M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi konten Get Ready With Me (Gemini AI)
e. kusuma .n

Konten Get Ready With Me (GRWM) semakin populer di media sosial. Di balik rutinitas berdandan, banyak kreator justru membagikan cerita tentang pekerjaan, hubungan, hingga kesehatan mental.

Beberapa waktu lalu mungkin konten GRWM masih identik dengan tutorial makeup atau rekomendasi skincare. Namun, kini formatnya mulai berubah karena sering disertai cerita yang jauh lebih personal.

Sambil mengoleskan foundation atau memilih pakaian, kreator menceritakan pengalaman putus cinta, konflik di tempat kerja, rasa cemas menghadapi masa depan, hingga kelelahan mental yang sedang mereka alami.

Disadari atau tidak, perubahan ini membuat GRWM berkembang menjadi lebih dari sekadar konten kecantikan. Kini konten ini mulai menjelma menjadi ruang bercerita yang terasa dekat dan manusiawi.

Mengapa Format GRWM Begitu Disukai?

Salah satu alasan GRWM mudah diterima adalah formatnya yang terasa santai. Penonton merasa berada dalam situasi yang santai saat melihat seseorang menjalani rutinitas sederhana sambil berbincang layaknya teman.

Kesederhanaan inilah yang membuat banyak cerita terasa lebih mudah diterima. Aktivitas bersiap sebelum beraktivitas menjadi "latar" yang membuat percakapan terasa lebih ringan.

Meski terselip topik curhat yang sebenarnya berat, seperti burnout atau tekanan pekerjaan, tapi semua pembahasan ini justru terdengar lebih hangat ketika disampaikan dalam suasana yang santai.

Tempat Curhat yang Menemukan Pendengarnya

Menariknya, banyak konten GRWM yang tidak menawarkan solusi karena kreator hanya menceritakan apa yang dirasakan hari itu. Namun, kolom komentar sering kali dipenuhi respons ‘senasib’ dan dukungan emosional.

Bisa dibilang part ini menjadi daya tarik utama GRWM saat mampu menciptakan rasa kalau seseorang tidak sendirian menghadapi berbagai persoalan hidup lewat empati dan kedekatan digital.

Antara Kejujuran dan Konten

Di sisi lain, muncul pertanyaan yang cukup menarik. Ketika cerita pribadi menjadi bagian dari konten, apakah semua pengalaman masih murni dibagikan sebagai bentuk kejujuran, atau perlahan berubah menjadi strategi untuk menarik perhatian?

Tidak ada jawaban yang benar-benar pasti. Saat media sosial mendorong kreator untuk terus menghasilkan konten menarik, batas antara berbagi pengalaman dan menciptakan ’karya’ terkadang menjadi semakin tipis.

Namun, hal yang terpenting adalah bagaimana cerita tersebut disampaikan secara bertanggung jawab, tanpa mengeksploitasi pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain demi jumlah tayangan.

Penonton Tidak Selalu Mencari Tutorial

Fenomena GRWM juga menunjukkan perubahan perilaku pengguna media sosial. Banyak orang ternyata tidak hanya mencari tips makeup atau rekomendasi produk, tapi juga cerita yang terasa nyata.

Di tengah konten serba sempurna yang memenuhi linimasa, video seseorang yang berkata, "Hari ini aku sebenarnya sedang capek" justru terasa lebih mudah dipercaya dibanding narasi kalau hidup selalu berjalan mulus.

Menurut saya, kejujuran sederhana seperti inilah yang membuat banyak orang bertahan menonton video GRWM hingga selesai. Bukan sekadar menunggu tutorial, melainkan realita di balik layar yang jarang terekam.

Tetap Perlu Menjaga Batasan

Meski berbagi cerita bisa memberikan manfaat, bukan berarti semua hal harus dipublikasikan. Ada perbedaan antara berbagi pengalaman untuk saling menguatkan dan membuka seluruh kehidupan pribadi kepada publik.

Menjaga batasan tetap penting sebab tidak semua masalah harus diselesaikan melalui media sosial dan tidak semua emosi perlu divalidasi orang lain. Media sosial bisa menjadi ruang berbagi, tapi tidak semua hal bisa digantikan oleh konten digital.

Ketika Rutinitas Sederhana Menjadi Ruang untuk Didengar

Fenomena Get Ready With Me menunjukkan bahwa media sosial terus berkembang mengikuti kebutuhan penggunanya. Konten yang awalnya hanya memperlihatkan proses berdandan kini berubah menjadi ruang berbagi yang lebih personal.

Perubahan ini mencerminkan kebutuhan anak muda yang tidak hanya mencari hiburan, tapi juga koneksi autentik. Bukan lagi konten sempurna, melainkan cerita jujur tentang hari-hari yang sulit pada umumnya.

Konten ini juga menjadi pengingat kalau di balik rutinitas sederhana, setiap orang membawa cerita yang berbeda. Dan terkadang, yang paling dibutuhkan adalah kesempatan untuk merasa didengar, bukan solusi instan.