Di tangan Sutradara Kristoffer Borgli, Film The Drama yang rilis 22 April 2026 di Indonesia, menjelma jadi sesuatu yang jauh dari bayangan film romansa pada umumnya. Film ini nggak menawarkan kisah cinta yang legit lho. Sebaliknya, film ini ibarat eksperimen emosional yang sengaja dirancang untuk membuat penonton gelisah. Bukan karena ‘apa yang terjadi’, tapi karena ‘bagaimana memikirkan apa yang terjadi’.
Diproduksi A24 dan dibintangi Zendaya serta Robert Pattinson, film ini bermain di wilayah yang jarang disentuh, yakni perihal persepsi yang tumbuh liar di dalam kepala.
Cerita dimulai dengan sangat simpel, scene menunjukkan Charlie menarik perhatian Emma dengan mengamati buku apa yang tengah Emma baca di kafe. Begitulah kira-kira awal pertemuan mereka.
Dan di masa kini, Emma yang kupingnya tuli sebelah dan Charlie, merupakan pasangan yang tinggal menghitung hari menuju pernikahan. Hubungan mereka terlihat stabil, bahkan terlalu tenang untuk ukuran drama. Nggak ada pertengkaran besar, nggak ada konflik mencolok. Semua terasa seperti sudah pada tempatnya. Sampai akhirnya, di suatu malam, ada percakapan santai yang membuka rahasia.
Dalam sesi curhat bersama saat double date, Emma mengungkapkan masa lalunya, dia pernah berniat melakukan penembakan massal di sekolah. Namun, dia nggak pernah melakukannya. Niat itu hanya berhenti di pikirannya, yang lewat di masa ketika dia merasa terasing.
Namun, pengakuan itu, pada akhirnya mengubah segalanya. Di titik ini, Film The Drama mulai berubah arah. Bukan Emma yang berubah, tapi cara Charlie melihat dan menilai kekasihnya.
Film The Drama Mulai Terasa Provokatif
Kristoffer Borgli kelihatan nggak tertarik membesar-besarkan kejadian sih. Malahan dia menggali sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana satu informasi bisa berkembang menjadi ketakutan yang jauh lebih besar dari kenyataannya. Yup, Charlie mulai mempertanyakan segalanya. Bukan hanya masa lalu Emma, tapi juga setiap detail kecil yang sebelumnya terasa normal.
Tatapan jadi berbeda. Diam jadi lebih panjang. Pikiran mulai dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang nggak pernah benar-benar terjadi.
Film ini seperti sengaja mendorong penonton ikut masuk ke dalam kepala Charlie. Tempat di mana logika perlahan kehilangan kendali, dan suuzon mengambil alih.
Eksplorasi sinematiknya terasa liar, tapi terarah. Editing yang nggak stabil, potongan adegan yang terasa meloncat, dan ritme yang sengaja dibuat nggak nyaman menciptakan pengalaman yang hampir seperti mimpi buruk yang samar. Kita nggak selalu tahu mana yang nyata dan mana yang hanya ada di pikiran Charlie.
Kentara banget pesan film ini, tentang ketakutan terbesar manusia yang seringkali bukan berasal dari fakta, tapi dari interpretasi.
Yup, Emma tetap orang yang sama seperti sebelumnya. Namun, di mata Charlie, Emma mulai berubah jadi sesuatu yang asing, bukan karena apa yang dia lakukan, tapi karena apa yang mungkin pernah tebersit dalam niat buruknya.
Yang membuat film ini semakin menarik adalah cara menyelipkan humor gelap di tengah ketegangan lho.. Bukan humor yang dibuat untuk menghibur, tapi lebih ke gambaran. kecanggungan manusia saat menghadapi sesuatu yang terlalu berat.
Ada momen-momen di mana para karakter mencoba bersikap biasa saja setelah pengakuan itu, tapi malah terlihat semakin aneh. Percakapan terasa dipaksakan, respons jadi nggak natural, dan semua orang seperti berjalan di atas permukaan yang rapuh. Kita mungkin akan tertawa kecil, tapi bukan karena benar-benar lucu, melainkan karena situasinya terlalu canggung untuk diproses dengan cara lain.
Film The Drama pada akhirnya bukan tentang rahasia itu sendiri, tapi tentang apa yang terjadi setelahnya. Tentang bagaimana satu pengakuan bisa membuka ruang terliar yang berkembang tanpa batas.
Dan setelah melewati banyak momen drama yang intensitasnya naik saat di acara pernikahan, film ini berakhir dengan … bisa dibilang kembali ke awal meski yang pecah nggak akan pernah pulih polos kembali.
Sudahkah Sobat Yoursay nonton Film The Drama? Buat para calon pengantin, ini recommend anget lho. Selamat nonton ya.
Baca Juga
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Review Last Seen: Thriller yang Menekan Emosi, Bukan Cuma Twist Saja
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
-
Simbolisme Angel dan Lucifer, Detective Conan: Fallen Angel of the Highway
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit
-
Drama Korea Would You Marry Me?: Pernikahan Palsu demi Rumah Mewah
-
Belajar Tidak Menilai Orang dari Luarnya lewat Novel Senior
Terkini
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
-
Ultimatum Keras Erick Thohir! Timnas Indonesia Harga Mati Juara FIFA ASEAN Cup 2026
-
Kulit Remaja Bebas Jerawat Tanpa Kuras Dompet! 4 Acne Serum Rp30 Ribuan
-
Buat Kaget! Hoshi SEVENTEEN Alami Cedera Lutut saat Ikuti Wajib Militer