tenggelam ke dalam jurang kenistaan.

Sejak kejadian itu, ia dipecat dari pekerjaan lamanya dan mengasingkan diri ke kawasan rakyat jelata yang sangat kumuh. Induk semangnya tidak pernah keberatan dengan apa pun yang ia lakukan, termasuk membawa pelacur ke rumah. Seprai kotor, piring-piring tidak pernah dicuci, tidak pernah mandi. Puisinya yang berjudul London Pleasures tak kunjung diselesaikan. Penggambaran writer’s block begitu membuat depresi seorang penulis.

Kekasihnya masih sama setianya, memuja Gordon dengan segala keawarasan hidup yang membutuhkan uang. Akhirnya, dalam sebuah kejadian yang tidak disengaja, Rosemary hamil. Mau tidak mau, Gordon harus memilih antara menikahi kekasihnya, tidak bertanggung jawab sama sekali, atau pergi ke dokter untuk aborsi. Semua ini membutuhkan uang. Perjalanan Gordon menjadi pertanyaan: apakah ia sebenarnya mencari kesuksesan atau kebenaran?

Kelebihan

Menyadarkan pembaca bahwa hidup perlu realistis: tidak menyembah uang, tetapi juga tetap membutuhkan uang. Menjadi penulis tidak semudah membalikkan tangan, termasuk harus siap dengan kondisi keuangan yang tidak menentu.

Penggambaran London begitu detail dari segi visual, audio, maupun aroma yang menjijikkan, mirip seperti Ahmad Tohari menggambarkan Dukuh Paruk.

Kekurangan

George Orwell begitu menciptakan karakter yang akan dibenci pembacanya, dengan kejiwaan yang aneh dan gengsi yang sangat tinggi.

Ciri khas novelnya adalah deskripsi panjang dan detail dengan minim percakapan, sehingga terasa berat. Mungkin beberapa pembaca merasa kurang nyaman dengan tipe buku seperti ini.

Ada satu keanehan yang belum mendapat penjelasan: Gordon yang begitu miskin sampai tidur harus telanjang karena bajunya hanya satu untuk bekerja, tetapi memiliki kertas dan tinta yang begitu banyak untuk menulis tanpa pernah digambarkan kekurangan atau membeli kertas. Bagian ini menjadi celah dari detailnya novel ini.

Novel ini menjadi gambaran generasi muda dengan mimpi selangit menjadi penulis terkenal, tetapi masih terjebak dalam gengsi, malas untuk melangkah, serta terkendala writer’s block. Sebuah tamparan bahwa jalan menuju terbitnya tulisan itu tidak mulus, terlebih ketika harus bertahan hidup dari penghasilan menulis yang tidak seberapa.

Identitas Buku

Judul: Gerundelan Penulis Kere
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Antin Kurnia
Tahun Terbit: Mei 2024
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-623-186-492-5

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS