"Sibuk apa sekarang?" Rasanya itu bukan lagi pertanyaan yang asing kita dengar hari ini. Terhitung sejak lulus kuliah, saya sudah berkali-kali mendapatkan pertanyaan yang serupa. Namun, ketika saya enggan menjelaskan kesibukan secara detail, saya dipandang sebagai seseorang yang tidak produktif—bahkan dianggap pengangguran. Sementara itu, mereka yang terlihat selalu sibuk dianggap keren dan produktif.
Kesibukan seolah dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan seseorang. Jadwal yang padat sering dianggap sebagai tanda ambisi dan kerja keras. Sedangkan istirahat malah dianggap sebagai bentuk kemalasan. Keberadaan media sosial yang menampilkan berbagai konten pencapaian dan produktivitas turut berpengaruh terhadap cara seseorang memandang produktivitas. Paparan konten tersebut tanpa sadar membuat banyak orang mulai mengukur nilai dirinya dari seberapa sibuk dan produktif mereka setiap hari.
Di titik ini, produktivitas akhirnya berubah dari kebutuhan menjadi alat validasi diri. Banyak orang merasa berharga hanya saat menghasilkan sesuatu. Bahkan saat memiliki waktu untuk beristirahat, banyak orang tetap merasa harus melakukan sesuatu agar tidak dianggap tertinggal.
Setiap hari beranda media sosial kita selalu dipenuhi dengan konten orang-orang yang terlihat produktif. Mereka seolah selalu mempunyai pencapaian-pencapaian baru. Melihat kesuksesan orang lain yang terus ditampilkan akhirnya membuat banyak orang merasa tertinggal.
Akibatnya, banyak orang yang mulai membandingkan dirinya sendiri. Tidak sedikit pula yang mulai FOMO mengikuti konten yang mereka lihat di media sosial. Seolah ada tekanan tak terlihat yang memaksa mereka untuk melakukan hal yang sama atau bahkan lebih baik. Di tengah budaya pamer pencapaian ini, berhenti sejenak dan beristirahat perlahan terasa seperti kemunduran.
Namun, di balik produktivitas yang seolah menjadi standar kesuksesan, ada bahaya yang perlu disadari sejak awal. Yaitu ketika burnout sudah mulai dinormalisasi. Kelelahan fisik dan mental dianggap biasa. Begadang setiap hari hingga kurang tidur disebut sebagai dedikasi. Orang-orang mulai bangga dengan kesibukan dan kelelahan yang mereka rasakan. Padahal jika kita mencoba memahami lebih jauh, hal ini memiliki dampak yang kurang baik pada kesehatan fisik dan mental seseorang nantinya. Lelah fisik yang berlebihan bisa membahayakan kesehatan seseorang. Sementara lelah mental bisa membuat orang sulit menikmati hidup, kehilangan motivasi, bahkan membuat hubungan sosial bisa terganggu. Hustle culture yang dilakukan secara berlebihan ini membuat manusia terus bergerak tanpa ruang untuk dirinya bernapas sejenak.
Kesibukan yang seharusnya menjadi hal baik bisa berubah menjadi ironi bahkan racun. Sebab di saat yang sama, ada banyak orang yang memilih menyibukkan diri bukan karena ambisi, tetapi karena takut merasa kosong. Produktivitas seolah menjadi pelarian dari rasa insecurity, overthinking, kesepian, hingga tekanan hidup yang terus bertambah. Ada ketakutan untuk terlihat tidak berguna ketika tidak memiliki kesibukan yang dianggap “nyata”.
Sobat Yoursay, sebelum menutup artikel ini, saya ingin menegaskan bahwa produktivitas bukanlah hal yang buruk. Justru bagus sekali jika ada orang yang memiliki beberapa kesibukan dan bisa menikmatinya dengan baik. Hanya saja, ini akan berubah menjadi racun yang berbahaya ketika dijadikan standar utama nilai diri kita.
Kita perlu menyadari bahwa manusia tidak bisa seterusnya dipaksa menghasilkan sesuatu setiap saat. Kita tetap membutuhkan ruang untuk berhenti dan beristirahat sejenak dari semua kesibukan yang terasa mencekik. Istirahat bukanlah bentuk kemalasan seseorang. Dan manusia tetap memiliki nilai meski sedang beristirahat, gagal, atau berjalan lebih lambat dari orang lain. Sebab hidup bukan perlombaan untuk terus terlihat sibuk, melainkan perjalanan untuk tetap bertahan tanpa kehilangan diri sendiri.
Baca Juga
-
Review Perfect Family: Keluarga Sempurna yang Ternyata Menyimpan Rahasia
-
Ulasan Broken Strings: Ketika Cinta Berubah Menjadi Kendali
-
Ulasan The First Responders Season 1: Kerja Sama Polisi dan Damkar di Tengah Situasi Darurat
-
Beli Barang Murah di Online Shop: Solusi Hemat atau Malah Bikin Boncos?
-
Review Confidence Queen: Ketika Penipuan Menjadi Cara Menghukum Penjahat
Artikel Terkait
-
Dorong Produktivitas Masyarakat, Pemerintah Perluas Digitalisasi Bansos
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
-
Mampu Bertahan Adalah Prestasi: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengejar Puncak yang Salah
-
Racun Tikus di Makanan Bayi Geger di Austria, Publik Panik Hingga Penarikan Besar-besaran Produk
-
Kerja Saja Tidak Cukup: Membedah Jebakan Hustle Culture di Hari Buruh
Kolom
-
Jangan Tunggu Nanti, Ini Trik Jitu Mengatur Waktu Belajar US, TKA, dan UTBK Sejak Dini
-
Fenomena Overeducation Lulusan S1: Potret Ketimpangan Gelar dan Pekerjaan
-
Generasi Muda dan Kemerdekaan Ekonomi: Ketika Lapangan Kerja Jadi Tantangan
-
Desa Les: Kisah Nyoman Nadiana Mengenalkan Desa Pada Dunia
-
Buang-Buang Waktu dan Biaya? Sisi Gelap Pendidikan Formal di Mata Gen Z
Terkini
-
The Shawshank Redemption: Kisah Harapan dan Kebebasan di Balik Jeruji Penjara
-
Jakarta Mulai Bersiap, 2 Lapangan Disiapkan untuk FIFA ASEAN Cup 2026
-
Dituding Palsukan Kehamilan, Anne Hathaway Beri Balasan Menohok
-
Ulasan Film Tarung Sarung: Legenda Pertarungan Pusaka Para Ksatria Makassar
-
A New Dawn Tayang Agustus di Bioskop Indonesia, Garapan Animator Your Name