M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Potret pentas di Malioboro (Instagram/@jaranabangteater)
Vicka Rumanti

Yogyakarta dikenal sebagai kota yang kaya akan seni dan budaya, tempat di mana pertunjukan rakyat hingga kontemporer bisa diakses dengan mudah oleh siapa saja. Namun, di balik romantisasi tersebut, justru menyimpan bom waktu bagi masa depan industri kreatif.

Founder sekaligus ketua Teater Jaran Abang, Inggit Muhammad, menilai kebiasaan memberikan tontonan gratis yang difasilitasi oleh berbagai pihak telah salah arah dalam mendidik publik.

"Ini sebenarnya kritik bagi seniman profesional dan dinas terkait untuk tidak terlalu membiasakan budaya itu gratis." tegas Inggit. "Karena memberikan tontonan gratis terus-menerus sama saja dengan mengedukasi masyarakat bahwa seni itu tidak ada harganya. Akibatnya, orang-orang yang ingin hidup profesional dari jalur seni menjadi sangat kesulitan."

Bagi Jaran Abang, seni yang bernilai tinggi menuntut proses yang panjang, mulai dari curahan pemikiran, riset realita, hingga effort latihan yang tidak instan. Inggit menganalogikan dengan bagaimana produk mode global bermerek bisa menjual barang dengan harga selangit. Hal ini disebabkan karena mereka melabelinya sebagai "karya seni" yang handmade. Sebaliknya di Indonesia, label "karya seni" justru sering kali diidentikkan dengan sesuatu yang bisa dinikmati cuma-cuma.

Mendorong Perubahan Ekosistem Kreatif

Inggit membuka suara untuk mendorong adanya perubahan ekosistem di Jogja. Jika ingin menghargai seniman, edukasi publik harus diubah: masyarakat harus diajak paham bahwa mengapresiasi seni berarti siap memberikan penghargaan finansial yang layak, bukan sekadar datang dan menonton tanpa kontribusi.

Jika Yogyakarta ingin terus melahirkan generasi seniman yang berkembang dan mampu menghidupi lingkungannya secara layak, maka ekosistemnya harus berani berubah. Inggit menegaskan bahwa Jogja tidak boleh hanya memanfaatkan tenaga seniman demi mempercantik citra kota, tanpa memikirkan bagaimana kerja keras para pelaku di baliknya.

Potret pentas di panggung (Instagram/@jaranabangteater)

Disrupri Teknologi Memperparah Situasi

Tantangan tidak hanya datang dari minimnya apresiasi, tetapi juga disrupsi teknologi. Inggit menceritakan keresahannya saat menghadiri sebuah festival teater, di mana pemenangnya justru menggunakan musik yang dihasilkan oleh generatif Artificial Intellegent (AI) secara instan.

“Apa nggak sedih aku, sebagai seniman yang bekerja mengorder musik. Kita tidak bisa pungkiri AI itu membantu. Tapi ya harus menghargai karyalah,” keluhnya.

Bagi Jaran Abang, teater manusia melibatkan rasa, interaksi sosial, dan proses kurasi batin yang tidak bisa digantikan oleh algoritma. Menggratiskan karya seni di era digital ini sama saja dengan mendegradasi nilai kemanusiaan yang ada di dalam proses kreatif tersebut.

"Kita harus tetap mengedukasi anak-anak muda dan penonton bahwa seni itu mahal harganya," kata Inggit. Tantangan Jaran Abang ke depan adalah membuktikan bahwa karya yang dibuat oleh manusia secara kolektif memiliki jiwa dan nyawa yang layak dihargai tinggi.

Menolak romantisasi seni gratisan di Jogja adalah langkah awal yang krusial untuk menyelamatkan eksistensi seniman tradisional dan modern dari kepunahan di era kecerdasan buatan.

“Jogja ini kota budaya. Banyak orang mau belajar seni itu di Jogja. Sayang kalau mereka nanti berkarya di Jogja tapi nggak ada harganya,” tegas Inggit.