Sekar Anindyah Lamase | M. Fuad S.T.
Josepha Alexandra, Peserta LCC 4 Pilar MPR RI 2026 dari SMAN 1 Pontianak (YouTube/MPR RI Official)
M. Fuad S.T.

SMAN 1 Pontianak yang menjadi sekolah asal Grup C di Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI Provinsi Kalimantan Barat tahun 2026 ini membuat sebuah keputusan yang berani. Dengan tegas, mereka menolak untuk ambil bagian dalam rencana tanding ulang yang digagas oleh MPR. Sebuah keputusan yang tak hanya frontal, namun juga menyimpan sebuah pesan "pemberontakan".

Pasca kekisruhan berlevel nasional imbas penilaian dewan juri yang kurang teliti di LCC 4 Pilar MPR RI Provinsi Kalimantan Barat beberapa waktu lalu, MPR yang juga sebagai pemilik acara berusaha untuk menengahi. Dengan berbagai pertimbangan, lembaga tinggi negara tersebut pada akhirnya memutuskan untuk merencanakan adanya pertandingan ulang untuk menentukan pemenang yang sebenar-benarnya.

Namun demikian, niatan MPR untuk menengahi sekaligus mengakhiri kisruh berskala nasional itu tak mendapatkan sambutan seperti yang diharapkan. Alih-alih sesuai dengan pepatah bak gayung bersambut, rencana tanding ulang yang digagas dan diumumkan oleh MPR itu langsung mendapatkan penolakan.

SMAN 1 Pontianak selaku pihak yang dirugikan dalam kontes adu pintar itu, dengan tegas langsung memberikan pernyataan resmi bahwa mereka tak akan ambil bagian. Dalam pernyataan resminya, mereka lebih memilih untuk menarik diri, memberikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas yang memenangi kontestasi dan akan menjadi perwakilan Kalimantan Barat di perlombaan serupa level nasional.

Pemberontakan Kaum Pintar Versi Lite dari SMAN 1 Pontianak

Bagi sebagian orang, mungkin penolakan yang dilakukan oleh SMAN 1 Pontianak untuk turut serta dalam ulangan lomba cerdas cermat adalah sebuah hal yang wajar dan cenderung biasa saja. Namun tentu saja tidak bagi pemikiran liar yang saya miliki.

Menurut kaca mata pemikiran saya, apa yang dilakukan oleh anak-anak dan pihak SMAN 1 Pontianak ini sudah bukan lagi sebuah penolakan, namun lebih kepada "pemberontakan" yang mewakili keresahan rakyat kebanyakan. Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya menggarisbawahi agar teman-teman pembaca tak salah mengartikan. Yang saya maksud "pemberontakan" di sini adalah penyampaian sikap dengan cara yang tegas, tak terikat dengan posisi sebagai bentuk protes yang positif.

Dan karena pemberontakan ini berisikan anak-anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, maka saya langsung kepikiran dengan istilah "Pemberontakan Kaum Pintar".

Sekadar menginformasikan "Pemberontakan Kaum Pintar" sendiri merujuk kepada peristiwa di mana kelompok cendekiawan, elit politik, atau aktivis terpelajar melakukan perlawanan kepada pihak yang jauh lebih mapan.

Gambarannya begini, jika dibandingkan dengan MPR RI yang mengagendakan LCC ulang untuk mengakhiri konflik, SMAN 1 Pontianak (apalagi Yosepha dan rekan-rekannya yang menjadi perwakilan mereka) tentulah jauh lebih inferior.

Ibarat kata, jika MPR RI levelnya adalah salah satu pucuk tertinggi sebuah pohon, SMAN 1 Pontianak mungkin berada di bagian pangkal pohon atau bahkan akarnya. Siapa pun pasti mafhum jika secara hierarki, kedua institusi ini memiliki tingkatan kuasa yang tak sebanding, sehingga secara logika, ketika MPR memerintahkan sesuatu, maka mau tak mau SMAN 1 Pontianak ini harus mau melakukannya.

Nah, ini lah yang tadi saya sebut dengan istilah pemberontakan tadi. Meskipun SMAN 1 Pontianak kalah segala-galanya ketimbang MPR RI, namun pada kenyataannya mereka tak serta merta tunduk dan mengiyakan keinginan dari lembaga tinggi negara tersebut.

Meskipun dengan kekuatan yang tak sebanding, sekolah yang berasal dari ibu kota Provinsi Kalimantan Barat tersebut tetap bersikukuh untuk menolak wacana tanding ulang yang digagas oleh MPR.

Bagi saya pribadi, apa yang dilakukan oleh SMAN 1 Pontianak ini terbilang sangat cerdas dan pintar. Pasalnya, dengan menolak fasilitasi yang dilontarkan oleh yang punya gawe itu, mereka mempertontonkan sebuah niatan yang jauh lebih mulia kepada khalayak ramai di seluruh Indonesia, bahwa mereka sejatinya tak mengejar podium juara, namun mengejar keadilan yang tak mereka dapatkan di lomba tersebut.

Selain itu, saya berani melabeli keputusan SMAN 1 Pontianak ini dengan "Pemberontakan Kaum Pintar" adalah karena selain tak ambisius mengejar podium dan lebih fokus mempertontonkan ketidakadilan yang mereka derita kepada khalayak, apa yang dilakukan oleh kaum terpelajar juga menjadi representasi perlawanan rakyat kecil kepada kemapanan para aristokrat negeri ini.

Secara logika, kita sudah pasti tak akan menemukan titik muara dari perlawanan yang dilakukan oleh SMAN 1 Pontianak ini. Perbedaan strata kelembagaan yang jauh membentang, ditambah dengan predikat mereka sebagai lembaga pendidikan yang notabene harus tegak lurus dengan instruksi pemerintah dan atasan, apa yang dilakukan oleh SMAN 1 Pontianak ini benar-benar menjadi sebuah bentuk perlawanan di mata saya.

Bagaimana mungkin, entitas yang sebelumnya hampir tak terdengar sama sekali oleh rakyat Indonesia tersebut, dengan berani berhadapan dan tak tunduk dengan instruksi dari lembaga sekelas MPR? Bukankah ini seperti perlawanan rakyat kecil kepada pemilik kuasa?

Saya yakin, di kalangan rakyat jelata pada banyak daerah terdapat keinginan untuk melakukan hal yang sama dengan SMAN 1 Pontianak ini. Namun, saya yakin pula, mereka tak berani melakukan perlawanan dengan beragam alasan dan keterbatasan. Sehingga, ketika pada akhirnya muncul pemberitaan yang menegaskan bahwa SMAN 1 Pontianak tak akan ambil bagian di ulangan lomba cerdas cermat dari MPR, saya seperti menemukan kembali gelora pemberontakan kaum pintar, yang dulu hanya saya baca dari buku-buku karya Tan Malaka.

Sebuah perlawanan yang secara tak langsung memberikan saya sebuah pandangan yang cukup menggelitik, di mana untuk pertama kalinya setelah era reformasi dulu, kaum elit pemilik kuasa di negara ini berhasil "dikalahkan" oleh rakyat yang memiliki kekuatan tak seberapa itu.

Saya berharap, semoga saja apa yang dilakukan oleh SMAN 1 Pontianak ini bisa membuat kita belajar bahwa, sejatinya ada banyak cara untuk menyampaikan aspirasi kita kepada para penguasa di sana. Termasuk dengan melakukan aksi pemberontakan elegan sepertimana yang dilakukan oleh anak-anak dari SMAN 1 Pontianak.