Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
MV Berkaca-kaca (Youtube/Vanessa Zee)
Ukhro Wiyah

Vanessa Zee merupakan salah satu kontestan favorit saya di kompetisi Indonesian Idol musim ketiga belas. Karena itu, saya merasa cukup excited ketika dia merilis lagu baru—yang bahkan langsung menjadi salah satu lagu favorit saya.

Lagu yang dirilis pada September 2025 lalu berjudul Berkaca-kaca. Secara umum, lagu ini bercerita tentang hubungan asmara yang toxic, ketika seseorang sudah merasa sakit hati, kecewa, dan dilema, tetapi tetap memilih bertahan karena masih menyimpan harapan bahwa pasangannya akan berubah suatu hari nanti. 

Namun, di sini saya ingin membacanya dari sudut pandang yang lebih luas. Bukan sebatas hubungan asmara dengan pasangan, tetapi hubungan antarmanusia secara keseluruhan. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit hubungan yang membuat kita terluka—baik dengan teman, keluarga, maupun orang terdekat—namun tetap kita pertahankan karena kedekatan emosional yang sudah terlanjur dalam.

Lagu dibuka dengan lirik, “Coba kau teguk dan rasa pahit kata-katamu, biar kau tahu besarnya kecewa di hatiku. Mungkin kau asal bicara tak lihat akibatnya, di sini ku terluka.” Bait pertama ini menggambarkan tentang betapa menyakitkannya kata-kata yang diucapkan tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Kalimat sederhana yang diucapkan tanpa niat buruk bisa meninggalkan bekas yang cukup dalam bagi seseorang yang mendengarnya.

Jika ditarik dalam konteks yang lebih luas, situasi ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita mungkin pernah mendengar kalimat yang meremehkan, membandingkan, atau bahkan tanpa sadar menyudutkan. Namun, orang yang mengucapkannya sering kali tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut melukai. Sementara itu, kita yang mendengar memilih diam, menyimpan rasa kecewa, dan berusaha memahami bahwa mungkin mereka tidak bermaksud menyakiti.

Bagian berikutnya, tak kalah menyayat hati. “Coba kau cari apakah ada di luar sana, berani taruhan ku tak mungkin ada lawannya. Kau yang selalu seenaknya, tak apa-apa, walaupun kuterluka.” Lirik ini menggambarkan seseorang yang tetap bertahan meskipun terus disakiti. Ada kesan bahwa hubungan tersebut terasa terlalu berharga untuk dilepaskan, sehingga luka yang muncul justru dianggap sebagai hal yang harus diterima.

Dalam kehidupan nyata, kondisi seperti ini sering terjadi. Kita tetap bertahan bukan karena tidak sadar sedang terluka, tetapi karena hubungan itu memiliki arti penting. Bisa jadi karena sudah terlalu lama bersama, sudah terlalu banyak kenangan, hubungan darah yang tidak bisa kita hindari, atau harapan bahwa mereka akan berubah. Akhirnya, meski hati berkali-kali kecewa, kita tetap memilih memahami.

Lirik “Sembunyikan mataku yang berkaca-kaca, kutahan semuanya.” semakin memperlihatkan usaha kita untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Menahan air mata, menyembunyikan kesedihan, hingga memendam semuanya sendirian. Sebab di depan mereka, kita ingin tetap terlihat kuat, meski dalam hati ada luka yang terus bertambah.

Masuk ke bait selanjutnya, “Benci mengapa begini, terus kecewa tapi ku tak pergi. Semua yakinkan tuk berpisah, apa salah bila ku tak menyerah?” Kalimat tersebut seolah menjelaskan rasa lelah setelah terus-menerus bertahan dalam luka. Namun di sisi lain, ada keinginan tetap bertahan, meskipun orang di sekitar sudah menyarankan untuk pergi. Bukan karena tidak sadar kalau disakiti, tetapi sebab ada harapan yang masih tersisa dalam hati.

Pada bait berikutnya, “Coba kita tukar peran dan kau jadi diriku, berani taruhan kau tak kuat sampai seminggu.” Menurut saya, lirik ini terasa seperti bentuk kelelahan yang akhirnya diungkapkan. Ada keinginan agar orang lain memahami posisi kita. Bahwa menjadi seseorang yang terus bertahan sambil menahan luka bukanlah hal mudah. Tidak semua orang mampu menjalani peran tersebut.

Harapan tipis dihadirkan dalam kalimat “Masa hujan di tengah hari, Tuhan bisa buat terjadi. Apalagi buat kau jatuh hati, meski kau tak pernah peduli.” yang seolah berusaha memberikan keyakinan pada diri sendiri bahwa perubahan selalu mungkin terjadi. Bahkan sesuatu yang tampak mustahil pun bisa terjadi, selama masih ada harapan.

Menuju bagian akhir, lirik “Terus kecewa tapi ku tak benci” menunjukkan perasaan yang semakin kompleks. Luka tidak selalu melahirkan kebencian. Kita tidak membenci, tetapi juga tidak sepenuhnya bahagia. Kita hanya bertahan, sambil berharap keadaan perlahan berubah.

Lagu ini ditutup dengan kalimat “Tak kenal kalah, biar ku tinggal di kepalamu. Mungkin esok lusa kau 'kan berubah.” Penutup ini terasa seperti bentuk keteguhan hati. Meski terus terluka, seseorang tetap memilih tinggal sebab masih ada harapan yang dipertahankan.

Bagi saya, keseluruhan lagu ini bukan hanya tentang hubungan asmara yang toxic, tetapi tentang hubungan antarmanusia yang tidak selalu berjalan sehat. Ada kalanya kita tetap bertahan pada hubungan yang menyakitkan, bukan karena tidak mampu pergi, tetapi karena hubungan itu terlalu berarti untuk dilepaskan begitu saja.

Berkaca-kaca terasa seperti potret seseorang yang memilih bertahan sambil menahan luka. Menyembunyikan air mata, memendam kecewa, dan terus berharap perubahan. Sebab pada akhirnya, tidak semua orang yang terluka memilih pergi. Ada juga yang tetap tinggal sambil berharap semuanya akan baik-baik saja. 

Dan lebih dari sekadar lagu tentang hubungan asmara, saya merasa lagi ini sangat related dengan kehidupan sehari-hari.