Media sosial hari ini semakin tidak bisa terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Saat penat dengan rutinitas sekolah, kuliah, bekerja, atau sekadar mengisi waktu luang, scrolling menjadi aktivitas paling sederhana untuk mengalihkan pikiran.
Kita membuka Tiktok, Instagram, X, atau media sosial lain tanpa tujuan yang terlalu serius—bahkan sering kali hanya untuk melihat sesuatu yang ringan dan menyenangkan.
Namun, tidak jarang beberapa menit setelah itu, yang muncul justru bukan rasa terhibur, melainkan perasaan aneh yang sulit dijelaskan: gelisah, tidak tenang, bahkan kadang merasa tertinggal.
Saya pribadi sering mengalami hal seperti ini. Aktivitas yang mulanya hanya melihat video lucu, update teman, atau konten-konten santai, lama-lama layar dipenuhi orang-orang yang tampak produktif, berbagai pencapaian yang mengesankan, hingga kehidupan yang tampak baik-baik saja.
Tanpa sadar, scrolling yang seharusnya menjadi kegiatan santai yang menghibur, malah berubah jadi mengamati hidup orang lain. Alih-alih merasa terhibur, pikiran malah semakin terbebani.
Saat melihat orang lain di usia yang sama telah berhasil di bidang tertentu, saya mendadak mempertanyakan hidup sendiri. Lalu ketika melihat orang lain membagikan berbagai karyanya, saya merasa bersalah karena belum melakukan banyak hal.
Bahkan sekadar melihat orang lain yang tampak menikmati hidupnya pun, membuat saya terkadang bertanya ke diri sendiri, “Mengapa hidup saya terasa begini-begini saja?”
Rasanya memang sedikit berlebihan, tapi itu benar-benar terjadi. Mungkin, bukan hanya saya yang mengalaminya di tengah derasnya arus media sosial hari ini. Dari fenomena tersebut, kemudian membuat saya perlahan tersadar bahwa proses membandingkan diri saat scrolling itu terjadi dengan begitu halus.
Hanya dengan melihat berbagai hal, pikiran kita diam-diam sedang menghitung dan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan yang orang lain tunjukkan di media sosial.
Di saat yang sama, kita merasa sekadar menikmati konten, tapi tanpa sadar sebenarnya kita juga sedang menilai apakah hidup kita sudah cukup menarik, cukup produktif, atau cukup berhasil dibanding apa yang terlihat di layar.
Tetapi sekarang yang menjadi pertanyaan saya: apakah ini adalah hal yang wajar di era ketika scrolling sudah menjadi kebiasaan yang sulit dijauhkan dari kehidupan?
Eva Alicia—seorang kreator konten self-development—membahas kebiasaan membandingkan diri dalam salam salah satu videonya. Ia menyebutkan bahwa rasa tidak tenang melihat kehidupan orang lain sering kali muncul bukan karena kita benar-benar tak punya apa-apa, tetapi karena ego yang merasa terganggu saat melihat orang lain tampak lebih dulu berhasil.
Kalimat itu terasa sangat menampar bagi saya. Sebab memang benar, kegelisahan itu muncul karena kita terlalu banyak melihat pencapaian orang lain di waktu singkat, saat kita sendiri sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja—lelah sepulang kerja, sedang penat dengan tugas kuliah, atau saat kita sedang tidak dalam mode produktif.
Padahal, media sosial tidak pernah menunjukkan hidup seseorang secara utuh. Orang-orang sering kali hanya membagikan potongan-potongan terbaik dalam hidup mereka: kabar bahagia, hasil karya yang mengesankan, produktivitas tanpa henti, momen pencapaian, dan hal-hal enak lainnya.
Sementara di sisi lain, kita tidak melihat momen ketika mereka gagal, sedih, menangis, atau bahkan bingung tidak tahu harus melangkah ke mana.
Hal itulah yang akhirnya memunculkan perbandingan yang tak seimbang. Kita melihat potongan kebahagiaan orang lain di saat kondisi diri sendiri masih berantakan.
Mungkin itu pulalah yang menyebabkan perasaan tertinggal sering muncul begitu cepat pada saat kita scrolling. Bukan semata-mata karena kita kurang bersyukur, tetapi karena kita terlalu sering dipertemukan dengan standar hidup orang lain.
Lantas, apa ini wajar? Saya rasa sangat wajar, apalagi di tengah keberadaan media sosial yang membuat kita terus-menerus melihat kehidupan orang lain.
Hanya saja, di sini kita perlu menyadari bahwa terlalu lama berada di ruang yang penuh pencapaian orang lain, hanya akan membuat kita semakin merasa tertinggal. Alih-alih sibuk untuk mengembangkan potensi diri, kita malah sibuk overthinking dan terus merasa kurang.
“Energi yang kamu pakai untuk iri itu, gunakanlah untuk dirimu sendiri.”
Kurang lebih itu diucapkan oleh Eva dalam penutup videonya. Kedengarannya memang sangat sederhana, tapi saya rasa kita perlu ingat baik-baik kalimat tersebut.
Sebab selama ini, kita telah menghabiskan begitu banyak energi untuk melihat bagian kecil kehidupan orang lain. Padahal di saat yang sama, kita bisa melakukan hal-hal yang jauh lebih produktif dan membuat diri kita berkembang lebih jauh.
Baca Juga
-
Menyoal Urgensi Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat, Apa Sebenarnya Prioritas Pendidikan Kita?
-
Episode 5 dan 6 The Scarecrow Bikin Penonton Ikut Mikir Keras
-
Drama Korea Karma: Jalinan Dosa, Rahasia, dan Takdir yang Sulit Dihindari
-
Siswa SMK Bukan Hanya Calon Tenaga Kerja, Tapi Juga Anak yang Perlu Dijaga
-
Menikmati Angin Syahdu di Masjid Agung Kediri, Diskusi Sore Penuh Makna
Artikel Terkait
-
Scroll LinkedIn Terus, Kenapa Malah Jadi Insecure?
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
-
Sebar Propaganda Lewat Medsos, Densus 88 Tangkap 8 Terduga Teroris Jaringan JAD di Sulteng!
-
Di Era Flexing, Hidup Sederhana Malah Terlihat Memalukan
-
Validasi di Media Sosial: Kebutuhan atau Ketergantungan yang Tak Disadari?
Kolom
-
Scroll LinkedIn Terus, Kenapa Malah Jadi Insecure?
-
Menyoal Urgensi Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat, Apa Sebenarnya Prioritas Pendidikan Kita?
-
Batasan Pertemanan Lawan Jenis: Masih Relevankah di Tengah Era Kebebasan Saat Ini?
-
Tren 'Kicau Mania' dan Suara Burung yang Tak Lagi Saya Dengar
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Terkini
-
Satire di Balik Tawa: Membaca Indonesia Lewat Buku Esai Lupa Endonesa
-
Berjudul The One Piece, Anime Versi Remake Akan Tayang 2027 di Netflix
-
4 HP Flagship Dimensity 9500: Spek Dewa, Siap Libas Game Berat
-
Cinta Habis di Orang Lama: Romansa Pahit ala The Girl Called Feeling
-
Misteri Berdarah di Istana Joseon: Intrik Politik dalam The Red Palace