Sekar Anindyah Lamase | Ryan Farizzal
Poster film The Square (IMDb)
Ryan Farizzal

The Square adalah film satir hitam komedi yang ditulis dan disutradarai oleh Ruben Östlund, sutradara Swedia yang dikenal dengan pendekatan tajam terhadap perilaku manusia dan kontradiksi sosial.

Film ini meraih Palme d'Or di Festival Film Cannes 2017, menandai pencapaian penting dalam sinema Eropa kontemporer.

Dengan durasi sekitar 144menit, The Square mengeksplorasi hipokrisinya dunia seni kontemporer, kelas elit budaya, serta kesenjangan antara idealisme yang diucapkan dengan realitas perilaku sehari-hari.

Potret Ironi Kurator yang Gagal Hidup Sesuai Nilainya

Salah satu adegan di film The Square (IMDb)

Cerita berpusat pada Christian (Claes Bang), seorang kurator museum seni kontemporer bergengsi X-Royal di Stockholm. Christian adalah figur sukses yang tampak progresif: bercerai namun ayah yang peduli, pengemudi mobil listrik, dan pendukung berbagai isu sosial.

Pameran terbarunya berjudul The Square, sebuah instalasi berupa ruang persegi yang dikelilingi lampu putih di pelataran museum.

Konsepnya sederhana tapi mendalam: area tersebut merupakan sanctuary of trust and caring, tempat di mana orang diharapkan menunjukkan empati dan tanggung jawab bersama sebagai sesama manusia.

Ironi utama film ini justru muncul dari ketidakmampuan Christian dan lingkungannya untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai yang mereka promosikan.

Plot bergerak melalui serangkaian peristiwa yang saling terkait. Christian menjadi korban pencopetan cerdas di jalanan, yang memicu rantai reaksi memalukan. Bersama asistennya, ia melacak ponsel curian ke sebuah kompleks apartemen dan mengirim surat ancaman anonim.

Sementara itu, kampanye promosi pameran yang ditangani tim PR muda menghasilkan video kontroversial yang meledak di media, memaksa Christian menghadapi krisis profesional.

Kehidupan pribadinya juga terganggu melalui hubungan singkat dengan jurnalis Anne (Elisabeth Moss), yang mengekspos kerapuhan emosionalnya. Dominic West muncul sebagai seniman Julian, sementara Terry Notary memberikan penampilan ikonik sebagai performer primata.

Review Film The Square

Salah satu adegan di film The Square (IMDb)

Secara tema, Östlund dengan cerdas mengkritik elit budaya yang gemar berbicara tentang kesetaraan, kepercayaan, dan tanggung jawab sosial, namun gagal menerapkannya dalam interaksi sehari-hari.

Museum menjadi metafor sempurna: institusi yang mengklaim membawa seni untuk publik, tetapi sering kali melayani donor kaya dan tren sementara.

Adegan pembukaan yang menunjukkan patung kuda raja diangkat dan rusak secara harfiah menggambarkan penghancuran warisan lama demi yang baru.

Film ini juga menyentil performativitas aktivisme, di mana tindakan baik sering kali lebih tentang citra daripada substansi.

Film The Square (2017) awalnya tidak mendapat rilis luas di Indonesia saat perdana internasionalnya. Akan tetapi, sesuai jadwal terkini, film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia, khususnya jaringan CGV, mulai 16 Mei 2026. Penayangan mencakup subtitle Bahasa Indonesia dengan durasi 144 menit.

Kamu dapat menyaksikannya di lokasi seperti Grand Indonesia dan Paris Van Java. Ini menjadi kesempatan baik buat kamu untuk menikmati karya sinema Eropa yang telah menjadi klasik modern di layar lebar.

Salah satu adegan paling dramatis dan tak terlupakan olehku di saat pesta makan malam donor museum. Adegan ini berlangsung panjang, intens, dan menjadi puncak ketegangan film.

Seorang performer (Terry Notary) yang berperan sebagai manusia primata setengah telanjang diminta menghidupkan suasana dengan aksi artistik.

Awalnya, tamu elit menikmati sebagai seni provokatif. Akan tetapi, ketika aksi berubah menjadi agresif—primata tersebut menggedor dada, meraung, mengejar, dan mengancam tamu—suasana berubah menjadi kekacauan primal.

Tamu yang semula bangga dengan sikap terbuka dan politically correct mereka, membeku karena ketakutan. Tak seorang pun berani bertindak hingga situasi hampir tak terkendali. Adegan ini menurutku sih brilian karena memaksaku mempertanyakan: di mana batas antara seni dan ancaman nyata? Bagaimana kelas atas bereaksi ketika norma sosial runtuh? Ketegangan yang dibangun Östlund, dikombinasikan dengan akting fisik luar biasa Notary, membuat adegan ini ikonik. Menjadi salah satu momen paling disturbing dan memorable dalam sinema dekade itu—campuran antara humor absurd dan horor sosial.

Adegan lain yang tak kalah kuat adalah konfrontasi Christian dengan Anne keesokan paginya setelah mereka berhubungan intim.

Debat absurd tentang kondom bekas mengungkap ketidakmampuan komunikasi emosional di kalangan intelektual. Christian, yang terbiasa dengan bahasa museum yang rumit, gagal mengutarakan hal sederhana. Adegan ini menyentuh tema maskulinitas, kerentanan, dan hipokripsi pribadi dengan cara yang cringe-inducing tapi realistis.

Secara keseluruhan, The Square adalah karya ambisius yang menggabungkan humor hitam, satire pedas, dan drama psikologis. Meski panjang dan kadang terasa episodik, film ini berhasil menjaga ketajaman kritiknya.

Claes Bang memberikan penampilan utama yang meyakinkan sebagai pria yang perlahan kehilangan kendali atas citranya. Elisabeth Moss dan Terry Notary menyumbang momen-momen mencuri perhatian.

Film ini mengingatkan kita bahwa The Square bukan hanya instalasi seni, melainkan metafor ruang publik di mana kontrak sosial diuji setiap hari. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, pesan Östlund tetap relevan: idealisme mudah diucapkan, tetapi sulit dipraktikkan ketika dihadapkan pada kepentingan pribadi dan ketakutan.

Kurasa The Square bukan hiburan ringan, melainkan pengalaman yang memprovokasi refleksi panjang setelah lampu bioskop menyala. Film ini aku rekomendasikan buat kamu yang menyukai sinema cerdas dan berani. Rating pribadiku: 7/10.