M. Reza Sulaiman | Athar Farha
Scene dalam Film Another World (IMDb)
Athar Farha

Langit berwarna cerah, dunia fantasi yang menawan, desain karakter yang lembut, serta janji akan petualangan yang menyenangkan. Kesan itulah yang muncul ketika pertama kali menonton film animasi Another World. Film yang tayang perdana di ajang Annecy International Animation Film Festival 2025 dalam program Midnight Specials ini, kini telah dirilis secara luas dan menyita perhatian banyak penonton.

Namun, di balik tampilan visualnya yang manis, adaptasi novel karya Naka Saijo ini rupanya menyimpan kisah yang jauh lebih berat dari yang terlihat di permukaan. Naskah racikan Polly Yeung dengan berani mengeksplorasi tema kematian, kehilangan, penyesalan, trauma, hingga perjuangan manusia untuk berdamai dengan masa lalunya.

Film ini menghadirkan deretan pengisi suara papan atas, di antaranya:

  • Chung Suet-ying sebagai Gudo
  • Christy Choi Hiu-tung sebagai Yuri
  • Kay Tse sebagai Dewi Mira
  • Louis Cheung dan Will Or Wai-lam sebagai Keung

Ceritanya berpusat pada Gudo, seorang pemandu roh yang bekerja di Another World—sebuah alam perantara antara kehidupan dan kematian tempat para jiwa menunggu sebelum bereinkarnasi. Tugas Gudo adalah membantu roh-roh yang baru meninggal agar bisa melepaskan keterikatan duniawi mereka. Jika gagal, emosi negatif yang terus dipendam roh tersebut dapat mengubah mereka menjadi makhluk mengerikan yang disebut Wraths.

Konflik utama dimulai ketika Gudo bertemu Yuri, seorang gadis yang menolak melanjutkan perjalanan ke alam baka karena bersikeras ingin menemukan saudara laki-lakinya yang telah meninggal. Pertemuan ini menyeret mereka ke dalam antologi kisah para roh yang masih terbelenggu oleh luka, rasa bersalah, dan kenangan.

Kontras Tajam: Visual Memesona vs Realitas Pahit

Keberanian kreator dalam menciptakan kontras yang tajam antara visual dan isi cerita sungguh membekas. Saya merasa film ini sengaja "menipu" penonton sejak menit pertama.

Dunia yang ditampilkan terlihat begitu damai; warna-warni cerah memenuhi layar, lanskap fantasinya digambarkan dengan detail yang memanjakan mata, dan karakter-karakternya memiliki desain yang hangat. Sekilas, semuanya tampak seperti ruang aman untuk ditinggali. Lalu, perlahan film mulai mengupas lapisan demi lapisan kesedihan yang tersimpan di balik keindahan tersebut.

Di dunia yang tampak utopis itu, rupanya berkeliaran jiwa-jiwa yang membawa luka mendalam. Ada yang meninggal dengan membawa penyesalan, kehilangan orang yang dicintai, hingga menjadi korban tragedi. Bahkan, beberapa plot menyinggung tema yang sangat kelam, seperti bunuh diri, kematian saat melahirkan, dan trauma pascaperang.

Estetika Kesedihan dan Luka yang Tersembunyi

Makin lama menonton, makin terasa bahwa warna-warni dunia Another World bukanlah simbol kebahagiaan. Sebaliknya, keindahan visual tersebut berfungsi sebagai latar belakang ironis yang justru mempertegas kesedihan para karakternya.

Menurut saya, inilah keputusan artistik paling genius dari film ini. Jika Another World didesain dengan nuansa gelap, suram, dan menakutkan sejak awal, penonton mungkin sudah memasang "kuda-kuda" emosional untuk menghadapi cerita yang menyedihkan. Namun, ketika tragedi ditempatkan di tengah dunia yang begitu cantik, hantaman emosionalnya terasa jauh lebih telak.

Film ini seakan mengingatkan kita bahwa penderitaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang menyeramkan. Sering kali, luka terbesar tersembunyi rapi di balik hal-hal yang terlihat baik-baik saja.

Kontras ini tercermin paling kuat pada karakter Yuri. Secara visual, ia tampil layaknya karakter animasi yang lembut dan menggemaskan. Namun, di balik kepolosannya, Yuri menyimpan duka yang begitu masif hingga membuatnya berani menentang hukum alam. Makin keras Yuri mempertahankan kenangan tentang saudaranya, makin kita menyadari bahwa kesedihan bisa menjadi sesuatu yang indah sekaligus merusak. Kenangan memang membuat kita tetap terhubung dengan orang yang dicintai, tetapi di saat yang sama, ia bisa menjadi rantai yang menghalangi kita untuk melangkah maju.

Lebih dari Sekadar Film tentang Kematian

Konsep monster bernama Wraths juga memperkukuh gagasan tersebut. Makhluk-makhluk ini lahir dari emosi negatif yang tidak terselesaikan. Menariknya, mereka muncul merusak di dunia yang secara visual tetap tampak memesona. Sekali lagi, film ini menolak menggunakan metafora yang klise: monster tidak lahir dari tempat gelap, melainkan dari luka batin yang tidak pernah diobati.

Karena itulah, saya merasa Another World pada intinya bukanlah film tentang kematian. Film ini adalah sebuah studi mendalam tentang kesedihan—tentang bagaimana manusia merawat rasa kehilangan dan bagaimana kenangan bisa menjadi sumber kekuatan sekaligus penderitaan. Mengingatkan kita perihal seseorang yang bisa terlihat baik-baik saja di luar, tetapi menyimpan badai besar di dalam dirinya.

Mungkin itulah alasan mengapa momen-momen emosional dalam Another World terasa begitu membekas. Film ini tidak berusaha memeras air mata penonton dengan cara yang berlebihan. Ia hanya menyodorkan satu realitas sederhana: kesedihan dan keindahan sering kali berjalan berdampingan.

Pada akhirnya, Another World berhasil membuktikan bahwa film animasi tidak harus memilih antara memanjakan mata atau menyentuh jiwa. Karya ini mampu menghadirkan keduanya secara brilian. Dunia fantasinya memanjakan mata, sementara realitas kisahnya perlahan menghancurkan hati. Sebuah mahakarya kontras yang menunjukkan bahwa dunia yang paling indah sekalipun tetap bisa menjadi panggung bagi cerita yang paling menyayat hati.