Sekar Anindyah Lamase | Ardina Praf
Buku Orang-Orang Oetimu (goodreads.com)
Ardina Praf

Novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi adalah salah satu karya sastra Indonesia yang berhasil memotret wajah pinggiran dengan begitu jujur, berani, sekaligus satir.

Berlatar di Oetimu, sebuah wilayah kecil di pelosok Nusa Tenggara Timur, novel ini menghadirkan potret kehidupan masyarakat Timor Barat pada paruh kedua 1990-an, masa yang sarat gejolak politik, sosial, dan identitas.

Secara garis besar, novel ini tidak berpusat pada satu tokoh utama, melainkan menyajikan berbagai kisah dari orang-orang di Oetimu.

Mereka hidup di tengah tekanan besar dari negara, gereja, dan militer. Pada masa itu, konflik di Timor Timur yang melibatkan Indonesia dan gerilyawan Fretilin turut memengaruhi kehidupan masyarakat sekitar.

Ketegangan politik terasa bahkan hingga ke kampung terpencil seperti Oetimu. Di sisi lain, kehidupan sehari-hari tetap berjalan dengan segala keunikan lokal, dari kebiasaan minum sopi hingga relasi sosial yang kompleks, termasuk tema seksualitas yang ditampilkan secara terbuka.

Salah satu kekuatan utama novel ini adalah keberanian penulis dalam mengangkat tema-tema yang sering dianggap tabu.

Felix K. Nesi tidak hanya menyinggung kekerasan militer dan dampaknya terhadap masyarakat sipil, tetapi juga membedah relasi kuasa antara institusi seperti gereja dan negara terhadap individu.

Semua itu disajikan dengan gaya yang kadang terasa kasar, namun justru memperkuat kesan realisme yang ingin ditampilkan.

Dari segi gaya bahasa, novel ini menggunakan pendekatan yang lugas, satir, dan penuh ironi. Penulis tidak berusaha “memperindah” realitas, melainkan justru memperlihatkannya apa adanya, bahkan dalam bentuk yang paling tidak nyaman sekalipun.

Dialog-dialognya terasa hidup dan mencerminkan karakter masyarakat lokal, sementara narasinya sering kali menyelipkan humor gelap yang membuat pembaca tertawa sekaligus merenung.

Kelebihan lain dari Orang-Orang Oetimu adalah kemampuannya membangun atmosfer. Pembaca seakan diajak masuk ke dalam dunia Oetimu yang kering, keras, namun juga penuh warna.

Setting waktu yang bertepatan dengan peristiwa besar seperti runtuhnya rezim Orde Baru dan Piala Dunia 1998 menambah lapisan konteks yang menarik. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan wilayah terpencil pun tidak pernah benar-benar terlepas dari arus global.

Namun, novel ini bukan tanpa kekurangan. Struktur cerita yang berupa kumpulan kisah dengan banyak tokoh bisa terasa membingungkan bagi sebagian pembaca.

Tidak adanya satu alur linear yang kuat membuat pembaca harus lebih aktif dalam merangkai benang merah dari cerita-cerita yang disajikan.

Selain itu, penggunaan bahasa yang cukup vulgar dan eksplisit mungkin tidak nyaman bagi semua kalangan, terutama pembaca yang lebih menyukai gaya narasi yang halus.

Meski begitu, justru di situlah letak keunikan novel ini. Orang-Orang Oetimu tidak mencoba menjadi karya yang “aman” atau menyenangkan semua orang.

Ia hadir sebagai suara dari pinggiran, keras, jujur, dan sering kali menggugat. Novel ini memperlihatkan bahwa kehidupan di daerah terpencil bukanlah sesuatu yang sederhana atau romantis, melainkan penuh dengan konflik, ironi, dan kompleksitas.

Dari segi pembaca, buku ini lebih cocok untuk kalangan dewasa atau pembaca yang sudah terbiasa dengan karya sastra serius.

Mereka yang tertarik pada isu sosial-politik, sejarah Indonesia, atau kehidupan masyarakat di daerah timur Indonesia akan menemukan banyak hal menarik dalam novel ini. Buku ini juga cocok dibaca saat ingin memahami sisi lain Indonesia yang jarang disorot.

Secara keseluruhan, Orang-Orang Oetimu adalah karya yang kuat, berani, dan penting dalam lanskap sastra Indonesia modern. Felix K. Nesi berhasil menghadirkan cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membuka mata tentang realitas yang sering terabaikan.

Novel ini bukan sekadar bacaan, melainkan pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam.