Sidney Sheldon memang selalu menghadirkan kisah yang penuh kejutan dalam setiap karyanya. Seperti ketika saya membaca novel Rencana Paling Sempurna (The Best Laid Plans) yang bergenre thriller politik. Plot twist dari buku setebal 352 halaman ini sungguh mengguncang.
Dikisahkan seorang gadis muda cantik, cerdas, dan ambisius, Leslie Steward, yang jatuh hati pada Oliver Russell, seorang pengacara karismatik yang tengah mencalonkan diri sebagai gubernur Kentucky.
Leslie, melalui perusahaan tempatnya bekerja, sebagai eksekutif periklanan dan humas, membantu Oliver yang kala itu ditinggalkan oleh orang yang mendanai kampanyenya, Peter Tager. Tanpa uang untuk membayar staf, dan tanpa iklan TV, radio, maupun koran, Oliver sulit bersaing dengan lawannya.
Di sinilah peran Leslie terlihat menonjol. Ia membantu kampanye Oliver mati-matian, meskipun tahu pria tersebut tak mempunyai dana memadai. Interaksi yang intens antara keduanya kemudian menimbulkan percikan bunga api. Mereka terlibat kisah asmara dan berujung dengan lamaran Oliver pada Leslie.
Namun, seminggu sebelum pernikahan mereka, Oliver pergi ke Paris dan di sana ternyata ia menikah dengan mantan tunangannya, Jan, putri seorang senator. Tepat sesudah pernikahan mereka, Oliver memenangi pemilihan dan resmi menjadi gubernur Kentucky.
Pengkhianatan yang dilakukan Oliver membuat Leslie membuat kerajaan media dengan satu tujuan, yaitu menghancurkan karir Oliver yang kala itu terus meroket hingga lelaki itu menjadi presiden Amerika Serikat.
Sepanjang tahun berikutnya, Washington Tribune Enterprises membeli surat kabar dan stasiun radio di Australia, stasiun televisi di Denver, serta surat kabar di Hammond, Indiana. Setiap kali ada akuisisi, para pegawai perusahaan bersangkutan langsung cemas. Reputasi Leslie sebagai pengusaha berdarah dingin semakin menyebar. (Hal. 212)
Hal yang menarik dari novel garapan Sidney Sheldon ini, karena tak sekadar mengisahkan rencana balas dendam yang terus dipupuk selama bertahun-tahun. Tapi, di dalamnya juga terdapat skandal seksual, pembunuhan, intrik di dunia politik, hingga peran media massa dalam memanipulasi opini publik, menjadikan novel Rencana Paling Sempurna (The Best Laid Plans) terasa istimewa.
Karakteristik para tokohnya tak kalah menarik. Leslie Stewart, ambisius, pendendam, cerdas, dan penuh perhitungan. Di awap cerita ia dugambarkan sebagai perempuan yang penuh cinta, tapi pengkhianatan Oliver membuatnya menjadi sosok yang dingin hingga di juluki ‘Si Putri Es’.
Oliver Russell, karismatik dan penuh dengan kompromi moral. Ia memang mengkhianati Leslie demi kekuasaan, tapi ia juga memiliki visi politik yang nyata dan cenderung dicintai rakyatnya dengan sepak terjangnya.
Dana Evans, jurnalis di Washington Tribune Enterprises, sebuah media milik Leslie Stewart. Ia seorang perempuan berani, tekun, idealis, dan memiliki empati yang besar terhadap para korban perang. Melalui profesinya, Dana memperlihatkan bagaimana sebuah media bisa menjadi alat perdamaian, pencari kebenaran, bahkan bisa menjadi alat untuk menghancurkan.
Senator Todd Davis. Tokoh pendamping ini begitu licik, haus kekuasaan, dan pandai menggunakan pengaruhnya untuk memanipulasi kebijakan negara.
Keunggulan dari novel ini, alur cerita cepat dan sulit ditebak. Bab-babnya pendek dan hampir selalu ada cliffhanger yang membuat saya, selaku pembaca, penasaran dan tak ingin berhenti membaca.
Intrik politik begitu kental, dipadukan dengan media sebagai sarana yang mampu membangun citra seseorang sekaligus menghancurkannya, membuat permainan politik di dalamnya sedikit dramatis, tapi tetap menarik untuk disimak.
Novel Rencana Paling Sempurna (The Best Laid Plans) ini juga penuh plot twist. Penulis dengan piawai menyimpan rahasia di antara skandal-skandal yang terjadi, kematian para wanita cantik di sekitar Gedung Putih, hingga berujung pada pengungkapan identitas pelaku yang sangat tak terduga. Narasi-narasi sebelumnya yang menggiring pembaca pada sang pelaku, ternyata siasat jempolan sang penulis untuk mensasarkan pembaca dari pelaku sesungguhnya.
Gaya bahasa begitu ringan meskipun cerita yang diangkat melibatkan politik dan tetek bengeknya yang rumit. Tapi, nyatanya novel ini sangat bisa diselesaikan dalam sekali duduk.
Sedikit kekurangan novel ini, balas dendam Leslie yang pada akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, itu agak mengecewakan bagi saya sebagai pembaca. Saya berharap ada balasan yang setimpal bagi Oliver atas pengkhianatan yang dilakukannya pada Leslie.
Beberapa tokoh pendukung kurang dieksplor sehingga tak berkembang menjadi karakter yang utuh. Fokus cerita juga terlalu cepat berpindah, sehingga di beberapa bagian terasa terlalu terburu-buru.
Namun, di luar dari kekurangannya tersebut, novel Rencana Paling Sempurna (The Best Laid Plans) sebagai novel thriller politik, amat sangat menghibur, penuh ketegangan, dan menambah wawasan saya selaku pembaca tentang politik, media massa, dan bagaimana kaitannya dalam membangun citra dan menghancurkannya sekaligus.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Seni Mengelola Hati di Era yang Penuh Curiga: Membaca Dalam Dekapan Ukhuwah
-
Awalnya Ragu, Drama Can This Love Be Translated? Ternyata Sebagus Itu
-
Review Series Lord of the Flies: Menguliti Bagaimana Peradaban Bisa Runtuh
-
Review Film Fuze: Thriller Cerdas yang Menggabungkan Aksi dan Misteri!
-
Triangle of Sadness: Film yang Mengungkap Kerapuhan Struktur Sosial Manusia
Terkini
-
Pink Tax Adalah Bentuk Diskriminasi yang Dijual Lewat Produk Perempuan
-
Rilis Tracklist, aespa Gandeng G-Dragon di Album Penuh Kedua 'LEMONADE'
-
Ferry Irwandi Bongkar Pertumbuhan Ekonomi 5,61%: Benarkah Cuma Angka di Atas Kertas?
-
Di Balik Rumah yang Tetap Hangat, Ada Anak Bungsu yang Menahan Diri
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya