Pembahasan mengenai overthinking rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap hari selalu saja ada yang mengangkat topik ini ke ranah publik. Bukan karena lebay, melainkan karena ruminansi ini bisa datang ke siapa saja. Terlebih lagi, bagi mereka yang sedang mengalami krisis seperempat hidup (quarter life crisis).
Bicara tentang pikiran berisik alias overthinking, ada satu buku yang menarik bagiku. Teknik penyampaiannya apik, seakan penulis sedang berbicara langsung kepada pembaca. Buku tersebut berjudul Overthinking is My Hobby and I Hate It karya Alvi Syahrin.
Rangkuman isi buku
Overthinking is My Hobby and I Hate It merupakan karya non-fiksi dengan genre self-improvement islami. Sesuai judulnya, buku ini membedah seluk-beluk pikiran berisik yang sering datang di malam hari. Di dalamnya, ada pembahasan tentang maksud kehadiran overthinking beserta tips untuk mulai menentangnya.
Total ada 45 bab di dalam buku ini. Uniknya, beberapa dari mereka diberi judul dengan pertanyaan khas overthinking, misalnya bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika aku tidak jadi apa-apa? Atau bagaimana jika aku salah mengambil keputusan?
Alvi Syahrin, penulis buku ini, juga menghadirkan ayat-ayat suci Al-Quran di banyak halaman. Keputusan tersebut menyiratkan bahwa Islam juga mengakui bahwa overthinking bisa dialami oleh manusia. Tidak hanya mengakui saja, tetapi juga siap menemani kita yang bersedia untuk melawannya.
Kelebihan dan kekurangan buku
Aku terkejut ketika pertama kali membaca karya ini. Gaya penulisan bukunya tidak seperti yang dibayangkan. Selama ini, aku selalu mengira bahwa karya sejenis pasti berisi kumpulan paragraf panjang yang memenuhi satu halaman. Namun, penulis lulusan Teknik Informatika ini menolak tradisi itu dan memilih jalan yang lain.
Halaman di buku ini hanya memuat paragraf-paragraf singkat. Benar-benar ringkas. Bahkan, ada yang hanya satu paragraf dalam satu halaman.
Bagiku, keputusan ini menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. Format penulisan yang singkat tentu ramah bagi pembaca pemula. Mereka belum terbiasa dengan paragraf panjang yang membuat mata cepat lelah. Oleh sebab itu, karya Alvi Syahrin ini bisa menjadi penyelamat. Sebaliknya, halaman di buku ini menjadi lebih banyak. Boros kertas.
Meski begitu, aku melihat empati dan kepiawaian penulis di setiap halamannya. Ia tidak hanya menjual motivasi, tetapi juga realitas kehidupan yang terkadang tidak baik-baik saja. Penulis kelahiran tahun 1992 ini mengemasnya dengan gaya story telling. Tidak hanya itu, ada pula kumpulan pertanyaan refleksi di beberapa halaman.
Lebih lanjut, setiap kalimat ditulis dengan memperhatikan struktur ejaan dan tata bahasa. Ini yang membuatku sangat terkesan. Ternyata, baku tidak harus kaku. Ia bisa luwes tanpa menyalahi aturan penulisan.
Sayangnya, aspek pengalaman dan subjektivitas sangat menonjol di buku setebal 268 halaman ini. Referensi ilmiah sangat jarang ditemukan. Pun, saran-saran yang diberikan masih cukup general alias umum. Mungkin karena target pembacanya ialah mereka baru mencoba untuk menyerang balik overthinking.
Pelajaran berharga yang didapat dari buku ini
Pertama kali membacanya, aku dibuat terkejut dengan statement yang dikeluarkan oleh Alvi Syahrin. Penulis berpendapat bahwa overthinking merupakan cara otak untuk melindungi diri kita. Sampai di sini, tujuannya baik. Namun, ia sering kali berakhir menjadi posesif dan overprotektif.
Di balik kalimat, “Gimana kalau aku gagal lagi?” sebenarnya overthinking sedang ingin menjaga kita agar tidak terluka dua kali. Nah, inilah yang perlu kita perhatikan. Bukan kata-kata dari overthinking-nya, melainkan apa ingin ia sampaikan.
Menariknya, obatnya juga ada di sana. Takut gagal, misalnya. Apa yang melatarbelakangi kecemasan ini, cari tahu itu. Prosesnya sedikit tidak mengenakkan karena harus berhadapan sisi tersembunyi dari diri kita sendiri. Namun, ini salah satu cara efektif untuk meredam pikiran berisik tersebut.
Tenang saja. Jika kamu merasa bingung harus mulai dari mana, Alvi Syahrin telah menyertakan solusinya. Ada puluhan pertanyaan refleksi yang tersebar di buku ini. Mereka bisa memandu aku, kamu, dan kita untuk bertarung dengan overthinking.
Buku Overthinking is My Hobby and I Hate It cocok dibaca oleh mereka yang ingin berubah. Tidak lagi tunduk pada pikiran yang terus berputar-putar, tetapi mencoba untuk melawannya.
Identitas buku
- Judul: Overthinking is My Hobby and I Hate It
- Penulis: Alvi Syahrin
- Penerbit: Alvi Ardhi Publishing | 2023
- ISBN: 978-623-97002-3-2
- Dimensi buku: 13 × 19 cm | 268 halaman
- Genre buku: Non-fiksi self improvement
Baca Juga
-
Nggak Cuma Plastik! 7 Daun Ini Bisa untuk Membungkus Masakan
-
Lebih Empuk! 5 Cara Mengolah Daging Sapi agar Tidak Alot
-
Awas Terjebak Tren! 5 Mitos Less Waste yang Telanjur Dipercaya
-
Sisi Lain Kehidupan Bu Lira dalam Novel 'Kami (Bukan) Fakir Asmara'
-
Sisi Gelap Unboxing: Adu Cepat Sampai Rumah, Adu Lama Terurai di Tanah
Artikel Terkait
Ulasan
-
The Great Flood: Film Bencana yang Dahsyat dengan Sentuhan Drama Keluarga
-
Drama The Scarecrow dan Potret Kegagalan Sistem Hukum dalam Kasus Hwaseong
-
Ulasan Film Killer Whale: Kisah Teror Sang Penguasa Lautan Yang Mencekam!
-
Ulasan Drama Live Up to Your Youth, Ambisi dan Cinta di Kota Beijing Era-90
-
Tarian Bumi: Eksplorasi Nestapa dan Belenggu Kasta Perempuan di Bali
Terkini
-
Tayang Paruh Kedua, Joy dan Kim Hyun Jin Bintangi One of a Kind Romance
-
TWICE Tutup Tur Terbesar THIS IS FOR dengan Konser Finale 3 Hari di Seoul
-
Dituding Menunggak Pajak, Agensi Ji Chang Wook Buka Suara
-
Murah tapi Nggak Murahan, Ini Smartwatch Terbaik di Harga Rp2 Jutaan
-
Apocalypse Hotel Raih Best Media dan Best Comic di Seiun Awards ke-57