Yogyakarta dikenal sebagai kota yang kaya akan seni dan budaya, tempat di mana pertunjukan rakyat hingga kontemporer bisa diakses dengan mudah oleh siapa saja. Namun, di balik romantisasi tersebut, justru menyimpan bom waktu bagi masa depan industri kreatif.
Founder sekaligus ketua Teater Jaran Abang, Inggit Muhammad, menilai kebiasaan memberikan tontonan gratis yang difasilitasi oleh berbagai pihak telah salah arah dalam mendidik publik.
"Ini sebenarnya kritik bagi seniman profesional dan dinas terkait untuk tidak terlalu membiasakan budaya itu gratis." tegas Inggit. "Karena memberikan tontonan gratis terus-menerus sama saja dengan mengedukasi masyarakat bahwa seni itu tidak ada harganya. Akibatnya, orang-orang yang ingin hidup profesional dari jalur seni menjadi sangat kesulitan."
Bagi Jaran Abang, seni yang bernilai tinggi menuntut proses yang panjang, mulai dari curahan pemikiran, riset realita, hingga effort latihan yang tidak instan. Inggit menganalogikan dengan bagaimana produk mode global bermerek bisa menjual barang dengan harga selangit. Hal ini disebabkan karena mereka melabelinya sebagai "karya seni" yang handmade. Sebaliknya di Indonesia, label "karya seni" justru sering kali diidentikkan dengan sesuatu yang bisa dinikmati cuma-cuma.
Mendorong Perubahan Ekosistem Kreatif
Inggit membuka suara untuk mendorong adanya perubahan ekosistem di Jogja. Jika ingin menghargai seniman, edukasi publik harus diubah: masyarakat harus diajak paham bahwa mengapresiasi seni berarti siap memberikan penghargaan finansial yang layak, bukan sekadar datang dan menonton tanpa kontribusi.
Jika Yogyakarta ingin terus melahirkan generasi seniman yang berkembang dan mampu menghidupi lingkungannya secara layak, maka ekosistemnya harus berani berubah. Inggit menegaskan bahwa Jogja tidak boleh hanya memanfaatkan tenaga seniman demi mempercantik citra kota, tanpa memikirkan bagaimana kerja keras para pelaku di baliknya.
Disrupri Teknologi Memperparah Situasi
Tantangan tidak hanya datang dari minimnya apresiasi, tetapi juga disrupsi teknologi. Inggit menceritakan keresahannya saat menghadiri sebuah festival teater, di mana pemenangnya justru menggunakan musik yang dihasilkan oleh generatif Artificial Intellegent (AI) secara instan.
“Apa nggak sedih aku, sebagai seniman yang bekerja mengorder musik. Kita tidak bisa pungkiri AI itu membantu. Tapi ya harus menghargai karyalah,” keluhnya.
Bagi Jaran Abang, teater manusia melibatkan rasa, interaksi sosial, dan proses kurasi batin yang tidak bisa digantikan oleh algoritma. Menggratiskan karya seni di era digital ini sama saja dengan mendegradasi nilai kemanusiaan yang ada di dalam proses kreatif tersebut.
"Kita harus tetap mengedukasi anak-anak muda dan penonton bahwa seni itu mahal harganya," kata Inggit. Tantangan Jaran Abang ke depan adalah membuktikan bahwa karya yang dibuat oleh manusia secara kolektif memiliki jiwa dan nyawa yang layak dihargai tinggi.
Menolak romantisasi seni gratisan di Jogja adalah langkah awal yang krusial untuk menyelamatkan eksistensi seniman tradisional dan modern dari kepunahan di era kecerdasan buatan.
“Jogja ini kota budaya. Banyak orang mau belajar seni itu di Jogja. Sayang kalau mereka nanti berkarya di Jogja tapi nggak ada harganya,” tegas Inggit.
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
-
PSIM Yogyakarta Targetkan Lisensi AFC demi Buka Jalan Tampil di Kompetisi Asia
-
PSIM Yogyakarta Kejar Lisensi Asia Setelah Lolos Verifikasi Super League
-
Membawa Ruh Yogyakarta ke Bandung: Sinergi Budaya dan Bisnis LBC Hotels Group
-
Tolak SPPG di Dalam Kampus, UMY Usul Fokus Jadi Mitra Kajian Program MBG
-
Stasiun Tugu dan Lempuyangan Membeludak, Okupansi KA Daop 6 Melejit di Libur Kenaikan Yesus Kristus
News
-
Menelisik Garam Palungan Desa Les: Saat Warisan Leluhur Bertahan di Tengah Modernisasi
-
Skybar ibis Styles Yogyakarta Kembali Dibuka, Hadirkan Beragam Agenda Rutin
-
Kesaksian Warga Nagekeo Saat Gempa M 7 Guncang NTT: Kami Lari Bawa Lansia dan Tinggalkan Rumah
-
Keberhasilan Transformasi Desa Kemiren bersama Kang Edai dan Astra
-
Jelang HUT RI: Flare Latihan TNI AU Nyasar ke Mobil Warga, Ini Respon TNI
Terkini
-
Bukan Sekadar Nyanyi dan Tepuk Tangan: Sisi Lain Perjuangan Menjadi Guru TK
-
Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Adil Kendali Finansial Tetap di Suami?
-
Desa Les Buleleng Bali Menanam Masa Depan Lewat Konservasi Terumbu Karang
-
Membangun Desa dari Manusianya: Kisah Bli Nyoman dan Desa Sejahtera Astra Les
-
2026 Is the New 2016, Mengapa Gen Z Kangen Internet yang Dulu?