Salah satu hal paling menyeramkan dari hidup modern sekarang bukan lagi soal rumah angker, suara langkah kaki tengah malam, atau sosok menyeramkan di balik pintu kamar. Yang jauh lebih menyeramkan justru sesuatu yang kita buka setiap hari: media sosial.
Kita hidup di zaman ketika semua orang berlomba terlihat bahagia. Feed Instagram diisi wajah glowing, liburan mahal, pencapaian hidup, hubungan romantis, tubuh ideal, dan standar kebahagiaan yang terasa makin nggak realistis. Semua orang ingin dilihat, dipuji, dan dianggap berhasil.
Namun, semakin lama diperhatikan, media sosial juga menciptakan ruang baru yang aneh. Tempat manusia diam-diam saling mengawasi hidup orang lain. Tempat orang bisa tersenyum melihat unggahan, tapi dalam waktu bersamaan mungkin juga menyimpan iri hati.
Itulah yang menurutku berhasil dibahas dengan cukup mengganggu dalam film Ain. Film horor Indonesia yang tayang di bioskop mulai 7 Mei 2026 ini disutradarai Archie Hekagery dan diproduksi MVP Pictures bersama Manara Films. Menariknya, Ain nggak memilih jalur horor mainstream yang isinya jumpscare atau hantu perempuan rambut panjang. Film ini main di ranah body horror, subgenre yang masih sangat jarang disentuh perfilman Indonesia.
Kalau biasanya film horor membuat kita takut pada sesuatu di luar tubuh, film Ain membuat tubuh manusia sendiri menjadi sumber teror utama. Dan jujur, itu terasa jauh lebih mengganggu!
Cerita film ini mengisahkan Joy Putri (Fergie Brittany) beauty influencer yang hidupnya terlihat sempurna. Joy cantik, terkenal, punya pengikut media sosial dalam jumlah besar, hidup glamor, dan hampir selalu menjadi pusat perhatian. Pokoknya dia hidup dari kamera, komentar, pujian, dan validasi publik yang terus mengalir setiap hari.
Semua aktivitasnya dibagikan ke internet. Rutinitas skincare, outfit mahal, momen liburan, bahkan detail-detail kecil kehidupannya selalu dikonsumsi ribuan orang. Joy jelas merupakan representasi manusia modern yang hidupnya sudah terlalu terbuka. Sampai semuanya mulai berubah.
Tubuh Joy perlahan menunjukkan gejala aneh. Awalnya hanya gangguan kecil yang terlihat sepele. Namun, lama-lama menjadi semakin menyeramkan. Kulitnya mulai rusak. Tubuhnya terasa asing. Ada sesuatu yang seperti tumbuh dari dalam dirinya. Sesuatu yang perlahan mengambil alih tubuh yang selama ini menjadi sumber kekaguman banyak orang. Ngeri banget, deh!
Menilik Ladang Hasad dalam Film Ain
Film ini seperti kritik terhadap kehidupan digital kita sendiri. Karena kalau dipikir-pikir, Joy bukan hanya diserang sesuatu yang mistis, tapi juga dihancurkan oleh terlalu banyak tatapan manusia.
Konsep ain atau hasad sendiri sebenarnya sudah lama dalam budaya dan ajaran agama, terutama dalam Islam. Secara sederhana, ain sering dipahami sebagai dampak buruk dari pandangan iri, dengki, atau kekaguman berlebihan yang disertai niat buruk. Sesuatu yang lahir dari hati yang penuh kecemburuan.
Dan yang bikin aku merinding, konsep itu terasa sangat relevan di era media sosial sekarang. Dulu, orang mungkin hanya melihat kehidupan tetangga sekitar. Sekarang, satu unggahan bisa dilihat jutaan mata sekaligus. Satu foto bisa memancing ribuan komentar. Satu pencapaian bisa mengundang pujian sekaligus kebencian diam-diam.
Media sosial akhirnya berubah menjadi tempat paling besar untuk manusia saling membandingkan hidup. Kita mungkin menganggap upload kebahagiaan itu normal. Kenyataannya nggak sesederhana itu.
Internet dipenuhi orang-orang yang diam-diam lelah melihat hidup orang lain tampak lebih sempurna. Dan rasa lelah itu sering berubah menjadi iri hati tanpa sadar. Kadang kita bahkan nggak sadar sedang hasad pada orang lain hanya karena terlalu sering membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan yang tampil di layar.
Aku rasa itu sebabnya horor dalam film Ain terasa dekat. Joy bukan korban rumah berhantu. Dia korban dunia digital. Semakin viral dirinya, semakin besar juga energi negatif yang datang. Semakin banyak pujian yang dia terima, semakin besar pula tekanan yang diam-diam mengintainya.
Film ini juga menarik karena nggak terasa menggurui saat membahas unsur spiritualnya. Konsep hasad dimasukkan cukup natural lewat karakter Dini (Putri Ayudya), sahabat Joy, yang mulai percaya perubahan tubuh Joy bukan sekadar penyakit medis biasa.
Dan dari situ, Ain berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik daripada horor biasa. Menurutku, film ini seperti sedang menyindir manusia modern yang sudah terlalu kecanduan validasi. Sekarang kita hidup di era ketika banyak orang merasa hidupnya belum lengkap kalau belum diposting. Makan harus difoto. Liburan harus diunggah. Hubungan harus diumbar. Pencapaian harus diumumkan. Seolah-olah hidup hanya bernilai ketika dilihat banyak orang. Padahal perhatian publik itu nggak selalu membawa hal baik.
Kadang membawa tekanan, kebencian, termasuk membawa energi negatif dari orang-orang yang bahkan nggak kita kenal. Dan film Ain menerjemahkan semua itu lewat body horror yang brutal.
Transformasi tubuh Joy digambarkan dengan sangat detail dan mengganggu. Kulit retak. Daging berubah. Tulang terasa bergeser. Tubuhnya perlahan kehilangan bentuk sempurna yang selama ini dipuja publik.
Practical effects dan prostetik yang digunakan juga membuat semuanya terasa lebih nyata dibanding sekadar efek CGI biasa. Ada rasa jijik sekaligus penasaran yang sulit dijelaskan.
Salah satu adegan paling disturbing menurutku adalah ketika Joy berdiri di depan cermin sambil melihat tubuhnya sendiri berubah tanpa bisa menghentikannya. Dan semakin dipikir, adegan itu simbolis banget. Karena influencer seperti Joy memang hidup dari citra tubuhnya. Ketika tubuh itu mulai rusak, identitasnya sebagai influencer ikut runtuh.
Film ini seperti menunjukkan bahwa ketika hidup terlalu bergantung pada validasi luar, manusia perlahan bisa kehilangan dirinya sendiri.
Film Ain pun termasuk kritik terhadap budaya internet yang diam-diam sangat kejam. Kita hidup di era ketika orang bisa memuja seseorang hari ini, lalu menikmati kehancurannya besok pagi. Netizen gampang mengangkat seseorang jadi idola, juga sangat cepat menikmati saat orang itu jatuh. Dan seringkali, orang yang paling menikmati kehancuran seseorang justru mereka yang dulu paling sering memujinya. Itu menyeramkan.
Makanya aku merasa film Ain bekerja bukan hanya sebagai film horor, tapi juga sebagai refleksi sosial yang cukup pahit. Mungkin sekarang bukan lagi soal apakah kita punya haters atau nggak. Namun, soal berapa banyak orang yang diam-diam iri melihat hidup yang kita tampilkan setiap hari di internet.
Menurut Sobat Yoursay yang sudah nonton film Ain, konsep dan pesannya apakah tersampaikan? Buat yang belum nonton, buruan nonton!
Tag
Baca Juga
-
Review Series Lord of the Flies: Menguliti Bagaimana Peradaban Bisa Runtuh
-
Modal Cerita Kosong, Mortal Kombat II Bukti Hollywood Salah Arah
-
Kukungan Emosi dalam Set Terbatas Film Kupeluk Kamu Selamanya
-
Saat AI Merasuki Dunia Seni: Sineas dan Seniman di Ambang Kehilangan Diri
-
Saat Algoritma Lebih Berkuasa, The Devil Wears Prada 2 Terasa Lebih Relevan
Artikel Terkait
Ulasan
-
The Last Juror: Ketika Teror Balas Dendam Menghantui Kota Kecil Mississippi
-
Review Film Crocodile Tears: Kritik Sosial atas Dinamika Keluarga Indonesia
-
Funiculi Funicula 2, Novel yang Mengajarkan Arti Melepaskan dan Menerima
-
Dari Lupus hingga Kanker Tiroid: Perjuangan Niken di Buku Saya Bukan Dokter
-
Tentang Mimpi dan Luka Pendidikan dalam Novel Laskar Pelangi
Terkini
-
Pohon Tidak Lagi Cukup Jadi Solusi Atasi Panas Ekstrem di Perkotaan
-
Bocoran Honor Magic 9 Pro Max, HP Sultan dengan Baterai 8000 mAh dan Performa Super Kencang
-
Simpan Ribuan Foto Tanpa Was-was, Ini 4 HP Memori 512 GB Harga Rp5 Jutaan
-
Makna Lagu Ancika Ariel NOAH, OST Dilan ITB 1997 yang Bikin Nostalgia
-
LCC MPR RI Butuh VAR? Warganet Usul Teknologi untuk Hindari Kecurangan Juri