Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Masjid Sayed Al Shouhada Jabal Uhud (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Di utara Kota Madinah, sekitar lima kilometer dari Masjid Nabawi, berdiri megah sebuah gunung yang menjadi destinasi wajib ketika umrah, yaitu Gunung Uhud.

Dulu aku berpikir gunung di Arab tak jauh berbeda dengan Indonesia, tapi ternyata sangat berbeda. Begitu gersang dan terbuka. Pijakan batu dan terik matahari terasa tepat di atas kepala. 

Gunung granit berwarna kemerahan sepanjang kurang lebih tujuh kilometer ini bukan sekadar bentang alam. Melainkan juga saksi bisu salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam, yakni Perang Uhud.

Jadi bisa dibayangkan, perang terbuka di area perbukitan seperti ini. Dari jauh pun terlihat jika ada orang. Belum lagi cadangan air dan makanan yang harus dibawa saat perang. Beratnya tekanan perang jadi terlihat kian nyata. 

Kompleks Pemakaman Para Syuhada Uhud

Papan Panduan Ziarah di kawasan Jabal Uhud (Dok.Pribadi/Oktavia)

Perang Uhud terjadi pada tahun 3 Hijriah (625 M), sebagai pertempuran besar kedua antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy dari Makkah. Dalam peristiwa ini, sekitar 70 sahabat Nabi gugur sebagai syuhada.

Salah satu di antaranya adalah paman Rasulullah yang sangat dicintai, Hamzah bin Abdul Muthalib, yang dikenal dengan julukan Asadullah atau “Singa Allah” karena keberanian dan keteguhannya dalam membela Islam.

Gunung Uhud menjadi saksi pilu akan pesan yang dalam. Jangan pernah merayakan kemenangan terlalu cepat, jangan pernah tergiur akan harta dunia, dan patuh pada pemimpin. 

Di kaki Gunung Uhud terdapat kompleks pemakaman para syuhada Uhud. Di sinilah para pejuang yang gugur dimakamkan, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib, Mush’ab bin Umair, Hanzhalah bin Abi Amir, dan Abdullah bin Jahsy. 

Tempat ini menjadi salah satu destinasi ziarah utama bagi jamaah haji dan umrah. Setiap hari, ribuan peziarah datang untuk mengenang perjuangan para sahabat, mendoakan mereka, dan mengambil pelajaran dari pengorbanan yang telah diberikan.

Gunung Uhud dan Bukit Rumat

Gunung Uhud dan Bukit Rumat (Dok.Pribadi/Oktavia)

Tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat sebuah bukit kecil yang sangat penting dalam jalannya perang, yaitu Bukit Rumat, yang juga dikenal sebagai Bukit Pemanah. Di sinilah Rasulullah menempatkan pasukan pemanah untuk menjaga posisi strategis dari serangan musuh.

Namun, ketika sebagian pasukan meninggalkan posisi mereka karena mengira perang telah dimenangkan, celah itu dimanfaatkan oleh pasukan Quraisy untuk menyerang balik. Peristiwa ini menjadi titik balik yang menyebabkan kaum Muslimin mengalami kekalahan.

Dari Bukit Rumat, umat Islam belajar tentang pentingnya disiplin, ketaatan, dan konsistensi dalam menjalankan perintah. Kesalahan kecil yang dilakukan oleh sebagian pasukan ternyata membawa dampak besar. Inilah pelajaran abadi dari Perang Uhud: bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah atau kekuatan, tetapi juga oleh ketaatan dan kesabaran.

Masjid Sayyid al-Shuhada

Masjid Sayed Al Shouhada Jabal Uhud (Dok.Pribadi/Oktavia)

Di sekitar kawasan ini juga terdapat Masjid Sayyid al-Shuhada, yang menjadi tempat ibadah sekaligus pengingat akan perjuangan para syuhada. Masjid ini sering dikunjungi oleh jamaah untuk melaksanakan salat dan berdoa sebelum atau sesudah berziarah ke makam para sahabat.

Selain nilai sejarah dan spiritual, kawasan Gunung Uhud juga memiliki sisi ekonomi yang hidup. Di sekitar area ziarah, terdapat berbagai toko yang menjual oleh-oleh khas, mulai dari sajadah tebal dengan harga terjangkau hingga sandal khas yang sering diburu jamaah. Aktivitas ini menjadi bagian dari dinamika lokal yang mendukung kebutuhan para peziarah.

Namun, di balik semua itu, esensi utama dari kunjungan ke Gunung Uhud dan Bukit Rumat bukanlah wisata semata. Ini adalah perjalanan reflektif yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu, serta mengingatkan umat Islam akan nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan keimanan.

Mengunjungi Uhud bukan hanya melihat gunung dan makam, tetapi juga merasakan denyut sejarah yang masih hidup hingga hari ini. Sebuah tempat di mana batu dan tanahnya seolah bercerita tentang keberanian, kesetiaan, dan pelajaran yang tak lekang oleh waktu.