Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Sunset Bersama Rosie (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Bali kembali menjadi panggung utama dalam narasi Tere Liye sebagaimana yang kita temukan dalam novel Sebelas  namun dalam novel ini, Tere Liye memilih Pantai Jimbaran sebagai latar yang kontras dengan duka mendalam.

Fokus utamanya adalah bagaimana tragedi Bom Bali II tahun 2005 menghancurkan kedamaian keluarga kecil Rosie dan Nathan, sekaligus membuka kembali luka lama Tegar, sahabat mereka yang telah memendam cinta selama dua puluh tahun.

Peristiwa itu menjadi titik balik yang memaksa kita merenungkan satu pertanyaan besar: apakah cinta harus selalu berakhir dengan memiliki, atau justru tentang bagaimana kita belajar melepaskan.

Sinopsis

Kisah ini bermula di Gili Trawangan, Lombok, tempat Tegar dan Rosie tumbuh besar bersama. Persahabatan mereka berlanjut hingga masa kuliah di Bandung. Selama dua puluh tahun, Tegar memendam perasaan pada Rosie, namun ia tidak pernah cukup berani untuk menyatakannya.

Suatu hari, Tegar mengenalkan sahabatnya, Nathan, kepada Rosie. Hanya dalam waktu dua bulan, Nathan berhasil menyatakan perasaannya tepat di puncak Gunung Rinjani saat sunset selama 47 detik yang indah. Rosie menerima Nathan, dan saat itu pula dunia Tegar runtuh. Ia memilih menghilang dari kehidupan mereka, bekerja gila-gilaan di Jakarta untuk mengubur luka.

Tumbuhnya Keluarga Baru Nathan dan Rosie menikah dan dikaruniai empat anak perempuan: Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili. Setelah delapan tahun menghilang, Tegar kembali masuk ke kehidupan mereka sebagai sosok "paman" yang sangat disayangi anak-anak.

Keluarga ini terlihat sempurna. Saat merayakan ulang tahun pernikahan ke-13 di sebuah restoran di Jimbaran, Bali, mereka bahkan sempat melakukan video call dengan Tegar yang berada di Jakarta. Tegar saat itu sedang bersiap untuk bertunangan dengan Sekar, wanita yang sangat mencintainya.

Tragedi Jimbaran yang Mengubah Segalanya Di tengah video call tersebut, bom meledak di Jimbaran. Tegar menyaksikan kehancuran itu secara langsung lewat layar laptopnya. Tanpa memedulikan pertunangannya esok hari, Tegar langsung terbang ke Bali. Ia menemukan Nathan tewas, sementara Rosie selamat namun mengalami depresi akut hingga kehilangan kewarasan. Tegar akhirnya mengambil tanggung jawab penuh untuk merawat empat anak Rosie dan mengurus resort mereka, meski harus mengorbankan hubungannya dengan Sekar.

Dilema dan Konflik Batin Di sinilah konflik batin Tegar diuji. Ia terjebak antara rasa bersalah pada Sekar—yang digantung selama dua tahun—dan rasa tanggung jawabnya kepada Rosie yang sangat membutuhkan perlindungan. Sebagai pembaca, karakter Tegar seringkali membuat saya emosi. Ia terlalu plin-plan dan tidak gentle dalam mengambil keputusan. Sekar pun menjadi pihak yang terus-menerus dikorbankan.

Keajaiban  Terasa "Dipaksakan" Di balik emosinya, ada hal yang sedikit mengganggu. Penggambaran keempat anak Rosie terasa terlalu "ajaib" dan kurang realistis. Jasmine, yang baru berusia lima tahun, digambarkan sangat cakap merajut dan melakukan hal-hal di luar nalar anak seusianya. Bagi saya, ini terasa seperti usaha Tere Liye membuat pembaca gemas dan menaruh simpati berlebih pada anak-anak tersebut.

Tere Liye membuktikan bahwa novel romansa bisa sangat menyentuh tanpa perlu mengeksploitasi adegan seksual. Duka, kehilangan, dan kerinduan terbukti menjadi bahan bakar emosi yang jauh lebih kuat daripada tren dark romance yang cuma mengandalkan konten vulgar. Novel ini bukanlah kisah yang manis, melainkan gambaran bagaimana manusia bertahan di tengah reruntuhan hidupnya. Meski ada banyak hal yang membuat kita frustrasi dengan karakternya yang tidak tegas. Novel Sunset Bersama Rosie tetap menjadi bacaan yang mampu "menampar" batin kita tentang arti kesempatan yang seringkali datang terlambat.