Hope and Home hadir sebagai bagian dari seri light novel Bentang, buku ini mengusung format fiksi remaja yang ringkas namun sarat akan konflik emosional yang mendalam. Format fiksi ini sangat cocok bagi pembaca muda yang menginginkan narasi cepat, dinamis, namun tetap relevan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Sinopsis Novel Hope and Home
Berpusat pada Arhamna Nuura, atau yang lebih akrab dipanggil Hamna. Sebagai anak bungsu dari dua bersaudara, kehidupan Hamna awalnya berjalan biasa saja hingga badai ekonomi menghantam keluarganya secara beruntun. Kehidupan mereka tiba-tiba terguncang hebat ketika sang ayah mendadak diberhentikan dari pekerjaannya.
Kondisi finansial yang merosot tajam ini diperparah oleh insiden runtuhnya plafon rumah mereka saat situasi keuangan sedang sulit-sulitnya. Kejadian runtuhnya atap rumah ini menjadi simbol fisik sekaligus emosional atas hilangnya rasa aman dan runtuhnya fondasi keluarga tempat Hamna bernaung.
Di tengah keputusasaan tersebut, Hamna merasa tidak memiliki ruang di dunia nyata untuk menumpahkan segala beban pikirannya. Ia enggan menambah beban orang tua dan kakaknya, sehingga memilih untuk memendam masalah tersebut sendirian. Demi mencari jalan keluar, Hamna akhirnya melarikan diri ke dunia digital.
Ia secara rahasia membuat sebuah akun dengan nama pengguna milkteasoul di aplikasi kencan daring bernama MateUp. Namun, motivasi utama Hamna menggunakan platform kencan ini bukanlah untuk mencari kekasih atau pasangan romantis. Ia hanya membutuhkan teman mengobrol secara anonim agar dapat mencurahkan isi hatinya dengan lebih leluasa dan tanpa beban penghakiman dari orang-orang yang mengenalnya.
Di dalam pencariannya di digital MateUp, Hamna akhirnya dipertemukan dengan satu-satunya pengguna yang nyaman dengannya, yaitu akun dengan nama latecoffeeguy. Melalui obrolan di balik layar gawai, Hamna merasa bebas menceritakan segala hal yang tidak bisa ia katakan kepada orang lain. Ia bercerita tentang kepedihan ayahnya yang di-PHK, kondisi rumahnya yang rusak parah, hingga menceritakan sosok Rafan, kakak tingkat kuliahnya yang sangat baik hati dan membantunya mendapatkan pekerjaan magang demi menyambung hidup.
Kehadiran latecoffeeguy menjadi semacam angin segar dalam hidup Hamna. Namun, alur cerita mulai mengalami eskalasi konflik yang menarik ketika latecoffeeguy mengajak Hamna untuk bertemu secara langsung di dunia nyata. Ajakan pertemuan fisik ini menghadirkan sebuah kejutan besar bagi Hamna, memaksa dirinya untuk mempertanyakan apakah ekspektasi indahnya di dunia virtual akan sejalan dengan kenyataan yang ada.
Kelebihan
Melalui karakter Hamna, pembaca diajak melihat bahwa internet sering kali menjadi katarsis utama ketika ruang fisik rumah tidak lagi mampu memberikan kedamaian psikologis.
Kelebihan lain dari novel ini terletak pada gaya bahasanya yang sangat mudah dimengerti, mengalir santai, dan tidak terlalu kaku atau formal. Penulis berhasil mengemas isu-isu berat seperti krisis finansial, kesehatan mental, kecemasan masa depan, dan PHK ke dalam diksi-diksi yang ringan dan populer di kalangan anak muda.
Kekurangan
Meskipun menawarkan banyak kelebihan, novel ini juga tidak luput dari beberapa kekurangan yang patut dicermati. Karena formatnya yang merupakan light novel dengan jumlah halaman yang relatif sedikit, yaitu sekitar 136-144 halaman, beberapa perkembangan konflik terasa diselesaikan secara terburu-buru.
Penyelesaian masalah keuangan keluarga Hamna serta transisi emosionalnya dari dunia virtual ke dunia nyata terkadang terasa terlalu instan dan mudah.
Keterbatasan ruang halaman ini juga membuat eksplorasi latar belakang karakter pendukung, seperti hubungan Hamna dengan kakak kandungnya atau dinamika internal orang tuanya pasca-PHK, kurang tergali secara mendalam sehingga terasa sebagai pemanis alur cerita belaka.
Kesimpulan
Novel Hope and Home karya Asmira Fhea berhasil memberikan pesan moral yang sangat berharga bagi kita semua mengenai esensi dari sebuah rumah dan harapan. Karya ini mengajarkan bahwa rumah sejati bukanlah sekadar bangunan fisik dengan atap kokoh yang melindungi kita dari hujan dan panas, melainkan ruang emosional di mana kita merasa diterima seutuhnya tanpa perlu memakai topeng kepalsuan.
Novel ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang sedang merasa lelah dengan tuntutan hidup atau merasa terasing di tengah keramaian. Buku ini menjadi pengingat yang indah bahwa di balik setiap malam yang larut dan secangkir kopi yang pahit, selalu ada kejutan manis yang menanti jika kita berani melangkah keluar dari zona nyaman anonimitas kita.
Identitas Buku
- Judul: Hope and Home
- Penulis: Asmira Fhea
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Tanggal Terbit: 12 Maret 2026
- Tebal: 144 Halaman
Baca Juga
-
Novel Kutukan Darah Terakhir, Ikatan Gaib yang Menuntut Jiwa Sang Pewaris
-
Ulasan Novel 1890, Kisah Cinta Lintas Kelas Sosial di Tengah Era Kolonial
-
Drama We Are All Trying Here, Ketika Dua Orang Melawan Rasa Tidak Berharga
-
Ulasan Novel Periculo: Citra Sempurna, Pengkhianatan, dan Misteri Kematian
-
Ulasan Drama Phantom Lawyer, Ketika Keadilan Terkuak dari Para Arwah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Membaca "Seni Menghadapi Orang Manipulatif" di Tengah Zaman Penuh Muslihat
-
Mumpung Mimpi Itu Gratis: Semangat Pantang Menyerah dalam KluBelimbing
-
Corpus Uterus: Menelusuri Rahim, Trauma Sejarah, dan Perlawanan Perempuan
-
Sketch: Kisah Imajinasi Gambar yang Hidup dan Menyembuhkan Luka Keluarga
-
Ulasan The Rip: Hadir dengan Eksplorasi Loyalitas dan Godaan Uang Hitam!
Terkini
-
Lee Young Ji Buka Suara usai Unggahan Foto Rambut Merah Picu Spekulasi
-
Bukan CGI atau Planet Mars, Pulau Alien Ini Nyata Ada di Bumi
-
Suka dengan 'Colony'? Ini 5 Film Zombie Korea Terbaik yang Tak Kalah Seru
-
Pancasila Rasa Seblak & Koplo: Cara Akar Rumput Jaga Persatuan Indonesia
-
To Build the World Anew: Saat Pancasila Ditawarkan Menata Ulang Dunia