Novel “absurd” dengan sampul rumah terbakar dan asap membumbung tinggi ini saya temukan secara acak di rak sastra perpustakaan.
Judulnya Bayang Suram Pelangi, dan tanpa diduga, inilah bacaan yang selama ini saya cari. Sangat jarang ada novel yang mengisahkan secara detail kekejaman aparat pada masa DOM di Aceh, khususnya hingga periode pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Sebelumnya, saya hanya menemukan sekilas gambaran serupa dalam novel karya Tere Liye. Namun, novel ini berbeda ditulis dari sudut pandang orang Aceh asli, dengan pengalaman hidup yang nyaris tak kalah dramatis dari fiksi bahkan sang penulis semasa remaja pernah hampir terbunuh karena dicurigai sebagai mata-mata hanya karena menulis puisi dan cerpen.
Sinopsis
Novel ini mengikuti kehidupan sehari-hari Saidul, remaja kelas 2 SMA yang menjadi satu-satunya anak di kampung Meurawoe yang masih bersekolah.
Kampung terpencil di ujung Aceh ini menjadi latar peristiwa pada tahun 2003, saat operasi penumpasan pemberontakan berlangsung.
Pada masa ini, setelah gagalnya perundingan damai di Tokyo, pemerintah menetapkan status darurat militer di Aceh. Ribuan tentara dan polisi dikerahkan, memicu konflik bersenjata yang semakin intens dan mencekam.
Melalui sudut pandang Saidul yang polos, pembaca diajak menyaksikan bagaimana tentara datang ke kampung, memukuli warga tanpa pandang bulu, serta menginterogasi siapa pun yang dicurigai terkait pemberontak.
Ironisnya, masyarakat kampung digambarkan sebagai kelompok miskin yang sebagian masih mempercayai hal-hal mistis, seperti kekuatan orang sakti yang konon mampu melindungi mereka dari tentara.
Nyatanya saat tentara datang mereka tak mampu melindungi dirinya sendiri. Warga disebut pasukan goblok lantaran tak paham bahasa jawa miskin dan tak punya apa apa untuk dijarah.
Saidul sendiri tidak pernah benar-benar percaya pada cerita-cerita tersebut. Ia lebih sibuk bertahan sebagai anak sekolah yang harus menempuh jarak jauh dengan sepeda reyotnya demi menghindari kecurigaan.
Di usianya, banyak pemuda lain memilih merantau ke Medan atau Malaysia; mereka yang tetap tinggal berisiko ditangkap dan disiksa. Memang ada segelintir pejuang yang melawan pemerintah, tetapi kebanyakan warga desa tidak memiliki keterlibatan apa pun.
Konflik dalam novel ini terasa unik karena berjalan “biasa” di mata tokohnya. Bahkan saat situasi memanas, Saidul memandangnya sebagai bagian dari keseharian. Ketegangan justru muncul dalam lingkup keluarga: kakaknya menikah dengan seorang pemberontak bernama Sani, sementara adiknya, Aini, justru menjalin kedekatan dengan tentara. Keluarga mereka berada di ambang kehancuran.
Dalam kesehariannya, Saidul kerap diliputi ketakutan setiap kali tentara datang ke rumah. Ia berpura-pura sibuk membantu orang tua seperti mencopot bilah bambu kandang ayam demi menunjukkan bahwa dirinya anak baik-baik dan bukan bagian dari pemberontak.
Remaja seusianya hampir tak ada lagi yang tinggal di kampung; sebagian besar memilih merantau. Saidul pun kembali harus mengalah pada keadaan, termasuk saat kehilangan kamarnya karena Aini pindah setelah Sani, sang kakak ipar, menjadi bagian dari keluarga. Ia hanya bisa menerima, sebab belum mampu membangun rumahnya sendiri.
Sementara itu, Zahra gadis pirang keturunan Portugis yang menjadi semesta cinta masa remaja Saidul sekaligus pengalaman pertama yang mengguncang perasaannya justru menghadirkan kepahitan di akhir cerita.
Kehadirannya yang semula memberi warna dalam hidup Saidul berubah menjadi kesedihan ketika ia memperkenalkan calon suaminya, seorang tentara. Di sisi lain, Saidul masih seorang remaja tanggung yang belum mampu menafkahi, apalagi membangun rumah tangga, sementara Zahra telah berada pada fase hidup yang menuntutnya untuk segera menikah.
Kelebihan
Novel ini memenangkan sayembara Dewan Kesenian Jakarta serta meraih Khatulistiwa Literary Award. Tentunya emilihi kelebihan yang luar biasa.
Selain dari sudut pandang orang Aceh sendiri, metafora cukup indah sedikit mendayu- dayu tetapi juga mudah dipahami.
Mengajak pembaca melihat secara langsung betapa kerasnya kehidupan yang tertinggal di ujung Indonesia. Serta kekejaman militer yang tidak pernah diceritakan dipelajaran sekolah.
Kekurangan
Banyak repetisi dalam cerita, terutama pada bagian-bagian keseharian Saidul, seperti tingkahnya mengusik kucing, mengejar kambing yang selalu memakan cabai rawitnya dan kegagalan menjebak ruak- ruak.
Awalnya terasa hidup dnegan visual yang sangat detail tetapi banuyaknya repitisi menjadikan cerita bisa dilompati tanpa kehilangan maknanya.
Identitas Buku
Judul: Bayang Suram Pelangi
Penulis: Arafat Nur
Penerbit: Diva Press
Tahun terbit: 2018
ISBN: 9786023015316
Baca Juga
-
Siklus 'Asbun' dan Klarifikasi: Mengapa kita Terjebak dalam Pola yang Sama?
-
Dunia Sindhunata dalam Mata Air Bulan: Sebuah Perjumpaan Iman dan Budaya
-
Dilema Pengantin Baru dan Anekdot Misterius dalam Perempuan Kelabu
-
Siklus Kekuasaan dalam Animal Farm: Cermin Retak Realitas Indonesia
-
Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mencintai yang Berbeda: Mengapa Novel 'Kisah Seekor Camar dan Kucing' Wajib Anda Baca
-
Review Bloodhounds Season 2: Bromance Brutal Is Back, Udah Siap Liat Rain Jadi Villain?
-
Besok Sisa Sengsara? Udah, Rayakan Hari Ini Aja Bareng Lagu "Kita ke Sana" dari Hindia
-
Menaklukkan Gunung Malabar: Dari Sabana Indah hingga Tanjakan Mematikan
-
Membaca Realitas Cinta Dengan Titik: Ketika Perasaan Tak Pernah Sederhana
Terkini
-
4 Toner Black Rice, Rahasia Kulit Cerah dan Lembap tanpa Terasa Lengket!
-
Liturgi dari Rahim Silikon
-
Ilusi Gaji UMR: Terlihat Besar di Atas Kertas, Hilang Begitu Saja Sebelum Akhir Bulan
-
Cerita Perantau di Batam: Gagal Makan Ayam Penyet, Ujung-ujungnya Mi Ayam Jadi Penyelamat
-
Pemanasan Sebelum Coachella! Pinky Up ala Katseye Bikin Hook-nya Nempel Terus di Kepala