Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Buku Lupa Endonesa karya Sujiwo Tejo (Mojok Store)
Fathorrozi 🖊️

Ingatlah pesan Semar, "Tahukah kalian pekerjaan yang paling sia-sia di muka bumi, yaitu memberi nasihat kepada orang-orang yang sedang jatuh cinta..." (Sujiwo TejoLupa EndonesaHalaman 179).

Buku Lupa Endonesa karya Sujiwo Tejo terasa seperti sebuah pertunjukan wayang yang tak pernah benar-benar selesai. Ia mengalir seperti obrolan santai di warung kopi, namun diam-diam menyusupkan kegelisahan yang dalam.

Dengan gaya khasnya yang nyeleneh, jenaka, sekaligus tajam, Sujiwo Tejo menghadirkan kritik sosial-politik yang tidak menggurui, tetapi justru membuat pembaca tersenyum getir.

Sejak halaman awal, saya seperti diajak masuk ke ruang ngelindur, kondisi setengah sadar di mana segala hal bisa diucapkan tanpa batas. Melalui konsep Wayang Durangpo (ngelindur bareng Ponokawan), buku ini menghadirkan tokoh-tokoh pewayangan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong dalam setting yang sangat kontekstual dengan Indonesia masa kini. Mereka bukan sekadar tokoh hiburan, melainkan suara rakyat kecil yang jujur, polos, dan sering lebih bijak daripada para pemimpin.

Isi buku ini berupa kumpulan esai dengan cerita pendek yang dibagi dalam beberapa tema besar, mulai dari cinta tanah air hingga kritik terhadap kekuasaan dan uang.

Salah satu bagian yang paling membekas bagi saya adalah kisah Unjuk Rasa Badut-badut. Dalam cerita ini, Ponokawan yang kehilangan pekerjaan sebagai seniman mencoba berdemo, bahkan sampai membayar demonstran. Namun ironi muncul ketika para demonstran justru datang untuk mengapresiasi pejabat yang mereka anggap lebih lucu. Di titik ini, saya merasa tertawa sekaligus tercekat. Sindiran telak tentang bagaimana realitas kerapkali lebih absurd daripada satire itu sendiri.

Keberanian Sujiwo Tejo dalam membongkar berbagai persoalan bangsa, seperti korupsi, manipulasi media, ketidakadilan hukum, hingga fenomena demonstrasi bayaran, menjadi kekuatan utama buku ini. Namun semua itu dibungkus dalam humor yang segar, sehingga tidak terasa berat. Justru dari kelucuan itulah muncul kesadaran yang perlahan mengendap. Saya merasa buku ini seperti cermin. Tidak selalu nyaman untuk dilihat, tetapi penting untuk disadari.

Bahasa yang digunakan cenderung ringan, bercampur dengan istilah Jawa yang kadang membutuhkan pemahaman tambahan. Bagi sebagian pembaca, ini mungkin menjadi tantangan. Namun bagi saya, justru di situlah letak keunikannya. Bahasa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara budaya lokal dan isu global. Catatan kaki yang disediakan juga cukup membantu untuk memahami konteks.

Selain kritik sosial, buku ini juga menyelipkan nilai-nilai filosofis dan spiritual. Ada pembahasan tentang makna ibadah, kemanusiaan, hingga kepemimpinan yang ideal.

Dalam salah satu bagian, dijelaskan bahwa menjadi manusia bukan soal wujud, melainkan esensi. Pesan-pesan seperti ini terasa sederhana, tetapi sangat relevan di tengah kondisi masyarakat yang sering kali kehilangan arah.

Sebagai pembaca, saya merasakan pengalaman yang campur aduk. Tertawa, merenung, bahkan kadang merasa tersindir. Buku ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak berpikir kritis. Ia tidak memberikan jawaban, melainkan memancing pertanyaan tentang siapa kita sebagai bangsa, dan sejauh mana kita telah lupa terhadap nilai-nilai yang seharusnya dijaga.

Sekalipun begitu, buku ini bukan tanpa kekurangan. Alur cerita yang kadang meloncat-loncat dan referensi pewayangan yang cukup kental bisa membuat pembaca awam merasa sedikit tersesat. Namun jika dibaca dengan santai, justru ketidakteraturan itu menjadi bagian dari pesonanya, seperti mimpi yang liar, tetapi penuh makna.

Intinya, Lupa Endonesa bukan sekadar buku, melainkan pengingat. Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan bangsa, dan bertanya, apakah kita benar-benar masih ingat siapa diri kita?

Identitas Buku

  • Judul: Lupa Endonesa
  • Penulis: Sujiwo Tejo
  • Penerbit: Bentang, Yogyakarta
  • Cetakan: I, Edisi II, Mei 2021
  • Tebal: 218 Halaman
  • ISBN: 978-602-291-805-9
  • Genre: Kumpulan Esai, Nonfiksi