Hayuning Ratri Hapsari | Rahel Ulina Br Sembiring
Suasana Melukis di Taman Bunga Merdeka Siantar (Dok. Pribadi/Rahel Ulina Br Sembiring)
Rahel Ulina Br Sembiring

Seberapa tahu saya tentang Pematangsiantar? Ya, lumayanlah. Saya sempat menghabiskan waktu selama empat bulan magang di PPKS Marihat. Selama di sana, saya dan teman-teman mengekos di rumah salah satu pegawai. Sebagai "anak Medan" yang merantau tanpa kendaraan pribadi, mobilitas kami agak terbatas. Paling jauh, kami meminjam motor ibu kos jika ada keperluan mendesak.

‎Suatu hari, kami tahu ada teman-teman dari jurusan Pertanian yang juga sedang magang di wilayah yang sama. Rasanya tidak enak kalau berada di satu lokasi tapi tidak saling tegur sapa. Akhirnya, kami merencanakan sebuah pertemuan untuk mencairkan suasana.

‎Pertemuan Tak Terduga di Pusat Kota

‎Ini adalah momen pertama kali kami bertemu secara offline dengan teman-teman dari Pertanian tersebut. Awalnya, kami berangkat naik angkot dan menyempatkan diri untuk makan siang lebih dulu sebelum dua teman lainnya menyusul.

‎Jujur, saat itu kami sempat bingung mau lanjut ke mana. Siantar kota memang punya pilihan hiburan yang terbatas; kalau mau wisata alam, jaraknya cukup jauh. Akhirnya, pilihan jatuh ke Taman Bunga. Letaknya strategis di pusat kota dan mudah dijangkau. Meski awalnya skeptis akan menemukan keseruan di sana.

‎Mewarnai Layaknya Anak Kecil

‎Setibanya di taman, mata kami tertuju pada sekelompok anak kecil yang asyik menggambar dengan cat air. Entah kenapa, semangat kami langsung terpacu. Kebetulan jumlah kami pas untuk berpasangan saat menggambar. Lucunya lagi, entah kebetulan atau tidak, warna outfit kami hari itu selaras banget dengan teman pasangan melukis saya. Kompak banget, padahal tidak janjian!

‎Kami pun duduk lesehan di atas tikar dan mulai berkreasi. Selama 30 menit, kami benar-benar fokus melukis sambil sesekali melempar candaan. Ada satu momen kocak saat seorang teman memilih warna yang "di luar nalar"—Patrick Star digambar dengan dua warna tubuh, sementara Spongebob jadi warna cokelat. Pokoknya kami benar-benar memanfaatkan warna apa pun yang disediakan penjualnya, tentunya dengan eksperimen campuran warna.

‎Tak mau kalah dengan bocil-bocil di sekitar, kami bahkan membuat challenge kecil-kecilan. Setelah selesai, kami menanyakan ke orang-orang di sekitar mana hasil gambar yang paling bagus. Hasilnya? Teman saya dengan konsep warna "mabuk" itulah yang mendapatkan suara terbanyak.

‎Membawa Kembali Memori Masa Lalu

‎Aktivitas sederhana ini ternyata membawa saya kembali ke memori masa kecil. Dulu saya sering ikut lomba mewarnai, tapi di buku gambar, bukan di atas kanvas seperti ini. Rasanya sangat nostalgik. Lewat kanvas-kanvas kecil itulah, kecanggungan di antara kami perlahan luntur.

‎Setelah puas melukis, kami lanjut menyewa skuter untuk berkeliling taman. Tanpa terasa, waktu menunjukkan hampir jam 4 sore. Padahal, kami sudah keluar sejak jam 11 siang. Waktu benar-benar melesat kalau kita sedang bersenang-senang.

‎Lebih dari Sekadar Taman

Taman Bunga Siantar menjadi titik balik pertemanan kami. Berawal dari melukis bareng, hubungan kami jadi sangat akrab. Kami sering hangout bareng, bahkan pernah karaoke sampai subuh. Sampai sekarang, kami pun masih saling mendukung satu sama lain.

‎Secara keseluruhan, taman ini adalah tempat yang seru untuk melepas penat karena banyak aktivitas yang bisa dicoba. Namun, satu pesan saya untuk para pengunjung: mari kita jaga kebersihan bersama. Jangan membuang sampah sembarangan, apalagi sampai merusak tanaman, agar taman ini tetap nyaman untuk tempat menciptakan kenangan baru.