Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
Poster Nobar Pesta Babi (instagram.com/sobat_bookshop)
Taufiq Hidayat

Nama Dandhy Dwi Laksono telah lama menjadi sinonim bagi jurnalisme investigatif yang tajam melalui karya-karya seperti Sexy Killers hingga Asimetris. Namun, film dokumenter terbarunya, Pesta Babi, seolah hadir dengan aura yang berbeda. Ia menjelma menjadi "hantu" yang ditakuti oleh mereka yang tidak siap berhadapan dengan kenyataan. Akses yang terbatas, persyaratan ketat dari komunitas penayang, hingga kabar pembubaran paksa di berbagai daerah menjadi bukti bahwa ada narasi besar yang sedang berusaha ditutupi.

Pengalaman saya menghadiri nonton bareng (nobar) yang diselenggarakan oleh Komunitas Literasi Anak Bangsa dan Sobat Bookshop di Kabupaten Sidrap pada 13 Mei kemarin menjadi bukti nyata. Beberapa jam sebelum acara dimulai, tekanan dari Pemerintah Daerah (Pemda) sempat mengancam jalannya diskusi. Dengan dalih menjaga stabilitas keamanan dan tudingan indikasi "makar", sebuah pemutaran film dianggap sebagai ancaman nasional. Sungguh sebuah ironi: layar dan proyektor dianggap lebih berbahaya daripada penderitaan nyata masyarakat adat di Papua Selatan.

Pesta Elit di Atas Luka Rakyat

Setelah layar menyala, barulah saya memahami mengapa banyak pihak begitu skeptis dan "berhati-hati" terhadap film ini. Pesta Babi adalah tamparan keras bagi narasi kemakmuran yang kerap diagungkan oleh penguasa. Film ini membedah secara mendalam bagaimana Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa perkebunan tebu dan bioenergi berskala besar justru menjadi awal dari kehancuran masyarakat adat di Papua Selatan.

Hutan yang selama ini berfungsi sebagai "supermarket alami" dan sumber kehidupan spiritual mereka dibabat habis. Atas nama ketahanan energi, ruang hidup masyarakat adat dikonversi menjadi bentangan industri. Proyek ini, dalam lensa dokumenter Dandhy, tak lebih dari panggung bagi para oligarki untuk "berpesta" pora di atas hilangnya kedaulatan pangan lokal.

Manipulasi Makna Pertanian

Satu poin paling menyentak dalam film ini adalah bagaimana pemerintah melakukan "penyesatan definisi" terhadap istilah pertanian. Bagi pemegang otoritas, pertanian melulu soal sawahisasi dan logika padi. Masyarakat adat yang secara turun-temurun hidup dari kearifan lokal sagu dan umbi-umbian dipaksa tunduk pada logika seragam tersebut.

Ini bukan sekadar kegagalan pemahaman teknis, melainkan bentuk kolonialisme botani. Ada manipulasi oleh kaum elit untuk mengganti ekosistem lokal yang mandiri menjadi sistem yang bergantung pada input industri. Ketika hutan sagu tumbang, masyarakat bukan hanya kehilangan makanan, tetapi kehilangan jati diri dan kedaulatan atas tanah ulayat mereka sendiri.

Sebuah Upaya Membangun Kesadaran

Melalui ulasan ini, saya ingin menegaskan bahwa kegiatan nobar film dokumenter bukanlah upaya menciptakan "neraka" keamanan negara. Sebaliknya, ini adalah upaya literasi untuk membangkitkan kesadaran akan penjajahan di atas tanah sendiri yang belum benar-benar selesai. Pihak berwenang, termasuk di tingkat daerah, harus mulai membuka diri bahwa kritik adalah bagian dari kesehatan demokrasi.

Kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa apa yang sering diklaim sebagai "tanah kosong" oleh perusahaan-perusahaan besar sebenarnya adalah ruang hidup yang memiliki pemilik sah dengan sejarah yang panjang.

Kesimpulan

Pesta Babi meninggalkan satu pesan kuat yang harus terus digaungkan: Papua bukan tanah kosong! Film ini mengajak kita untuk peduli sebelum hutan terakhir tumbang dan suara terakhir dibungkam. Bagi siapa pun yang masih peduli pada keadilan sosial dan kemanusiaan, dokumenter ini adalah tontonan wajib yang menggugah nurani. Hormat saya untuk para penyelenggara yang tetap berdiri tegak demi literasi, meski harus bergerak dalam kesunyian.