Langit masih berwarna biru gelap ketika kami tiba di Stasiun Kalisat, Jember. Jam menunjukkan pukul 05.15 WIB saat kereta yang kami tumpangi perlahan melaju, membelah pagi yang masih malu-malu. Saya, istri, dan anak duduk berdampingan, menikmati perjalanan yang terasa begitu istimewa. Di balik jendela, sawah yang diselimuti kabut tipis dan deretan pohon kelapa menjadi pemandangan pembuka hari yang menenangkan.
Perjalanan menuju Stasiun Ketapang Banyuwangi berlangsung sekitar tiga jam, namun terasa singkat karena suasana hati yang penuh antusias. Sesekali anak kami menunjuk ke luar jendela, bertanya tentang apa saja yang ia lihat. Obrolan ringan, camilan sederhana, dan tawa kecil membuat perjalanan ini terasa hangat.
Naik Kereta Api Menuju Banyuwangi
Sekitar pukul 08.30 WIB, kami tiba di Stasiun Ketapang yang merupakan stasiun terakhir di ujung timur Pulau Jawa. Ada rasa haru sekaligus kagum saat menginjakkan kaki di sana. Begitu keluar dari area stasiun, suasana langsung ramai oleh para sopir angkot yang menawarkan jasa antar ke berbagai tujuan, mulai dari pusat kota hingga destinasi wisata.
Namun sebelum melanjutkan perjalanan, kami memilih mengisi energi terlebih dahulu. Di sekitar stasiun, kami menemukan tempat sarapan sederhana dengan hidangan hangat yang menggugah selera. Nasi pecel, teh hangat, dan suasana pagi yang santai menjadi kombinasi yang pas sebelum memulai petualangan. Sementara anak dan istri memilih pesan nasi dan lauk daging ikan tongkol.
Setelah sarapan, kami naik angkot menuju Pantai Cacalan. Perjalanan yang tidak terlalu jauh membawa kami ke sebuah pantai yang bersih dan tertata rapi. Untuk masuk ke area pantai, kami membayar tiket yang cukup terjangkau, sebanding dengan fasilitas yang tersedia. Di sana terdapat area parkir luas, toilet bersih, tempat makan, serta gazebo-gazebo yang tertata rapi di sepanjang pantai.
Momen Naik Kuda Bersama Anak
Salah satu momen paling berkesan terjadi saat anak kami diajak naik kuda. Awalnya, ia menolak keras. Tangisnya pecah, tubuhnya kaku, dan ia terus memeluk ibunya dengan erat. Kami sempat ragu, namun dengan bujukan perlahan dan sedikit drama, akhirnya ia mau mencoba.
Ketika kuda mulai berjalan pelan, ekspresi takut itu perlahan berubah. Tangis berhenti, digantikan rasa penasaran. Tak lama kemudian, ia justru tertawa dan meminta putaran lagi. Dari yang semula menolak, ia malah menjadi ketagihan.
Istirahat di Gazebo
Setelah puas bermain, kami beristirahat di salah satu gazebo. Duduk di atas pondokan kayu yang bersih, kami memandang laut lepas yang berkilau. Angin laut berhembus lembut, menyapu wajah dan rambut, membawa rasa damai yang sulit diungkapkan.
Di momen itu, waktu terasa berjalan lebih lambat. Kami hanya duduk, berbincang ringan, dan menikmati kebersamaan tanpa gangguan. Di situlah kami merasakan mendapat ruang ternyaman.
Menikmati Indahnya Pemandangan di Taman Sritanjung
Perjalanan berlanjut menuju Alun-Alun Kota Banyuwangi. Setibanya di sana, suasana terasa sangat asri. Pepohonan rindang menaungi area taman, sementara bunga-bunga berwarna-warni menghiasi sudut-sudutnya. Kami menuju Taman Sritanjung, ruang terbuka hijau yang berada tepat di jantung kota. Dari sana, tampak megah Masjid Jami’ Banyuwangi berdiri anggun.
Kami makan siang sederhana di sekitar taman, lalu duduk santai menikmati suasana. Anak kami berlarian kecil di antara pepohonan, sementara kami menikmati keteduhan yang jarang ditemui di kota besar. Tempat ini terasa hidup, namun tetap menenangkan.
Jembatan Pantai Boom
Menjelang sore, kami menuju Pantai Boom. Untuk masuk, kami kembali membeli tiket. Fasilitas di pantai ini juga lengkap, mulai dari area ibadah, jalur pedestrian, hingga jembatan ikonik yang menjorok ke laut.
Kami menunaikan salat Zuhur terlebih dahulu, lalu menunggu Asar. Kemudian melenggang santai menuju jembatan yang terkenal itu. Angin laut kembali menyapa, kali ini dengan nuansa yang berbeda. Kami sempat berfoto bersama di atas jembatan, mengabadikan momen yang terasa begitu spesial.
Sambil menunggu matahari terbenam, kami duduk di tepi pantai. Perlahan, langit berubah warna, dari biru cerah menjadi jingga keemasan. Saat matahari mulai tenggelam di cakrawala, suasana menjadi hening dan magis. Cahaya senja memantul di permukaan laut, menciptakan pemandangan yang sulit dilupakan.
Tepat pukul 18.45 WIB kami kembali lagi ke Stasiun Ketapang untuk kembali pulang bersama kereta api. Kami pulang dengan hati yang penuh. Perjalanan singkat ini bukan sekadar liburan, tetapi tentang kebersamaan, keberanian kecil seorang anak, dan keindahan sederhana yang membekas dalam ingatan.
Banyuwangi memberi kami bukan dari sekadar destinasi, namun ia memberi cerita, pengalaman dan warna yang tetap nyala di ingatan.
Baca Juga
-
iPhone 17e Resmi Hadir, Berikut Spesifikasi dan Alasan Mengapa Layak Dibeli
-
LG UltraGear 45GX950A-B, Monitor OLED 45 Inci Cocok untuk Gamer Profesional
-
Masih Hangat!Honor X80 Pro Max Resmi Debut 22 Juni:Usung Baterai 11.000 mAh dan Layar 10.000 Nits
-
Hutan yang Menelan Rahasia dalam Buku Dosa di Hutan Terlarang
-
Membaca Tembang Talijiwo: Seni Menertawakan Kekacauan Hidup
Artikel Terkait
Ulasan
-
Misteri Pembunuhan di Ruangan Tertutup dalam Novel Everything Becomes F
-
Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital
-
Kafka on the Shore: Perjalanan Menemukan Diri di Antara Mimpi dan Kenyataan
-
Ulasan Aku Sebelum Aku: Tamparan Keras untuk Pola Asuh Orang Tua yang Egois
-
Sambal Tumpang: Eksekusi Yin dan Yang dalam Proses Mengolah Tempe Bosoknya
Terkini
-
Jika Argentina Juara, Benarkah Dinasti Baru Sepak Bola Dunia Resmi Dimulai?
-
Membaca, Menunda, Lupa: Ketika Balasan Chat Hanya Berakhir di Kepala
-
Kesenjangan Harga dan Gaji: Mengapa Makanan di Mal Makin Tak Terjangkau?
-
Demon Slayer dan Exit 8 Masuk Nominasi Critics Choice Super Awards 2026
-
Lionel Messi vs Lamine Yamal! Duel Dua Generasi di Final Piala Dunia 2026