Membaca buku bertema penyihir, tragedi, dan sejarah selalu membuat saya bersyukur. Betapa beruntungnya saya terlahir di era dengan kesadaran akan kesehatan mental dan informasi yang bisa diakses semudah mengetukkan jari.
Saya kerap membayangkan, apa jadinya saya bila terlahir di era dalam buku-buku ini. Mungkin nasib saya sama seperti para penyihir yang dibakar hidup-hidup.
Nama Gabriel García Márquez hampir selalu identik dengan realisme magis. Gaya bercerita yang memadukan kenyataan pahit dengan unsur surealis yang terasa begitu alami.
Dalam novel Of Love and Other Demons atau Tentang Cinta dan Demit-Demit Lainnya, ia kembali menghadirkan dunia yang penuh ironi, cinta tragis, dan kritik sosial yang tajam. Novel terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2023 ini memperlihatkan bagaimana ketakutan manusia sering kali lebih mematikan daripada penyakit itu sendiri.
Sinopsis Novel
Cerita berlatar di kota pelabuhan Kolombia abad ke-18, masa ketika masyarakat masih hidup di bawah bayang-bayang kolonialisme, dominasi gereja, dan kepercayaan takhayul.
Semuanya bermula ketika seekor anjing gila menggigit empat orang. Tiga meninggal, sementara satu-satunya yang selamat adalah Sierva María de Todos los Ángeles, gadis bangsawan berusia dua belas tahun yang tumbuh dalam lingkungan tidak biasa.
Meski berasal dari keluarga aristokrat, Sierva María praktis dibesarkan oleh para budak Afrika di rumah ayahnya, Marquis de Casalduero. Ia lebih dekat dengan budaya para budak dibanding dunia bangsawan Spanyol tempat ia seharusnya berada. Rambutnya panjang terurai, perilakunya liar, dan ia menguasai berbagai bahasa budak Afrika. Di mata masyarakat kolonial yang fanatik, semua itu sudah cukup untuk membuatnya dianggap aneh.
Ketika Sierva María tidak menunjukkan gejala rabies setelah gigitan anjing, masyarakat mulai percaya bahwa ia bukan sekadar selamat, melainkan kerasukan roh jahat. Desas-desus berkembang cepat. Ketakutan kolektif berubah menjadi vonis sosial. Gadis kecil itu akhirnya dikirim ke biara untuk menjalani ritual pengusiran setan.
Di sinilah Márquez mulai memperlihatkan kritiknya terhadap institusi agama dan kekuasaan. Bukannya menyembuhkan, biara justru menjadi tempat penyiksaan psikologis dan fisik. Sierva María diperlakukan seperti makhluk berbahaya, bukan manusia yang membutuhkan pertolongan. Ketakutan atas “iblis” perlahan berubah menjadi legitimasi untuk mengendalikan tubuh dan pikiran seseorang.
Tokoh penting lain muncul lewat Pastor Cayetano Delaura, imam yang ditugaskan melakukan eksorsisme. Awalnya ia datang sebagai representasi gereja dan logika religius. Namun setelah mengenal Sierva María, ia mulai menyadari bahwa gadis itu tidak kerasukan. Yang terjadi justru sebaliknya: masyarakatlah yang dirasuki ketakutan dan prasangka.
Hubungan antara Sierva María dan Delaura menjadi inti emosional novel ini. Namun Márquez tidak menulisnya sebagai kisah cinta romantis biasa. Hubungan mereka terasa ganjil, tidak nyaman, bahkan tragis. Perbedaan usia yang sangat jauh membuat pembaca modern sulit memandang relasi ini secara idealistis. Delaura bukan pahlawan romantis, dan Sierva María bukan gadis polos dalam dongeng cinta.
Sebaliknya, keduanya digambarkan sebagai manusia rapuh yang sama-sama terasing. Delaura terjebak dalam institusi agama yang kaku, sementara Sierva María hidup sebagai korban masyarakat yang menolak memahami dirinya. Mereka saling mendekat bukan karena cinta yang sempurna, melainkan karena sama-sama mencari kebebasan dari dunia yang menindas.
Kelebihan dan Kekurangan
Novel ini juga memperlihatkan benturan antara budaya Eropa Kristen dan tradisi Afrika yang dibawa para budak. Sierva María menjadi simbol percampuran identitas tersebut. Ia hidup di antara dua dunia, tetapi tidak sepenuhnya diterima oleh keduanya. Dalam masyarakat kolonial, perbedaan sering dianggap ancaman, bukan kekayaan budaya.
Secara gaya, Of Love and Other Demons mengingatkan saya pada One Hundred Years of Solitude, terutama lewat atmosfer magis dan kesedihan yang terus menghantui cerita. Namun novel ini lebih intim dan lebih gelap. Yang ada hanyalah tragedi kecil tentang seorang gadis yang kehilangan kebebasannya karena ketakutan masyarakat.
Meski tidak sepopuler karya-karya besar Márquez lainnya, novel ini tetap menjadi bacaan penting bagi pencinta sastra dunia. Of Love and Other Demons bukan sekadar cerita tentang eksorsisme atau cinta terlarang, melainkan refleksi tajam tentang bagaimana manusia sering menciptakan “iblis” dari sesuatu yang tidak mereka pahami.
Dan pada akhirnya, novel ini meninggalkan pertanyaan yang terasa sangat relevan hingga hari ini.
Siapa sebenarnya yang lebih berbahaya? Orang yang dianggap berbeda, atau masyarakat yang terlalu takut menerima perbedaan itu?
Identitas Buku
- Judul: Of Love and Other Demons
- Judul Terjemahan: Tentang Cinta dan Demit-Demit Lainnya
- Penulis: Gabriel García Márquez
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 27 September 2023
- ISBN: 978-602-06-7235-9
- Tebal: 172 halaman
- Genre: Fiksi, Realisme Magis, Sastra Amerika Latin
Baca Juga
-
Eighty Six: Ketika Manusia Dijadikan Mesin Perang oleh Negaranya Sendiri
-
Di Bawah Hujan 1991: Melankolia dalam Novel Goodbye Fairy
-
Tak Semua Cinta Bisa Diselamatkan: Tragedi Nara dan Jindo dalam Eye Shadow
-
Bukan Sekadar Isekai: Mengapa Mushoku Tensei Dianggap Pelopor Genre Modern?
-
Cinta Habis di Orang Lama: Romansa Pahit ala The Girl Called Feeling
Artikel Terkait
-
Eighty Six: Ketika Manusia Dijadikan Mesin Perang oleh Negaranya Sendiri
-
Dukung HKI, Menekraf Teuku Riefky Sebut Shopee Motor Baru Ekonomi Sektor Penerbitan
-
Di Bawah Hujan 1991: Melankolia dalam Novel Goodbye Fairy
-
Tak Semua Cinta Bisa Diselamatkan: Tragedi Nara dan Jindo dalam Eye Shadow
-
Memahami Dunia Anak Spesial: Review Novel Ikan Kecil yang Mengajarkan Empati Tanpa Menggurui
Ulasan
-
Eighty Six: Ketika Manusia Dijadikan Mesin Perang oleh Negaranya Sendiri
-
Di Bawah Hujan 1991: Melankolia dalam Novel Goodbye Fairy
-
Full Daging, Menikmati Sensasi Bakso Autentik ala Cak Wawan di Kota Jambi
-
Masjid Baiturrahman, Tempat Melepas Penat di Tengah Kesibukan Kota Semarang
-
Drama China Love Between Lines: Dimulai dari Permainan, Menjadi Perasaan
Terkini
-
Sebagai Santri, Saya Marah: Pelecehan Tak Boleh Dinormalisasi di Pesantren
-
Selalu Ingin Sempurna: Tekanan Tak Terlihat pada Perempuan yang Saya Rasakan
-
Lee Jae Wook dan Shin Ye Eun Bersatu di Drama Medis Romantis, Tayang 1 Juni
-
Saat Menabung Terasa Mewah: Bisa Bertahan Hidup Saja Sudah Bentuk Prestasi
-
HYBE Luncurkan Label ABD, Siap Debutkan Girl Group Baru dengan Konsep Fresh