Novel Funiculi Funicula: Kisah-Kisah Yang Baru Terungkap karya Toshikazu Kawaguchi kembali membawa pembaca ke sebuah kafe kecil di gang sempit Tokyo yang memiliki kemampuan unik: membawa pengunjung menjelajahi waktu.
Namun, seperti seri sebelumnya, perjalanan waktu di kafe ini tidaklah sederhana. Ada banyak aturan yang harus dipatuhi, dan yang paling penting, masa lalu tidak bisa diubah.
Meski begitu, novel ini justru menunjukkan bahwa terkadang manusia tidak membutuhkan perubahan besar, melainkan kesempatan untuk memahami perasaan yang belum sempat tersampaikan.
Dalam buku kedua seri Before the Coffee Gets Cold ini, terdapat empat kisah berbeda yang saling berkaitan. Masing-masing menghadirkan tokoh dengan penyesalan, kehilangan, dan harapan yang sangat manusiawi.
Ada seorang pria yang ingin bertemu sahabat lamanya demi menyampaikan sesuatu yang tertinggal, seorang anak yang menyesal tidak menghadiri pemakaman ibunya, seorang pria sakit yang ingin memastikan perempuan yang dicintainya tetap bahagia di masa depan, hingga seorang detektif yang ingin memberikan hadiah ulang tahun terakhir bagi istrinya.
Semua cerita terasa sederhana, tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat emosi dalam novel ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kekuatan utama novel ini terletak pada suasananya yang hangat dan reflektif. Toshikazu Kawaguchi tidak menghadirkan perjalanan waktu dengan konsep rumit seperti novel fiksi ilmiah pada umumnya.
Ia justru menggunakan elemen tersebut untuk membahas hubungan antarmanusia, penyesalan, kehilangan, dan kesempatan kedua.
Pembaca diajak memahami bahwa waktu tidak selalu harus diubah untuk menemukan kedamaian. Kadang-kadang, seseorang hanya membutuhkan keberanian untuk menerima kenyataan dan mengungkapkan isi hati.
Gaya bahasa novel ini sederhana dan mudah dipahami. Terjemahan bahasa Indonesianya juga terasa nyaman dibaca sehingga emosi tiap cerita dapat tersampaikan dengan baik.
Dialog-dialognya cenderung singkat, tetapi memiliki makna mendalam. Ada banyak kutipan yang terasa menenangkan sekaligus menyentuh hati.
Penulis juga berhasil menciptakan atmosfer kafe Funiculi Funicula yang tenang, hangat, dan sedikit melankolis. Saat membaca, pembaca seperti ikut duduk di dalam kafe sambil menunggu kopi perlahan mendingin.
Selain itu, struktur cerita episodik membuat novel ini ringan dinikmati. Pembaca bisa menyelesaikan satu kisah dalam sekali duduk tanpa merasa terlalu berat.
Namun, walaupun ringan, setiap cerita meninggalkan renungan emosional yang cukup mendalam. Tema keluarga menjadi salah satu fokus paling kuat dalam novel ini. Hubungan orang tua dan anak, pasangan, hingga sahabat digambarkan penuh emosi tanpa terasa berlebihan.
Meski demikian, novel ini juga memiliki beberapa kekurangan. Bagi sebagian pembaca, alur ceritanya mungkin terasa repetitif karena pola setiap kisah hampir sama: seseorang datang ke kafe, kembali ke masa lalu atau masa depan, lalu memperoleh pemahaman baru tentang hidupnya.
Konfliknya pun tidak terlalu kompleks. Jika mengharapkan cerita perjalanan waktu penuh kejutan besar atau plot twist dramatis, novel ini mungkin terasa terlalu tenang dan lambat.
Selain itu, beberapa karakter pendukung tidak mendapatkan eksplorasi mendalam karena fokus cerita terbagi ke empat kisah berbeda.
Akibatnya, ada beberapa momen emosional yang terasa singkat. Namun, kekurangan tersebut tertutupi oleh suasana hangat dan pesan emosional yang berhasil disampaikan penulis.
Novel ini cocok dibaca oleh remaja hingga dewasa yang menyukai cerita emosional, reflektif, dan penuh makna kehidupan.
Pembaca yang menyukai novel bertema healing, keluarga, kehilangan, dan hubungan manusia kemungkinan akan sangat menikmati buku ini. Novel ini juga cocok dibaca saat malam hari atau ketika ingin mencari bacaan yang menenangkan hati.
Secara keseluruhan, Funiculi Funicula: Kisah-Kisah Yang Baru Terungkap bukan sekadar novel tentang perjalanan waktu, melainkan cerita mengenai manusia dan berbagai penyesalan yang mereka simpan.
Baca Juga
-
Dari Lupus hingga Kanker Tiroid: Perjuangan Niken di Buku Saya Bukan Dokter
-
Buku "Maya": Misteri, Spiritualitas, dan Luka Reformasi dalam Satu Novel
-
Please Look After Mom: Novel yang Mengajarkan Arti Kehadiran Ibu
-
Review Vermilion Rain: Perpaduan Sains, Bencana, dan Teror Psikologis yang Seru
-
Ulasan Novel Counterattacks at Thirty: Keberanian Melawan Dunia Kerja Toxic
Artikel Terkait
Ulasan
-
Dari Lupus hingga Kanker Tiroid: Perjuangan Niken di Buku Saya Bukan Dokter
-
Tentang Mimpi dan Luka Pendidikan dalam Novel Laskar Pelangi
-
Buku "Maya": Misteri, Spiritualitas, dan Luka Reformasi dalam Satu Novel
-
Berdamai dengan Hidup Pas-Pasan: Kritik Tajam atas Kapitalisme Modern
-
Ambisi, Dendam, dan Pengkhianatan dalam Novel Rencana Paling Sempurna
Terkini
-
Tian Xi Wei Perankan Dua Identitas di Drama China Histori Where the Mask Ends
-
S.Pd. vs Badai Penataan 2026: Apakah Ijazah Saya Hanya Bakal Jadi Pajangan?
-
Strategi Rockstar "Menganaktirikan" Gamer PC? GTA 6 Rilis di Console Dulu!
-
4,5 Miliar Puntung Rokok Berakhir di Laut Setiap Tahun: Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
-
The Weeknd Siap Konser di JIS 26-27 September, Tiket Dijual pada 18 Mei!