M. Reza Sulaiman | Rahel Sembiring
Suasana di Kampung Sumbul Pegagan, Kab. Dairi (Dok. pribadi/Rahel)
Rahel Sembiring

Sebelum aku merantau ke Batam, rasanya aku dibawa pergi ke mana-mana oleh orang tuaku. Mungkin karena mereka tahu aku akan sangat merindukan Medan. Jadi, sepanjang bulan Januari, jadwal perjalananku penuh, mulai dari Sibolangit sampai yang terjauh ke Dairi—tepatnya ke kampung halaman Opung.

Sebagai informasi, Ibuku bersuku Batak Toba, sedangkan Bapak berasal dari Batak Karo. Kebetulan saat itu, aku diajak oleh Tulang (paman) dan ada abangku juga yang sedang pulang ke Medan. Akhirnya aku, Bapak, dan Abang memutuskan untuk berangkat ke rumah Opung seminggu setelah perayaan Tahun Baru.

Karena Mama tidak ikut, kami menyewa mobil untuk perjalanan dari Medan menuju Sumbul yang memakan waktu kurang lebih lima jam. Udara semakin lama semakin menusuk tulang. Walaupun kata Bapak suhunya sudah tidak sedingin dulu karena pemanasan global, tetap saja aku harus memakai jaket. Abangku bahkan sampai mual selama di jalan. Kami membawa buah tangan berupa kelapa dan duku untuk dibagikan kepada saudara di kampung.

Begitu sampai, Opung langsung menyambut kami dengan hangat. Terakhir kali aku ke sini saat masih semester empat, dan sekarang aku sudah tamat kuliah. Banyak perubahan yang kurasakan; anak-anak yang dulu kulihat masih kecil, kini sudah SMP. Ada juga yang sudah merantau, sehingga suasana kampung terasa semakin sepi.

Beruntung, Tulang (adik Mama yang lain) tetap tinggal di rumah untuk menjaga Opung, jadi beliau tidak sendirian. Sesampainya di sana, kami langsung mencicipi kembang loyang buatan Opung. Rasanya enak sekali. Aku sangat salut; meski usianya sudah tua, Opung selalu menyempatkan diri membuat kembang loyang sendiri setiap tahunnya.

Malam harinya, aku tidur bersama Opung di kamarnya di atas dipan kayu yang dilapisi tikar tebal, sementara yang lain tidur di ruang tamu. Karena udara malam itu sangat dingin bagi orang yang tidak tahan dingin sepertiku, aku meminta selimut dobel kepada Opung. Rasanya sangat menyenangkan bisa tidur nyenyak di samping beliau. Opung memang punya banyak persediaan selimut dan bantal karena rumah masa kecil Mama ini memang selalu siap menyambut saudara yang datang berkunjung.

Bagi kami, mengunjungi Opung dari pihak Mama adalah hal wajib karena Opung dari pihak Ayah sudah meninggal dunia. Satu hal yang menjadi tantangan di kampung adalah airnya. Ada aliran air dari pegunungan, namun karena sudah lama, airnya menjadi agak keruh. Namun, warga tetap memanfaatkannya karena di sini memang tidak ada layanan air PAM atau sumur bor—murni mengandalkan air pegunungan.

Keesokan harinya, Opung bersiap memasak ayam kampung untuk kami. Sudah menjadi tradisi, siapa pun yang datang berkunjung, Opung pasti akan memotong ayam peliharaannya sendiri. Kami turut membantu di dapur sambil berbagi cerita. Bagiku, dapur Opung adalah tempat yang paling nyaman (cozy). Tipikal dapur perkampungan yang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak air atau sekadar menghangatkan badan, meskipun kompor gas juga tersedia. Aku sangat suka duduk di dekat perapian sambil mengobrol santai dengan Opung.

Setelah hidangan siap dan kami beristirahat sejenak, kami harus melanjutkan perjalanan pukul tiga sore menuju Sibeabea. Karena mobil yang kami sewa hanya untuk dua hari, dengan berat hati kami harus berpamitan dengan Opung dan saudara lainnya. Opung pun membekali kami dengan banyak oleh-oleh seperti durian, cabai, dan bawang.

Pada akhirnya, kehangatan cinta Opung tidak akan pernah terlupakan. Aku sangat bersyukur, sebelum merantau, aku sempat berpamitan dan memohon doa terbaik dari Opung.