Dalam ulasan sebelumnya mengenai film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono, kita diperlihatkan pada kenyataan pahit tentang pembungkaman ruang hidup masyarakat adat di Papua Selatan dan bagaimana sebuah acara literasi nobar di daerah bisa ditekan oleh birokrasi. Ketakutan akan hilangnya hak bersuara itu sebenarnya telah dipotret secara utuh dalam bentuk fiksi satiris oleh J.S. Khairen melalui novelnya yang terbit pada tahun 2023, Bungkam Suara.
Jika Pesta Babi adalah rekaman visual tentang kolonialisme botani yang nyata, maka Bungkam Suara adalah refleksi sastra yang mendahului zamannya tentang bagaimana sistem kekuasaan modern bekerja secara sistematis untuk menjinakkan kebenaran dan mengontrol pikiran rakyat.
Selamat Datang di NKAL: Negeri Khayalan yang Terasa Nyata
Melalui novel ini, Khairen mengajak kita bertamu ke Negara Kesatuan Adat Lemunesia (NKAL). Sebuah wilayah khayalan yang secara geografis memang "gaib" dari peta dunia, tetapi terasa sangat akrab di benak pembaca Indonesia. NKAL dijalankan dengan sistem pemerintahan unik yang dipimpin oleh duet Raja Utama dan Pemangku Adat. Di bawah permukaan tradisi adat yang tampak kental dan luhur, negara ini sebenarnya menyimpan struktur regulasi yang sangat ketat, kaku, dan mengikat kebebasan warganya.
Salah satu daya tarik sekaligus kengerian utama di NKAL island adalah tradisi tahunan bertajuk "Hari Bebas Bicara". Sekilas, momen ini terdengar seperti selebrasi puncak demokrasi di mana warga boleh bersuara tanpa takut dihukum. Namun, Khairen dengan cerdas menelanjangi konsep tersebut. Hari bebas bicara itu hanyalah simbol semu; sebuah instrumen yang sengaja dipelihara oleh para elite untuk memancing keluar aspirasi dan kritik rakyat, untuk kemudian dipelintir menjadi hoaks atau alat propaganda demi memperkuat cengkeraman kekuasaan mereka.
Isi Buku dan Konspirasi "Durian Busuk"
Fokus cerita berada pada pundak Timmy (Jujur Timur), seorang mantan asisten profesor yang hidupnya jungkir balik setelah terseret ke dalam pusaran konspirasi tingkat tinggi. Timmy memikul mandat berbahaya untuk menyingkap kebenaran di balik topeng Hari Bebas Bicara.
Tugas utamanya adalah mengidentifikasi kelompok misterius bernama "Durian Busuk". Istilah ini merupakan metafora cerdas dari Khairen untuk menggambarkan para aktor jahat yang menebar bau menyengat di balik layar kekuasaan, tetapi sulit disingkirkan karena jaringan mereka yang menggurita.
Perjalanan Timmy bukan hanya sekadar upaya heroik demi negara, melainkan juga sebuah misi personal yang emosional. Ia berjuang keras untuk membersihkan nama baik sang ayah yang difitnah menyebarkan tautan penipuan massal.
Melalui karakter Timmy, kita diperlihatkan betapa rapuhnya posisi individu ketika berhadapan dengan narasi besar yang sudah "digoreng" sedemikian rupa oleh mesin politik. Hubungan erat antara masalah personal dan sistemik inilah yang membuat motivasi tokoh utama terasa sangat hidup dan patut diikuti hingga halaman terakhir.
Teknologi sebagai Senjata Pembungkam Masa Kini
Khairen tidak hanya mengkritik birokrasi konvensional, tetapi juga menyoroti aspek techno-thriller mengenai bagaimana teknologi modern telah bermutasi menjadi alat kontrol yang mengerikan. Dalam Bungkam Suara, media massa dan algoritma informasi dipersenjatai untuk menjadi mesin propaganda. Penulis secara eksplisit menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi dalam sistem pemerintahan yang otoriter hanya akan menjadi cacat moral jika digunakan untuk manipulasi opini publik.
Novel ini memberikan tamparan keras kepada pembaca agar selalu berpikir kritis terhadap derasnya informasi di lini masa media sosial. Apa yang terjadi di NKAL, mulai dari penggiringan opini hingga pembunuhan karakter melalui data digital, bukanlah hal yang mustahil terjadi di dunia nyata. Khairen seolah mengingatkan kita bahwa di era post-truth, siapa yang menguasai teknologi dan arus informasi, dialah yang memegang kendali atas kebenaran.
Kelebihan dan Kekurangan
Gaya penulisan J.S. Khairen tetap mempertahankan ciri khasnya yang dikenal publik: lincah, penuh humor, namun tetap menanamkan benih pemikiran kritis di setiap babnya. Dunia fiksi dalam NKAL dibangun dengan logika yang kompleks sehingga pembaca akan terus merasa penasaran dengan kejutan di dalamnya. Meskipun terdapat beberapa istilah teknis khas "dunia Khairen" yang mungkin membuat pembaca baru sedikit mengernyit, hal tersebut justru menambah kekayaan pembangunan dunia (world-building) dalam novel ini.
Memang, bagi sebagian pembaca, bagian akhir cerita (ending) mungkin dirasa kurang emosional jika dibandingkan dengan tensi ketegangan yang sudah dibangun dengan sangat solid sejak awal. Namun, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi nilai filosofis dan kritik sosial-politik yang ingin disampaikan. Penulis berhasil membuktikan bahwa isu berat seperti politik dan teknologi bisa dikemas dalam narasi yang populer, ringan, namun tetap bergizi.
Kesimpulan
Bungkam Suara adalah sebuah cermin besar bagi masyarakat digital saat ini. Novel ini bukan sekadar hiburan, melainkan peringatan tentang bahaya hilangnya nalar kritis di tengah kepungan janji manis politik dan kecanggihan teknologi.
Persis seperti pesan dalam film Pesta Babi, kita harus bersuara sebelum semuanya terlambat. J.S. Khairen kembali berhasil membuktikan bahwa kebebasan tanpa kejujuran hanyalah panggung sandiwara yang melelahkan bagi rakyat kecil.
Identitas Buku:
- Judul: Bungkam Suara
- Penulis: J.S. Khairen (Jombang Santani Khairen)
- Editor: Trian Lesmana
- Penerbit: Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia)
- Tanggal Terbit: 22 Desember 2022
- ISBN: 9786020529813
- Jumlah Halaman: Sekitar 366-376 halaman
- Genre: Fiksi, Distopia, Komedi/Satir
- Bahasa: Indonesia
Baca Juga
-
Membaca Kapan Nanti: Sastra Absurd yang Menantang Konsentrasi Pembaca
-
Merajut Harkat: Menyingkap Sisi Gelap Penjara dan Martabat yang Hilang
-
Menonton Pesta Babi di Sidrap: Tentang Literasi dan Larangan yang Ironis
-
Bukan Sekadar Kisah Sedih: Mengapa Novel Lee Kkoch-nim Ini Justru Terasa Sangat Menghangatkan?
-
Tuhan Maha Asyik: Menggugat Cara Beragama yang Kaku dan Dangkal
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mempelajari Sastra dan Budaya dalam Buku Puisi Karya Itaru Ogasawara
-
Mengintip Rahasia Semangat Belajar Jerome Polin Berdasarkan Buku yang Ditulisnya
-
The Horse and His Boy, Novel Fantasi Klasik Sarat Makna Kehidupan
-
Kritik Tajam di Film Gowok: Tradisi yang Terlalu Lama Disembunyikan
-
Empower Yourself: Pengingat Bahwa Hidup Dimulai dari Cara Kita Berpikir
Terkini
-
Spill Tipis-Tipis, Sutradara Bocor Proyek Film Princess Diaries 3
-
Mau Tampil Cute atau Edgy? Coba 4 Gaya OOTD ala Narin MEOVV Ini
-
Dipaksa, Bukan Dipilih: Realita Gaya Hidup Sederhana Anak Muda Hari Ini
-
Medaka Kuroiwa Is Impervious to My Charms Rilis Teaser Baru untuk Season 2
-
Menilik Program MBG terhadap Tumpukan Sampah Sisa Makanan