Jangan tertipu oleh sampulnya yang estetis atau ilustrasi gambarnya yang indah. Buku Kapan Nanti karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie bukanlah bacaan ringan untuk pengantar tidur, apalagi buku untuk anak-anak. Melalui kumpulan delapan cerita pendek yang semuanya diawali dengan huruf "K", Ziggy kembali memamerkan ciri khasnya: elemen absurd, surealis, dan kekerasan yang dingin.
Membaca buku ini seolah mengingatkan kita pada atmosfer magis dalam Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, namun dengan sentuhan keganjilan yang lebih privat dan menusuk. Meskipun tipis, buku ini adalah definisi dari sastra yang menuntut konsentrasi penuh; sebuah labirin kata yang sulit ditaklukkan namun memikat untuk dijelajahi.
Isi Buku: Dilema Anak dan Dosa Ayah
Dari delapan cerita yang disuguhkan, Kin (si Kurang Ajar) barangkali menjadi fragmen yang paling membekas. Cerita ini memotret dunia batin seorang anak yang gagal dipahami oleh ayahnya. Ada ironi yang menyesakkan di sini: Kin sengaja bertindak "kurang ajar" hanya agar sang ayah tidak berdosa karena telah terlanjur melabeli anaknya sebagai anak kurang ajar di depan orang lain.
Ziggy dengan cerdas menyisipkan isu patriarki yang kental, di mana kasih sayang sang ayah lebih condong kepada anak laki-laki, sementara ajaran agama disampaikan secara doktrinal tanpa penjelasan yang memadai. Hasilnya, Kin tumbuh dalam kebingungan; meski ia terus belajar dan memperkaya diri, di mata sistem keluarga yang kaku, ia tetaplah "si kurang ajar". Perjuangan Kin untuk tidak menjadi beban moral bagi ayahnya justru menjadikannya martir dalam kebisuan.
Kelebihan dan Kekurangan
Ziggy juga sangat piawai dalam merangkai metafora untuk mengangkat isu-isu sensitif terkait perempuan dan anak-anak. Salah satu yang paling menarik adalah istilah "hampir-anak", sebuah eufemisme pedih untuk menggambarkan fenomena aborsi atau keguguran akibat kehamilan di luar ikatan yang sah. Metafora ini memberikan dimensi emosional yang mendalam tanpa harus terdengar menggurui.
Namun, bersiaplah untuk merasa terganggu dalam cerita berjudul Kering. Sebagai cerpen terpanjang dalam buku ini, Ziggy menghadirkan "teror" visual melalui deskripsi satu halaman penuh berisi pengulangan kata "lemari-lemari-lemari". Bagi pembaca yang terbiasa dengan narasi konvensional, bagian ini mungkin terasa menjengkelkan, tetapi inilah cara Ziggy menunjukkan obsesi dan kehampaan melalui repetisi yang absurd. Ini adalah bukti bahwa buku ini tidak dirancang untuk sesi membaca yang santai; apa yang Anda tangkap dari setiap barisnya sangat bergantung pada seberapa tajam daya konsentrasi dan imajinasi Anda saat membacanya.
Teka-Teki Judul yang Menggantung
Satu hal yang masih menjadi misteri bahkan setelah halaman terakhir ditutup adalah kaitan antara judul besar Kapan Nanti dengan isi kedelapan cerpen tersebut. Apakah "Kapan Nanti" merujuk pada sebuah harapan yang tak kunjung tiba? Ataukah ia sebuah ancaman tentang masa depan yang suram bagi karakter-karakternya? Ketidakjelasan ini justru memperkuat kesan sastra yang ditawarkan Ziggy; bahwa tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban yang lugas.
Kesimpulan
Kapan Nanti adalah karya yang mengukuhkan posisi Ziggy sebagai penulis dengan imajinasi yang ganjil namun bermakna. Bagi rekan-rekan yang menyukai tantangan intelektual dan bosan dengan alur cerita yang mudah ditebak, buku ini adalah teman yang pas untuk diajak "berpikir keras".
Persiapkan diri Anda untuk merasa bingung, kesal, sekaligus kagum pada kemampuan Ziggy dalam membedah luka-luka manusia melalui bahasa yang unik. Sebuah karya tipis yang berbobot berat, sangat layak masuk ke dalam daftar koleksi Anda.
Identitas Buku:
- Judul: Kapan Nanti
- Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Jenis: Kumpulan Cerita Pendek (8 Cerpen)
- ISBN: 9786020668659
- Tebal: 142 Halaman
- Tahun Terbit: 2023
Baca Juga
-
Di Bawah Lampu Loteng: KKN, Kenangan, dan Perpisahan
-
Jangan Disalahkan, Korban Baper Akibat "Pemberi Harapan Palsu" Adalah Korban Ketidakadilan Emosional
-
Menembus Batas, Menyapa Cengkeh: Petualangan KKN Paling Berkesan di Tanah Dengeng-Dengeng
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau
-
Reuni Kemerdekaan di Warkop: Antara Secangkir Kopi dan Makna Merdeka
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mengupas 'Emanon', Manga Sci-Fi Santai yang Bikin Overthinking Soal Makna Kehidupan
-
Lika-Liku Kejar Mimpi di Usia Kepala Empat, 'Timun Jelita' Hadirkan Konflik Sahabat dan Ambisi
-
Di Tanah Lada: Apakah Mati Jadi Jalan Keluar Terbaik untuk Ava?
-
Review 'Lucky Strike': Saat Taktik Pura-Pura Mati Jadi Satu-Satunya Jalan Selamat dari Pasukan SS
-
Review Forgotten Island: Emosinya Kuat, tapi Konfliknya Terlalu Main Aman
Terkini
-
Rela Lepas Cuan Jutaan Dolar demi Privasi Anak, Keputusan PewDiePie Patut Ditiru Ortu Zaman Now!
-
Dari Warkop DKI hingga Pandji: Menelusuri Komedi Sebagai Alat Perlawanan
-
Anime Welcome to Demon School, Iruma-kun Umumkan Proyek Film Pertama
-
Nasib Tragis The Transporter: Ditinggal Jason Statham, 2 Aktor Penggantinya Gagal Total!
-
Rangkul Kekurangan! KickFlip Ungkap Indahnya Masa Muda di Lagu Puzzle Piece