Hayuning Ratri Hapsari | Ukhro Wiyah
Drama Lovely Runner (Vidio)
Ukhro Wiyah

Dibandingkan dengan drama romansa, sebetulnya saya lebih menyukai drama bergenre thriller, action, atau slice of life. Namun, ketika Lovely Runner tayang di tahun 2024 lalu, jujur saya langsung tertarik menonton.

Bukan hanya karena visual pemain utamanya yang menawan, tetapi juga ceritanya yang mengangkat cukup dalam perjalanan emosional tentang pengorbanan, harapan, dan keberanian melawan takdir.

Di balik nuansa cerah dan indahnya romansa masa sekolah, ada rasa cemas yang perlahan tumbuh—bahwa kebahagiaan yang terlihat sederhana bisa runtuh kapan saja.

Sinopsis Lovely Runner

Cerita berawal dari Im Sol (Kim Hye-yoon), seorang penggemar berat idol bernama Ryu Sun-jae (Byeon Woo-seok).

Bagi Sol, Sun-jae bukan sekadar idola. Ia adalah alasan Sol kembali menemukan semangat hidup setelah kecelakaan yang membuatnya kehilangan kemampuan berjalan. Musik Sun-jae menjadi penghiburan di masa terendahnya.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kabar kematian Sun-jae datang secara tiba-tiba dan menghancurkan Sol. Dalam keadaan putus asa, ia secara ajaib kembali ke masa lalu dengan sebuah jam tangan misterius. Ia kembali hidup di masa SMA saat Sun-jae masih hidup.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Sol bertekad mengubah takdir dan menyelamatkan Sun-jae dari kematian. Ia mencoba mendekati Sun-jae, menghindari kejadian-kejadian berbahaya, dan mengubah masa depan yang sudah ia ketahui. Namun semakin ia berusaha, semakin ia menyadari bahwa masa lalu tidak mudah diubah, dan setiap keputusan membawa konsekuensi baru.

Ulasan Lovely Runner

Menurut saya, yang membuat Lovely Runner terasa berbeda dari drama romansa lainnya adalah keseimbangan emosinya.

Di satu sisi, drama ini menghadirkan kisah percintaan masa sekolah yang ringan dan menggemaskan. Interaksi Sol dan Sun-jae di masa SMA terasa hangat, penuh momen kecil yang membuat penonton ikut tersenyum.

Namun di sisi lain, ada ketegangan yang terus mengikuti—bahwa semua kebahagiaan itu bisa berubah menjadi tragedi.

Karakter Ryu Sun-jae juga menjadi daya tarik utama. Ia bukan hanya sosok idola populer, tetapi digambarkan sebagai pribadi yang hangat, setia, dan diam-diam menyimpan perasaan sejak lama.

Cara Sun-jae memperhatikan Sol, bahkan sebelum Sol menyadari perasaannya sendiri, membuat kisah cinta mereka terasa tulus dan tidak berlebihan. Dan di drama ini, saya merasa Byeon Woo-seok tampil dengan aura yang sangat menawan.

Sementara itu, Im Sol menjadi karakter yang emosional namun kuat. Ia bukan hanya gadis ceria, tetapi juga seseorang yang membawa luka dan rasa takut kehilangan. Keputusannya untuk kembali ke masa lalu bukan sekadar demi cinta, tetapi juga bentuk usaha untuk melawan keputusasaan yang pernah ia rasakan.

Alur cerita Lovely Runner terasa dinamis. Meski menggunakan konsep perjalanan waktu yang cukup umum, drama ini mampu mengemasnya dengan plot yang tidak mudah ditebak. Setiap perubahan kecil di masa lalu membawa dampak besar di masa depan, menciptakan ketegangan yang membuat penonton terus penasaran.

Hal lain yang membuat Lovely Runner terasa berkesan adalah chemistry antara pemeran utama. Interaksi mereka terasa natural, tidak berlebihan, dan justru kuat dalam momen-momen sederhana. Tatapan, gestur kecil, dan dialog ringan mampu menyampaikan emosi yang dalam tanpa perlu dramatisasi berlebihan.

Ditambah lagi, penggunaan musik dalam drama ini terasa sangat mendukung suasana. Lagu-lagu yang muncul tidak hanya menjadi latar, tetapi juga memperkuat kedekatan emosional penonton dengan cerita.

Beberapa adegan bahkan terasa lebih membekas karena perpaduan visual dan musiknya yang tepat. Soundtrack yang paling saya suka dari drama ini adalah Sudden Shower atau Sonagi yang dinyanyikan oleh Byeon Woo-seok. Setiap liriknya memiliki makna yang terasa begitu mendalam.

Menonton Lovely Runner membuat saya berpikir bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki seseorang di masa sekarang. Kadang, cinta juga tentang keinginan untuk melindungi, bahkan ketika hasilnya belum tentu sesuai harapan.

Sol terus kembali ke masa lalu, mencoba memperbaiki sesuatu yang mungkin tidak bisa diubah sepenuhnya. Ia tahu ada risiko gagal, tahu ada kemungkinan kehilangan lagi, tetapi tetap memilih mencoba. Itu seolah menunjukkan bahwa mencintai seseorang juga berarti berani menghadapi kemungkinan terburuk.

Drama ini juga terasa seperti pengingat bahwa hidup sering kali berjalan di luar kendali kita. Ada kejadian yang tidak bisa dicegah, ada perpisahan yang datang tiba-tiba, dan ada rasa menyesal yang muncul setelah semuanya terlambat. Namun jika diberi kesempatan kedua, kita mungkin akan melakukan hal yang sama seperti Sol: mencoba sekuat mungkin, meski tidak ada jaminan berhasil.

Mungkin, kita memang tidak selalu bisa mengubah akhir cerita. Tetapi selama masih ada usaha untuk memperjuangkan setiap harapan, selalu ada alasan untuk percaya bahwa tiap detik yang kita perjuangkan tidak pernah benar-benar sia-sia.