Lintang Siltya Utami | Tika Maya Sari
Poster film Mohabbatein (Yash Raj Film)
Tika Maya Sari

Tahun 2000an awal, Indonesia diguyur beragam film-film Bollywood yang mengenalkan kita pada sejumlah tokoh mentereng seperti Shahrukh Khan, Amitabh Bachchan, Kajol, Hrithik Roshan, Jaya Bachchan, dan lainnya. Nggak hanya satu dua judul, melainkan puluhan judul. Salah satunya adalah Mohabbatein.

Sebuah film persembahan Aditya Chopra yang menyoroti nilai cinta dan ketakutan.

Film Romansa dengan Unsur Perbedaan Pendapat

Melansir IMDb, Mohabbatein mengisahkan pertemanan tiga siswa yakni Sameer Sharma (Jugal Hansraj), Vikram ‘Vicky’ Kapoor (Udah Chopra), dan Karan Choudhry (Jimmy Shergil) di satu akademi elit berjuluk Gurukul. Akademi itu khusus bagi murid laki-laki, dengan berjibun aturan ketat termasuk dilarang jatuh cinta atau menjalin hubungan romantis selama masa studi, dibawah pengawasan langsung Narayan Shankar (Amitabh Bachchan) selaku pemilik akademi dan kepala sekolah.

Narayan Shankar adalah sosok tegas, dan tidak terbantahkan saat harus mengeluarkan siswa yang melanggar aturan. Bahkan memastikan dia tidak bisa diterima di akademi manapun di dunia. Tipe orang bengis nan kejam, sih. Namun, hal itu didasari duka hati, saat sang putri yakni Megha (Aishwarya Rai) melakukan bunuh diri.

Hingga kehadiran guru kesenian musik baru, yakni Raj Aryan Malhotra (Shahrukh Khan) yang mencoba mengubah aturan ketat Gurukul. Dia menjadi panutan para siswa karena sikapnya yang santai, cerdas, ramah, dan tentunya lebih ‘manusiawi’ ketimbang Narayan Shankar.

Lewat motivasi Raj-lah, ketiga siswa tersebut mulai menyatakan cinta pada gadis impian masing-masing, yang tentu dibalut komedi dan drama. Vicky yang mendekati Ishika (Shamita Shetty), seorang ketua tim pemandu sorak dari akademi khusus siswi perempuan yang galak; Sameer yang menyatakan rasa pada Sanjana (Kim Sharma) yang merupakan sahabat masa kecil, tetapi sudah memiliki kekasih sendiri; dan Karan yang memberanikan diri untuk mengenal Kiran (Preeti Jhangiani) seorang janda tentara.

Hal ini ditentang habis-habisan oleh Narayan Shankar. Namun siapa sangka, bahwa Raj mengetahui rahasia besar tentang Megha.

Film yang Menurutku ‘Legendaris’

Karena Mohabbatein diisi oleh bintang kenamaan Bollywood, maka nggak heran kalau filmnya menjadi cetar membahana. Akting Shahrukh Khan dan Aishwarya Rai sangat totalitas baik romansa maupun komedinya. Megha memang dikisahkan bunuh diri, tetapi arwahnya setia menemani Raj. Disamping itu, Amitabh Bachchan sukses mengisi peran dingin, kaku, dan ambisius khas Narayan Shankar.

Mohabbatein yang juga film musikal, berhasil mempopulerkan lagu-lagu backsound yakni Chalte-chalte, Humko Humise Churalo, Soni-soni, hingga Pairon Mein Bandhan Hai yang sangat legendaris hingga sekarang. Nggak hanya itu, film ini juga mengusung budaya India seperti festival Holi, hingga aturan sindoor bagi perempuan yang sudah menikah.

Selain itu, eksekusi romantisme dari ketiga pasangan yang lain Vicky-Ishika, Karan-Kiran, dan Sameer-Sanjana pun dibuat khas romansa remaja. Mereka memiliki konflik dan rintangan masing-masing, yang kian membuat penonton gregetan. Meski pada akhirnya mereka bersama kok.

Kemudian pada scene ending dibuat senangis mungkin. Iya, aku nangis nonton ending film ini. Di mana Narayan Shankar dan Raj Aryan Malhotra berjalan bersisian setelah berdamai. Kemudian Megha menyusup di tengah-tengah mereka, sambil merebahkan kepala di pundak ayahnya. Mereka berjalan berlatar belakang kemegahan Gurukul, dan backsound mendayu-dayu.

Film yang Mengajak Crosscheck Realita Jaman Sekarang

Mohabbatein memang didesain sederhana mengenai kisah cinta para remaja. Sebagaimana Karan, Sameer, dan Vicky. Pun bagaimana bucinnya Raj pada Megha, meski ditentang oleh Narayan Shankar. Namun kalau dipikir-pikir, bukankah sang kepala sekolah benar?

Narayan Shankar sebagai generasi tua ingin agar generasi muda berprestasi, dan sukses dahulu barulah mengejar cinta. Makanya dia memberlakukan aturan ketat di Gurukul. Namun saking disiplinnya dia, para generasi muda pun membelot. Dulu, aku sangat suka aksi perjuangan para generasi muda dalam mengejar cinta. Tapi sekarang, malah jadi kasihan pada Narayan Shankar.

Pada masa lampau, memperjuangkan cinta mungkin masih bisa diterima bahkan ditiru. Kalau masa sekarang, ya kita harus bekerja keras karena situasi global sudah berbeda. Dulu geopolitik dunia belum brutal, masa sekarang malah saling kirim rudal. Apa nggak ngeri?

Kemudian, disiplin yang diterapkan oleh Narayan Shankar adalah untuk membentuk karakter seorang lelaki. Bukan berarti dilarang jatuh cinta, toh dia sendiri sangat menyayangi Megha.

Anyway, soal Megha yang bunuh diri, dulu mungkin terasa romantis karena memperjuangkan cinta. Kalau sekarang ya bodoh sih kubilang. Tidak direstui saja langsung bunuh diri. Padahal posisi Raj saat itu masih siswa, dan belum memiliki karir yang bagus. Sudah pasti Narayan Shankar menentang mereka. Coba kalau diterapkan di kehidupan nyata jaman sekarang, apa nggak dihujat netizen yang budiman?

At least, aku menyukai film ini untuk sisi akting, komedi, pengenalan budaya dan tradisi India, serta backsound yang nggak lekang oleh jaman. Sedangkan untuk kisah perjuangan cinta, sekarang aku kurang sreg karena ditampar realita, haha. So, nilai dariku adalah 8/10.

Identitas Film

  • Judul: Mohabbatein
  • Sutradara: Aditya Chopra
  • Penulis: Aditya Chopra
  • Rilis: 27 Oktober 2000
  • Distributor: Yash Raj Films
  • Genre: Romance, Drama, Musikal
  • Negara: India
  • Bahasa: Hindi
  • Durasi: 3 jam 36 menit