Sobat Yoursay, siapa di sini yang pernah melakukan self-reward?
Jujur, saya pribadi juga beberapa kali melakukannya, terutama semasa kuliah dulu. Setiap kali berhasil menyelesaikan tugas yang cukup sulit, saya biasanya membeli sesuatu dan menyebutnya sebagai self-reward, meskipun bentuknya sangat sederhana.
Sebagai seseorang yang punya beberapa makanan favorit, self-reward versi saya sering kali hanya berupa membeli mie pedas, nasi padang, dimsum mentai, atau sekadar ice cream kemasan yang harganya tak sampai sepuluh ribu. Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa. Namun, bagi kaum mendang-mending seperti saya, membeli makanan favorit di saat tertentu tetap terasa cukup istimewa.
Karena jika biasanya saya hanya membeli lauk seadanya untuk makan, saat sedang ingin self-reward saya akan membeli satu porsi makanan lengkap dengan topping atau lauk tambahan. Sederhana memang, tetapi cukup membuat suasana hati terasa lebih baik setelah lelah menghadapi tugas dan aktivitas sehari-hari.
Istilah self-reward kini sudah semakin akrab dalam kehidupan generasi muda. Tidak jarang di antara mereka yang begitu mudah dan ringan pergi liburan, membeli berbagai barang, dan mencoba banyak hal dengan dalih self-reward. Di titik ini, ada pertanyaan yang cukup mengganggu dan mungkin layak untuk kita renungkan bersama: apakah self-reward benar-benar bentuk menghargai diri sendiri, atau justru perlahan menjadi topeng dari kebiasaan konsumtif?
Saya akui, self-reward bukanlah sesuatu yang keliru, bahkan saya pun kerap melakukannya. Setelah melewati hidup yang penuh lika-liku, rasanya cukup wajar jika kita merasa perlu diapresiasi. Dengan memberikan hadiah kecil pada diri sendiri dapat membantu menjaga motivasi kita untuk terus bertahan melalui proses melelahkan lainnya dalam hidup. Dalam hal ini, self-reward memang bisa menjadi bentuk self-love yang sehat.
Akan tetapi, kita pun perlu waspada. Sebab ketika self-reward mulai dijadikan sebagai alasan maupun pembenaran untuk lebih memprioritaskan keinginan di atas kebutuhan, ini akan menjadi masalah yang cukup serius. Apalagi ketika semuanya dibungkus dengan kedok self-reward, padahal sebenarnya hanya menjadi bentuk pelarian emosional. Mulai dari melakukan pembelian yang impulsif, hingga belanja banyak barang karena stres. Jika sudah demikian, maka self-reward yang mulanya menjadi bentuk apresiasi perlahan berubah menjadi pembenaran konsumtif.
Persoalan serupa semakin mudah kita temukan di era digital hari ini. Media sosial dipenuhi dengan berbagai konten yang tanpa sadar menormalisasi budaya konsumtif yang dikemas indah atas nama “self-reward”. Sehingga banyak orang yang sedikit stress langsung checkout, sedikit sedih pergi healing, sedikit lelah langsung membeli sesuatu agar merasa lebih baik.
Hingga tanpa disadari, self-care dan self-love perlahan semakin sering diidentikkan dengan aktivitas konsumsi. Jika budaya seperti ini terus dibiarkan, pada akhirnya kita akan mulai mengalami kebocoran finansial yang cukup signifikan, kesulitan untuk menabung dana darurat, bahkan ketergantungan belanja. Di saat yang sama, kita bukan hanya kehabisan uang, tetapi juga kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Di titik ini, saya rasa kita perlu membangun kembali kesadaran bahwa tidak semua rasa lelah harus diselesaikan dengan barang baru ataupun menghabiskan uang dalam jumlah besar. Kita boleh sesekali melakukan self-reward dan menikmati hidup. Namun, kita juga perlu mengingat dan memastikan kondisi finansial masih tetap terkontrol.
Selain itu, jika memang tujuan self-reward adalah untuk menghargai dan memberi apresiasi diri sendiri, sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita lakukan, bahkan tanpa mengeluarkan uang sama sekali. Seperti istirahat yang cukup, tidur lebih awal, quality time, journaling, membaca buku, menonton film atau drama, jalan-jalan sebentar di sekitar rumah, atau sekadar deep talk dengan orang terdekat.
Sebab di saat tubuh dan pikiran terasa lelah, kadang yang dibutuhkan bukan checkout, tetapi berhenti sejenak dan beristirahat. Self-reward seharusnya menjadi bentuk menghargai diri, bukan topeng untuk menutupi kebiasaan konsumtif yang perlahan merugikan diri sendiri.
Baca Juga
-
Setelah 10 Episode, Saya Baru Menangkap Detail Penting di The Scarecrow
-
Dia Tidak Turun dari Bus Itu, Lalu Kenapa Ada di Rumahku?
-
Dompet Menangis karena Geng Pertemanan? Budaya Konsumtif Kini Makin Ngeri
-
In This Economy, Apakah Nongkrong di Kafe Estetik Masih Worth It?
-
Penuh Plot Twist! Ini 5 Rekomendasi Drama Korea yang Cocok Ditonton Setelah The Scarecrow
Artikel Terkait
-
Belanja Atas Nama Healing: Self-Reward yang Diam-diam Menguras Finansial
-
Dompet Menangis karena Geng Pertemanan? Budaya Konsumtif Kini Makin Ngeri
-
Budaya Belanja Generasi Sekarang: Antara Self-Reward dan Self-Destruction
-
Ribuan Warga Menonton Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran, KDM: Berdampak Positif bagi Ekonomi
-
Membeli karena Butuh atau FOMO? Refleksi Gaya Hidup Gen Z di Era Konsumtif
Kolom
-
Konten Edukasi Semakin Banyak, tetapi Mengapa Polarisasi Tetap Tinggi?
-
Efek Doomscrolling: Kenapa Fokus Kita Kini Lebih Pendek dari Ikan Mas?
-
Fast Fashion dan Krisis Sampah: Bisakah Perempuan Jadi Agen Perubahan?
-
Aku Cinta Rupiah: Ketika Lagu Masa Kecil Bertemu Realitas Ekonomi Hari Ini
-
Fenomena Zero Post di Media Sosial, saat Generasi Z Memilih Sunyi
Terkini
-
Tayang Juli 2026, Park Eun Bin Jadi Konglomerat Indigo di Spooky in Love
-
When We Were Young: Surat Cinta untuk Masa Remaja Tahun 90-an
-
Membaca Kilah: Saat Pelarian dari Realita Justru Menghancurkan Segalanya
-
Jalan Bandungan: Kritik Sosial Sastra Feminis Nh. Dini atas Orde Baru
-
4 Parfum Sandalwood Lokal Pas Buat Ngantor, Wanginya Sopan di Ruang Ber-AC