Di tengah ramainya novel penuh konflik besar dan plot rumit, Berjalan Jauh karya Fauzan Mukrim hadir dengan cara yang sangat sederhana. Buku ini tidak menawarkan petualangan spektakuler, kisah cinta dramatis, ataupun teori kehidupan yang berat.
Sebaliknya, ia hanya berisi potongan-potongan kisah pendek tentang kehidupan sehari-hari. Namun justru dari kesederhanaan itulah buku ini terasa begitu dekat dan menenangkan.
Diterbitkan oleh Kata Depan pada Januari 2018, Berjalan Jauh adalah buku nonfiksi reflektif yang terdiri dari 51 kisah pendek. Menariknya, buku ini tidak memiliki bab dan tidak perlu dibaca secara berurutan.
Pembaca bisa membuka halaman mana saja dan langsung menemukan cerita yang berdiri sendiri. Ada kisah yang panjangnya hanya satu halaman, bahkan ada yang cuma satu paragraf. Tetapi jangan salah, di balik cerita-cerita singkat itu tersimpan renungan yang dalam.
Isi Buku
Fauzan Mukrim menulis buku ini seperti seorang ayah yang sedang berbicara kepada anaknya. Nada tulisannya hangat, santai, dan tidak menggurui. Ia tidak mencoba terlihat paling bijak, melainkan seperti seseorang yang sedang berbagi pengalaman hidup sambil duduk santai ditemani secangkir kopi.
Karena itu, membaca Berjalan Jauh terasa seperti mendengarkan obrolan pelan yang diam-diam menyentuh hati.
Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah kemampuannya menemukan makna dari hal-hal kecil yang sering kita abaikan. Fauzan bisa mengubah pengalaman sehari-hari menjadi refleksi yang menyentuh.
Misalnya dalam kisah Dua Ayah yang Tidak Bermain Bola. Cerita itu membahas hubungan seorang anak dengan ayahnya yang penuh luka masa kecil. Namun alih-alih tenggelam dalam kemarahan, penulis justru menghadirkan sudut pandang yang menenangkan.
“Apa yang telah kau alami itu akan membuatmu menyayangi anak-anakmu dengan kadar luar biasa, karena kau tahu betapa tidak nyamannya menjadi anak yang tersakiti.”
Kalimat sederhana itu terasa seperti tamparan sekaligus pelukan. Banyak orang tumbuh dengan luka kecil dari masa kanak-kanak, lalu tanpa sadar mengulang luka yang sama kepada anak-anak mereka.
Buku ini mengingatkan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan rasa sakit, tetapi memahami bahwa orang tua kita pun mungkin pernah terluka sebelumnya.
Kelebihan dan Kekurangan
Tidak hanya soal keluarga, Berjalan Jauh juga berbicara tentang empati, kehilangan, perjuangan, dan rasa syukur. Fauzan sering mengambil kisah nyata yang sudah dikenal banyak orang, lalu membingkainya dengan sudut pandang baru.
Salah satunya adalah kisah atlet Derek Redmond yang tetap berjalan menuju garis akhir meski cedera parah, ditemani ayahnya. Dari cerita itu, penulis mengajak pembaca memahami bahwa hidup bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang keberanian menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Yang menarik, hampir semua cerita di buku ini diawali dengan hal-hal sederhana, bahkan kadang terasa melantur. Namun di bagian akhir, pembaca sering dibuat terdiam karena menemukan makna yang tidak disangka. Fauzan seperti sengaja mengajak pembaca berjalan pelan sebelum akhirnya memperlihatkan pesan utama yang diam-diam menghantam perasaan.
Pesan Moral
Selain menyentuh, buku ini juga punya gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Tidak ada istilah rumit atau kalimat bertele-tele. Justru karena kesederhanaannya, pesan-pesan dalam buku ini terasa lebih mengena. Banyak kutipan di dalamnya yang terasa seperti pengingat kecil untuk menjalani hidup dengan lebih manusiawi.
Salah satu kutipan yang paling membekas berbunyi:
“Sayangi ibumu selalu. Untukmu, dia telah menyediakan dua tempat terbaik. Sembilan bulan dalam perutnya dan seumur hidup dalam doanya.”
Ada juga kalimat yang sederhana tetapi begitu menyayat:
“Kata film Korea, kau tak akan pernah tahu kesedihan seorang ayah, karena air matanya hanya akan menetes di gelas kopinya.”
Kalimat-kalimat seperti itu membuat Berjalan Jauh terasa hangat sekaligus sendu. Buku ini tidak berusaha menjadi karya sastra yang rumit, tetapi justru berhasil menyentuh karena kejujurannya.
Secara keseluruhan, Berjalan Jauh adalah buku yang cocok dibaca siapa saja, terutama mereka yang sedang lelah dengan hidup atau mengalami reading slump. Ceritanya pendek-pendek sehingga tidak melelahkan, tetapi tetap meninggalkan kesan mendalam. Buku ini mengingatkan bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang pergi sejauh mungkin, melainkan tentang menemukan diri sendiri di mana pun kita berada.
Kadang, nasihat terbaik memang tidak datang dari kalimat besar yang rumit. Kadang ia hadir lewat cerita sederhana tentang ayah, ibu, luka kecil, dan kebaikan-kebaikan yang hampir terlupakan.
Identitas Buku
- Judul: Berjalan Jauh
- Penulis: Fauzan Mukrim
- Penerbit: Kata Depan
- Tahun Terbit: Januari 2018
- ISBN: 9786026475893
- Tebal: vi+244 halaman
- Kategori: Antologi Cerita Pendek
Baca Juga
-
Bermental Tangguh dan Berprinsip Teguh: Filosofi China di Buku Dao De Jing
-
Mr. Queen (2020): Drama Kerajaan Paling Absurd yang Justru Bikin Nagih
-
Ketika Sastra Menjadi Kritik Sosial: Membaca Cak Nun Lewat Dosa Mencabut Kutukan Tarian Rembulan
-
Supernova dan Revolusi Sastra Populer Indonesia Awal 2000-an
-
Menjelajahi Misteri Alam Semesta dalam Buku The Grand Design
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bermental Tangguh dan Berprinsip Teguh: Filosofi China di Buku Dao De Jing
-
Membaca Tanah Surga Merah Karya Arafat Nur: Satire Sengit Penguasa Daerah
-
Kritik Novel Bukan Perawan Maria: Antara Gagasan Berani dan Narasi Tanggung
-
Yang Bertahan dan Binasa Perlahan: 19 Cerita Getir tentang Wajah Indonesia
-
Aksi Brutal Berbalut Komedi, Mengapa Bullet Train Wajib Masuk Daftar Tontonmu?
Terkini
-
OPPO Find X9s Resmi di Indonesia: Flagship Ringkas dengan Kamera Hasselblad
-
Flash Sale dan Tumpukan Sampah yang Tak Pernah Masuk Keranjang Belanja
-
Anime Yuri!!! on ICE Siap Rayakan 10 Tahun dengan Berbagai Proyek Spesial
-
Kalahkan ITZY, Taeyong NCT Raih Trofi Pertama Music Show Lewat Lagu WYLD
-
Tayang 29 Mei, Yujeong dan Jaejun Bintangi Web Drama Subscription Romance