Film David (2025) adalah salah satu rilis animasi keluarga yang paling ditunggu di awal 2026, terutama bagi penonton Indonesia yang menyukai cerita inspiratif berbasis Alkitab. Diproduksi oleh Angel Studios bekerja sama dengan 2521 Entertainment dan Sunrise Animation Studios, film ini disutradarai sekaligus ditulis oleh Brent Dawes dan Phil Cunningham. Dengan durasi sekitar 111 menit David mengusung genre Animation, Adventure, Drama, dan Musical.
Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 3 April 2026 dan hingga hari ini masih sedang tayang di berbagai jaringan bioskop seperti Cinema 21, XXI, CGV, Cinepolis, Platinum Cineplex, NSC, dan Kota Cinema. Film ini tayang sejak Jumat, 3 April 2026—bertepatan dengan Jumat Agung—di hampir seluruh kota besar Indonesia, mulai dari Jakarta, Surabaya, Solo, Bali, hingga Medan dan Balikpapan. Harga tiket bervariasi, mulai Rp37.000–Rp50.000 untuk regular 2D, hingga Rp100.000–Rp150.000 untuk premiere atau VIP, tergantung kota dan jam tayang. Jadwal harian bisa dicek langsung di jadwalnonton.com atau aplikasi bioskop masing-masing karena update real-time.
Awal yang Rendah Hati: Kehidupan Gembala di Betlehem
Sinopsis film berpusat pada kisah klasik Daud (David) dari Kitab Samuel dalam Alkitab. Dari nyanyian ibunya hingga pertarungannya dengan Goliat, perjalanan Daud sebagai gembala muda yang rendah hati di Betlehem menjadi raja Israel menguji batas iman, keberanian, dan kasih sayang.
Cerita dimulai dari masa kecil Daud yang melindungi domba-domba dari binatang buas, diurapi oleh Nabi Samuel sebagai calon raja, bermain kecapi untuk menenangkan Raja Saul, hingga menghadapi raksasa Filistin, Goliat, di Lembah Elah. Film ini juga mengeksplorasi persahabatan erat dengan Yonatan (putra Saul), konflik dengan Saul yang semakin iri hati, serta perjuangan internal Daud antara kerendahan hati dan godaan kekuasaan. Pendekatan musikal membuat narasi mengalir seperti dongeng epik yang modern, tanpa kehilangan akar rohaninya.
Ulasan Film David
Secara visual, David benar-benar memukau. Animasi 3D yang diproduksi Sunrise Animation Studios menghadirkan latar belakang yang sinematik dan detail—dari padang rumput Betlehem yang hijau subur, lembah berbatu di Elah, hingga istana Saul yang megah. Tim produksi melakukan riset mendalam di Israel, menggunakan drone footage, artefak asli zaman Daud, dan referensi historis untuk menciptakan dunia yang autentik sekaligus magis.
Warna-warna cerah, pencahayaan dramatis, dan gerakan karakter yang ekspresif membuat setiap frame terasa hidup. Dibandingkan dengan The Prince of Egypt (1998), David berhasil menangkap nuansa epik serupa tapi dengan sentuhan animasi kontemporer yang lebih halus dan emosional. Musik menjadi bintang utama film ini. Dengan komposisi Joseph Trapanese (score) dan Jonas Myrin (lagu), soundtrack penuh lagu worship yang menggetarkan jiwa seperti Adventure Song, Follow the Light, Shalom, dan Psalm 8. Lagu-lagu ini tidak hanya sisipan, melainkan integral dengan plot—mengungkapkan emosi karakter dan pesan iman secara indah.
Phil Wickham yang menyuarakan Daud dewasa memberikan sentuhan autentik sebagai penyanyi worship terkenal, sementara Lauren Daigle dan para pengisi suara lain yang lain di antaranya adalah Brandon Engman sebagai Daud muda, Miri Mesika sebagai ibu Nitzevet, Asim Chaudhry, dan Kamran Nikhad sebagai Goliat menghidupkan dialog dengan natural dan penuh perasaan.
Tema utama film ini adalah iman yang mengalahkan kekuatan duniawi, kerendahan hati versus kesombongan, serta persahabatan dan pengampunan. Meski setia pada narasi Alkitab, sutradara berhasil membuatnya family-friendly dengan melembutkan elemen kekerasan dan menekankan pesan universal seperti keadilan sosial, perlawanan terhadap penindasan, serta kekuatan doa dan nyanyian. Bagi penonton Indonesia, tema ini sangat relevan—mengingatkan kita pada perjuangan sehari-hari menghadapi raksasa modern seperti ketidakadilan, kemiskinan, atau godaan kekuasaan. Narasi penuh makna ini membuat David bukan sekadar hiburan, melainkan pengalaman rohani yang menyentuh hati seluruh keluarga.
Film ini seasyik pahlawannya yang tangguh, mengimbangi prediktabilitas dengan latar animasi yang indah dan moral yang universal. Visualnya memukau, musik menggetarkan, serta narasi yang penuh makna dan relevan dengan konteks Indonesia. Menurutku kelemahan kecilnya ada pada pacing yang kadang terasa didactic atau terlalu preachy bagi penonton non-Kristen, serta plot yang cukup dapat ditebak. Akan tetapi, kekuatan emosional, lagu-lagu yang mudah diingat, dan pesan harapan membuat film ini tetap layak ditonton berulang kali.
Intinya, David adalah kemenangan bagi genre animasi biblikal. Dengan visual epik, musik yang menginspirasi, dan cerita yang setia pada akar rohani, film ini berhasil menghidupkan kembali kisah Daud di layar lebar dengan cara yang segar dan modern. Cocok untuk ditonton bersama keluarga, anak-anak, remaja, maupun komunitas rohani. Kalau kamu mencari film yang menghibur sekaligus menguatkan iman, David adalah pilihan tepat. Jangan lewatkan kesempatan menonton di bioskop terdekat. Rating dariku: 8.5/10. Sebuah animasi yang tidak hanya indah dilihat, tapi juga menyentuh jiwa.
Baca Juga
-
Peran Terbaik Laura Basuki! Menguak Sisi Gelap Sumba di Balik Film Yohanna
-
Review Bloodhounds Season 2: Bromance Brutal Is Back, Udah Siap Liat Rain Jadi Villain?
-
Emosional, Menyentuh, dan Relatable! Film Ini Bakal Bikin Kamu Ingin Langsung Peluk Orang Tua
-
Review Film Don't Follow Me: Slow Burn Horor dengan Plot Twist yang Kuat!
-
Review Film Project Hail Mary: Hadirkan Visual IMAX yang Spektakuler!
Artikel Terkait
-
Peran Terbaik Laura Basuki! Menguak Sisi Gelap Sumba di Balik Film Yohanna
-
Review Bloodhounds Season 2: Bromance Brutal Is Back, Udah Siap Liat Rain Jadi Villain?
-
Review Film Project Hail Mary: Hadirkan Visual IMAX yang Spektakuler!
-
FTSE Pertahankan Status Indonesia, Reformasi Pasar Modal Diakui Dunia
-
Rupiah Tertekan saat Fundamental Ekonomi Kokoh, Peluang Dongkrak Ekspor
Ulasan
-
Kisah Desi dan Aini: Saat Idealisme Guru Bertemu Tekad Baja Sang Murid
-
Peran Terbaik Laura Basuki! Menguak Sisi Gelap Sumba di Balik Film Yohanna
-
Buku Tamasya Ke Taman Diri; Menemukan Tuhan Lewat Kata-Kata Para Sufi
-
Luka dari Meurawoe: Membaca Aceh Pasca-DOM dalam Bayang Suram Pelangi
-
Mencintai yang Berbeda: Mengapa Novel 'Kisah Seekor Camar dan Kucing' Wajib Anda Baca
Terkini
-
4 Sunscreen Peptide, Bikin Kulit Plumpy dan Terhidrasi Sepanjang Hari!
-
Antara Keberanian dan Shock Value: Kritik Atas Promosi Film Aku Harus Mati
-
5 Sampo Berbahan Tea Tree Oil untuk Rambut Berketombe, Gatal-gatal Lenyap
-
Sinopsis Perfect Crown, Lika-liku IU dan Byeon Woo-seok Nikah Kontrak
-
Sosok Berkepala Lancip di Rumpun Bambu Dekat Halaman Belakang Rumah Pakpuh