Hayuning Ratri Hapsari | Ardina Praf
Buku Saya Bukan Dokter (gramedia.com)
Ardina Praf

Buku NIKENSaya Bukan Dokter karya Niken Tantyo Sudharmono hadir sebagai perpaduan antara kisah perjuangan hidup, edukasi kesehatan, dan refleksi tentang pentingnya memahami tubuh sendiri. 

Meski bukan seorang dokter, Niken menuliskan pengalamannya menghadapi penyakit autoimun dan kanker tiroid dengan sudut pandang yang personal sekaligus penuh semangat.

Buku ini terasa seperti teman bicara yang hangat bagi pembaca yang sedang berjuang menjaga kesehatan fisik maupun mental.

Cerita dimulai ketika Niken didiagnosis menderita lupus, gangguan tiroid, hingga kanker tiroid. Diagnosis tersebut membuat hidupnya terasa runtuh.

Ketakutan, kebingungan, dan rasa putus asa menjadi fase yang harus ia hadapi.

Namun, alih-alih menyerah, Niken memilih mencari tahu lebih dalam tentang kondisi tubuhnya. Ia membaca banyak buku kesehatan, mempelajari pola hidup, nutrisi, dan akhirnya menemukan konsep functional medicine, yaitu pendekatan kesehatan yang berfokus pada akar masalah penyakit, bukan hanya menghilangkan gejala.

Dari sinilah buku ini menjadi menarik. Pembaca tidak hanya diajak mengikuti perjalanan penyembuhan Niken, tetapi juga diperkenalkan pada cara pandang baru tentang kesehatan.

Niken menjelaskan bagaimana pola makan, kualitas tidur, stres, hingga gaya hidup dapat memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan. Penyampaiannya dibuat sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembaca awam.

Buku ini tidak terasa seperti membaca jurnal kesehatan yang rumit, melainkan seperti mendengarkan pengalaman seorang teman yang ingin berbagi pengetahuan.

Salah satu kelebihan utama buku ini adalah nuansa personal yang sangat kuat. Niken tidak menempatkan dirinya sebagai sosok paling benar atau paling tahu.

Ia justru berulang kali menegaskan bahwa dirinya bukan dokter. Hal ini membuat isi buku terasa lebih rendah hati dan realistis.

Pembaca dapat merasakan emosi ketakutan, harapan, hingga rasa syukur yang dialami penulis selama proses penyembuhan. Bagian tersebut menjadi kekuatan emosional yang membuat buku ini mudah terhubung dengan pembaca.

Selain itu, gaya bahasa yang digunakan ringan dan komunikatif. Penjelasan tentang kesehatan tidak terasa menggurui.

Niken mampu menyederhanakan istilah kesehatan menjadi lebih mudah dipahami. Hal ini membuat buku cocok dibaca oleh remaja hingga orang dewasa yang baru mulai tertarik mempelajari pola hidup sehat.

Buku ini juga terasa relevan untuk pembaca yang sedang mengalami kelelahan, burnout, atau ingin mulai memperhatikan kondisi tubuhnya sebelum terlambat.

Keunikan lain dari buku ini adalah keberhasilannya menggabungkan pengalaman pribadi dengan edukasi kesehatan modern.

Banyak buku kesehatan terasa terlalu teoritis, sedangkan buku memoar terkadang terlalu emosional. NIKEN – Saya Bukan Dokter berada di tengah-tengah keduanya. Ada unsur inspiratif, tetapi tetap dibarengi pengetahuan praktis yang bisa dipelajari pembaca.

Meski demikian, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Karena sangat berfokus pada pengalaman pribadi penulis, beberapa bagian terasa subjektif.

Pembaca yang mencari penjelasan medis mendalam mungkin akan merasa isi bukunya kurang detail secara ilmiah.

Selain itu, beberapa pembahasan tentang functional medicine mungkin dapat memunculkan perdebatan karena tidak semua orang memiliki pengalaman kesehatan yang sama.

Untungnya, Niken tetap menegaskan bahwa pengobatan konvensional dan functional medicine dapat berjalan berdampingan.

Dari segi alur, buku ini berjalan cukup mengalir. Perjalanan hidup Niken disusun secara runtut, mulai dari masa diagnosis hingga proses pemulihan dan akhirnya berbagi pengetahuan melalui media sosial serta buku.

Tidak ada konflik dramatis berlebihan, tetapi justru kesederhanaannya membuat cerita terasa nyata.

Secara keseluruhan, NIKEN – Saya Bukan Dokter adalah buku yang memberikan semangat sekaligus pengingat bahwa kesehatan adalah investasi penting dalam hidup.

Buku ini cocok dibaca oleh pembaca yang menyukai tema self-healing, kesehatan, pengembangan diri, dan kisah nyata penuh perjuangan.

Setelah selesai membaca, pembaca mungkin akan lebih sadar bahwa menjaga tubuh bukan hanya tentang mengobati penyakit, tetapi juga memahami akar penyebabnya sejak awal.