Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Poster film Songko (IMDb)
Ryan Farizzal

Industri perfilman horor Indonesia belakangan ini tengah gencar menggali kekayaan urban legend dari berbagai pelosok Nusantara. Setelah sukses mengeksplorasi mitos dari Jawa dan Kalimantan, kini giliran Sulawesi Utara yang unjuk gigi melalui film horor terbaru berjudul Songko.

Disutradarai oleh Gerald Mamahit, film ini tidak hanya menawarkan ketakutan visual yang mencekam, tetapi juga sebuah narasi yang berakar kuat pada tradisi dan ketakutan kolektif masyarakat Minahasa.

Tahun 1986: Isolasi dan Teror yang Menghimpit

Tangkapan layar adegan di film Songko (youtube.com/CINEMA 21)

Berlatar pada pertengahan tahun 1980-an, tepatnya sekitar tahun 1986, Songko membawaku ke sebuah desa terpencil di tanah Minahasa.

Cerita berfokus pada Mikha (Annette Edoarda) dan keluarganya yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika mereka diusir oleh warga desa.

Penyebabnya adalah tuduhan berat terhadap ibu tirinya, Helsye (Imelda Therinne), yang dianggap sebagai perwujudan dari Songko—sesosok entitas gaib berjubah hitam yang melegenda.

Dalam mitologi setempat yang diangkat film ini, Songko digambarkan sebagai makhluk haus darah yang mengincar gadis-gadis remaja untuk dihisap energinya.

Atmosfer tahun 80-an digarap dengan sangat apik, memberikan kesan nostalgia sekaligus isolasi yang menambah rasa ngeri.

Ketegangan memuncak ketika teror Songko ternyata tidak berhenti meskipun keluarga Mikha sudah diasingkan, memicu pertanyaan besar: apakah Helsye benar-benar sang iblis, atau ada kekuatan lain yang lebih gelap yang sedang bermain?

Ulasan Film Songko

Tangkapan layar adegan di film Songko (youtube.com/CINEMA 21)

Satu hal yang menonjol dari Songko adalah keberaniannya untuk tidak hanya mengandalkan jump scare murahan. Gerald Mamahit, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis skenario horor bertangan dingin, memberikan perhatian lebih pada pengembangan psikologis karakternya.

Mikha (Annette Edoarda) penampilannya sangat solid sebagai pusat emosional cerita. Ia berhasil memerankan sosok remaja yang terjepit di antara kesetiaan pada keluarga dan ketakutan yang rasional terhadap lingkungan sekitarnya.

Kemudian Helsye (Imelda Therinne) memberikan performa yang sangat ambigu. Tatapan matanya yang dingin namun rapuh membuatku terus menebak-nebak statusnya hingga babak akhir film. Kehadirannya memberikan elemen misteri yang kuat, mengubah genre horor ini menjadi sebuah thriller domestik yang menegangkan.

Selain itu teror sosial dari film ini juga menyentuh aspek sosiologis tentang bagaimana sebuah komunitas bisa menjadi sangat kejam ketika didorong oleh ketakutan dan takhayul. Pengusiran keluarga Mikha menjadi cerminan tentang betapa mudahnya stigma menghancurkan kehidupan seseorang.

Secara visual, Songko memanfaatkan keindahan sekaligus kemuraman alam Manado dan Tomohon. Pengambilan gambar selama 14 hari di lokasi asli memberikan otentisitas yang tidak bisa digantikan oleh set studio.

Penggunaan palet warna yang cenderung earthy dan gelap mendukung mood tahun 80-an yang suram. Desain suara juga patut diacungi jempol. Suara gemerisik jubah hitam Songko dan keheningan hutan Minahasa di malam hari dibangun sedemikian rupa untuk membuatku dan penonton yang lain merasa tidak nyaman duduk di kursi.

Gerald Mamahit berhasil membangun suspense secara perlahan (slow burn), yang merupakan perubahan segar di tengah gempuran film horor aksi yang berisik.

Menurutku, kekuatan utama film ini terletak pada orisinalitas materinya. Mengangkat legenda Minahasa memberikan warna baru bagi penonton Indonesia yang mungkin sudah mulai jenuh dengan premis horor religius atau kutukan kain kafan yang dominan di pasar.

Detail budaya yang dimasukkan ke dalam dialog dan tradisi yang ditampilkan memperkaya nilai produksi film ini. Akan tetapi, buat kamu yang mengharapkan intensitas horor yang konsisten dari awal hingga akhir, Songko mungkin terasa sedikit lambat di bagian pertengahan.

Fokus pada drama keluarga terkadang mengalihkan fokus dari elemen supranaturalnya. Meskipun begitu, konklusi cerita yang mengejutkan mampu membayar tuntas kesabaranku kok.

Songko bukan sekadar film horor tentang hantu yang menakut-nakuti manusia. Ini adalah sebuah eksplorasi tentang trauma, prasangka, dan legenda yang hidup di tengah masyarakat.

Dengan durasi sekitar 108 menit, film ini berhasil menyajikan paket lengkap antara kualitas akting, penyutradaraan yang matang, dan sinematografi yang memanjakan mata.

Film ini sangat sangat aku rekomendasikan bagi penggemar horor yang menghargai cerita yang dalam dan atmosfer yang kuat. Ini adalah bukti bahwa talenta sutradara baru seperti Gerald Mamahit mampu membawa angin segar bagi sinema horor Indonesia.

Buat kamu yang pengin menyaksikan teror jubah hitam dari Minahasa ini, film Songko resmi mulai ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 23 April 2026.

Nah kamu bisa menonton film ini di hampir seluruh jaringan bioskop besar di tanah air, antara lain di Cinema XXI / 21, CGV Cinemas(Tersedia dalam format 2D), Cinépolis, Platinum Cineplex, New Star Cineplex (NSC) dan Kota Cinema Mall.

Pastikan untuk segera memesan tiket melalui aplikasi daring atau langsung di loket bioskop terdekat, karena minat masyarakat terhadap film horor berbasis legenda daerah ini terpantau sangat tinggi di pekan perdana penayangannya. Selamat menonton dan bersiaplah untuk menghadapi teror Songko!