Menjadi tua mungkin merupakan ketakutan banyak orang. Keriput mulai muncul, rambut memutih, tubuh tak lagi sekuat dulu, dan waktu perlahan mengingatkan bahwa hidup memiliki batas. Namun, bagaimana jika seseorang justru tidak bisa menua sama sekali?
Pertanyaan itulah yang menjadi inti dari The Age of Adaline (2015), sebuah film drama romantis fantasi yang disutradarai Lee Toland Krieger dan dibintangi oleh Blake Lively, Michiel Huisman, serta Harrison Ford.
Sekilas, premis film ini terdengar seperti dongeng modern. Adaline Bowman, seorang perempuan yang lahir pada tahun 1908, mengalami kecelakaan mobil pada usia 29 tahun. Dalam kejadian yang dijelaskan dengan sentuhan pseudo-sains khas film fantasi, tubuhnya berhenti menua. Sejak saat itu, wajahnya tetap muda, sementara dunia di sekitarnya terus bergerak maju.
Sinopsis The Age of Adaline
Awalnya, kondisi tersebut mungkin terdengar seperti berkah. Siapa yang tidak ingin tetap muda selamanya? Namun film ini justru menunjukkan sisi lain dari keabadian. Adaline harus menyaksikan orang-orang yang dicintainya menua dan meninggal.
Ia tidak bisa menetap terlalu lama di satu tempat karena penampilannya yang tidak berubah akan memancing kecurigaan. Setiap beberapa tahun, ia mengganti identitas, pekerjaan, dan kota tempat tinggal. Ia hidup, tetapi tidak benar-benar menjalani kehidupan.
Selama lebih dari delapan dekade, Adaline menjalani eksistensi yang sunyi. Ia menghindari hubungan mendalam dengan siapa pun, termasuk hubungan asmara. Pengalaman pahit di masa lalu membuatnya yakin bahwa mencintai seseorang hanya akan berakhir dengan kehilangan.
Bahkan putrinya sendiri, Flemming, tumbuh menjadi seorang nenek sementara Adaline tetap terlihat seperti perempuan muda berusia dua puluhan.
Konflik mulai berkembang ketika Adaline, yang kini menggunakan nama Jenny, bertemu dengan Ellis Jones. Ellis adalah pria karismatik, hangat, dan penuh perhatian yang berhasil menembus pertahanan emosional Adaline. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan menjalani hidup normal dan berhenti melarikan diri.
Namun hubungan mereka menjadi rumit ketika Ellis mengajak Adaline menghadiri perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya. Di sinilah film menghadirkan salah satu momen paling emosional.
Ayah Ellis, William Jones, ternyata adalah pria yang pernah dicintai Adaline puluhan tahun lalu. Pertemuan itu membuka kembali luka lama sekaligus memperlihatkan konsekuensi paling menyakitkan dari hidup abadi: melihat orang yang pernah dicintai menjadi tua tanpa bisa ikut menua bersama mereka.
Kelebihan dan Kekurangan
Meski dipasarkan sebagai film romantis, kekuatan utama The Age of Adaline justru terletak pada tema kehilangan, waktu, dan makna kehidupan. Film ini mengajak penonton merenungkan sesuatu yang sering dianggap sebagai kutukan: penuaan.
Dalam kehidupan nyata, manusia kerap mengeluh tentang bertambahnya usia. Namun melalui kisah Adaline, kita diajak melihat bahwa menjadi tua sesungguhnya adalah hak istimewa. Menjadi tua berarti memiliki kesempatan tumbuh bersama orang-orang yang kita sayangi.
Secara visual, film ini tampil sangat elegan. Sinematografinya memanjakan mata dengan nuansa klasik yang lembut dan romantis. Perubahan era dari tahun 1930-an hingga masa modern juga ditampilkan dengan detail kostum dan tata artistik yang menarik.
Blake Lively menjadi pusat perhatian sepanjang film. Kecantikannya memang memukau, tetapi yang lebih penting adalah kemampuannya menghadirkan sosok Adaline sebagai perempuan yang terlihat muda namun memiliki jiwa yang lelah karena terlalu lama hidup.
Penampilan Harrison Ford juga layak mendapat apresiasi khusus. Meski baru muncul di pertengahan film, karakternya menjadi salah satu sumber emosi terbesar. Melalui William Jones, penonton melihat bagaimana seseorang dapat terjebak dalam kenangan cinta yang tidak pernah benar-benar hilang.
Memang, alur film ini tidak sepenuhnya bebas dari klise. Beberapa bagian romansa terasa mudah ditebak dan kurang mendalam. Namun kekuatan akting para pemain serta gagasan filosofis tentang waktu dan keabadian membuat film ini tetap meninggalkan kesan yang kuat.
Film ini adalah refleksi tentang arti kehidupan yang justru menjadi berharga karena memiliki akhir. Sebab mungkin, yang membuat cinta begitu bermakna bukanlah karena ia berlangsung selamanya, melainkan karena kita tahu waktu yang dimiliki bersama orang-orang tercinta sangatlah terbatas. Dan setelah menonton film ini, menjadi tua mungkin tidak lagi terdengar seburuk itu.
Identitas Film
- Judul: The Age of Adaline
- Tahun Rilis: 24 April 2015
- Genre: Drama Romantis, Fantasi
- Sutradara: Lee Toland Krieger
- Penulis Skenario: J. Mills Goodloe dan Salvador Paskowit
Pemeran Utama:
- Blake Lively sebagai Adaline Bowman
- Michiel Huisman sebagai Ellis Jones
- Harrison Ford sebagai William Jones
- Ellen Burstyn sebagai Flemming Prescott
- Kathy Baker sebagai Kathy Jones
Baca Juga
-
Potret Perempuan dalam Sejarah Islam: Membaca Kembali Ummahatul Mukminin
-
Mati Berkali-kali, Tetap Harus Masuk Kerja: Dilema Eksistensi dalam Mickey7
-
51 Kisah di Buku Berjalan Jauh: Hangat Seperti Pelukan di Hari yang Panjang
-
Bermental Tangguh dan Berprinsip Teguh: Filosofi China di Buku Dao De Jing
-
Mr. Queen (2020): Drama Kerajaan Paling Absurd yang Justru Bikin Nagih
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Kutukan Darah Terakhir, Ikatan Gaib yang Menuntut Jiwa Sang Pewaris
-
Yellow Letters: Sajikan Elemen Drama Keluarga dan Kritik Sosial yang Tajam!
-
Review Chappie: Film Sci-Fi yang Layak Ditonton untuk Pencinta Cerita Robot
-
Aksi Kriminal Cerdas ala Money Heist dalam Prekuel Terbaru Serial Berlin!
-
Gara-gara Bastian Steel, Kita Sadar Gombalan Bocah 2010-an Itu Sangat Genius
Terkini
-
Cortis Kenang Pengorbanan dan Luka Demi Mewujudkan Mimpi di Lagu Blue Lips
-
Lenovo LOQ 32Q-10 Resmi di Indonesia, Monitor 32 Inci QHD untuk Gamer yang Haus Kecepatan
-
Kemasan Makanan Sekali Pakai: Bukan Sekadar Sampah yang Bisa Disepelekan
-
Ketika Tubuhmu Sehat tapi Hidupmu Tetap Terasa Kosong
-
99% Kecurangan SNBT 2026 di Kedokteran: Saat Kursi Dokter Dibeli Pakai Joki