M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Kisah menyentuh tentang perjuangan Eun-jae melawan trauma kekerasan domestik dengan bantuan sahabat yang konyol namun tulus. Keberuntungan Sedang Menghampirimu karya Lee Kkoch-Nim. (gramedia)
Taufiq Hidayat

Membaca novel ini adalah sebuah pengalaman yang menyesakkan sekaligus memicu amarah. Lee Kkoch-nim dengan sangat berani memotret penderitaan Eun-jae, seorang remaja perempuan yang menjadi sasaran kekerasan brutal ayahnya sendiri setelah sang ibu pergi meninggalkan mereka.

Bagi Eun-jae, rumah bukan lagi tempat bernaung, melainkan neraka yang dipenuhi luka fisik dan batin. Rasa takut yang menetap menumbuhkan keinginan untuk mati dalam benaknya, terutama karena upaya bantuan dari orang sekitar di masa lalu selalu berujung kegagalan. Ia terjebak dalam pesimisme akut, merasa bahwa takdir tidak akan pernah memihak padanya.

Persahabatan Konyol yang Menjadi Cahaya

Di tengah kegelapan hidup Eun-jae, muncul sosok Hyeong-su dan Wu-yeong. Kehadiran mereka memberikan nuansa komedi yang segar dan unik. Dinamika persahabatan mereka yang diwarnai kesalahpahaman konyol, seperti rencana menghindari gosip yang malah membuat Wu-yeong resmi berpacaran dengan Ketua Kelas, menjadi oase bagi pembaca. Namun, di balik keceriaan itu, kedua remaja laki-laki ini juga memikul beban masing-masing. Hyeong-su merasa tersesat dalam keharmonisan keluarganya, sementara Wu-yeong tercekik oleh obsesi ibunya yang menuntut kesempurnaan akademik. Dialog sang ibu di halaman 143, "Jika kau gagal, hidup ibumu juga akan gagal," menjadi potret nyata betapa rapuhnya kesehatan mental anak yang dijadikan alat validasi kesuksesan orang tua.

Hal yang membedakan novel ini dari drama remaja lainnya adalah kehadiran perspektif Dewi Keberuntungan yang mengawasi para karakter. Meskipun jarang muncul, sudut pandang ini memberikan sentuhan magis dan simpatik terhadap nasib para remaja ini tanpa mengganggu alur utama yang menggunakan sudut pandang orang ketiga. Penulis juga memperkenalkan jajaran karakter pendukung yang luar biasa, mulai dari Ketua Kelas, Pelatih Choi, hingga Ji-jeong. Mereka bukan sekadar figuran, melainkan instrumen yang membantu Eun-jae keluar dari lingkaran penyiksaan.

Puncak Emosional dan Keberanian untuk Bersuara

Salah satu momen paling menguras air mata adalah ketika Eun-jae, dalam puncak kemarahannya, berlari menuju kantor polisi. Alih-alih membalas dendam secara fisik kepada ayahnya, ia memilih jalan hukum yang selama ini ditakutinya. Di depan para polisi, ia menanggalkan kardigan yang selama ini menyembunyikan memar di atas luka. Kalimat singkatnya, "Tolong... aku," menjadi klimaks yang menghancurkan hati sekaligus melegakan. Momen ini menjadi tamparan bagi kita: sering kali korban kekerasan tidak diam karena setuju, melainkan karena terlalu takut untuk bermimpi tentang keselamatan.

Melalui analogi bola yang arah pantulannya tak terduga, novel ini mengajak kita merenung: apakah kita akan menjadi orang yang peduli atau justru abai ketika melihat kekerasan di sekitar kita? Lee Kkoch-nim mengingatkan bahwa cinta sejati adalah menyukai seseorang apa adanya, dan kesempatan untuk mengubah hidup selalu ada bagi mereka yang berani mengetuk pintu bantuan. Saya sangat merekomendasikan novel ini; ia sedih, lucu, namun pada akhirnya sangat menghangatkan hati. Sebuah pengingat bahwa terkadang, keberuntungan hanyalah nama lain dari kepedulian orang-orang di sekitar kita.

Identitas Buku:

  • Judul: Keberuntungan Sedang Menghampirimu
  • Penulis: Lee Kkoch-Nim
  • Penerjemah: Iingliana
  • Desain sampul: Martin Dima
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Terbit: Desember 2025
  • Tebal: 208 hlm.
  •  ISBN: 9786020686585