Gunung Kembang adalah salah satu gunung di Kabupaten Wonosobo yang biasa disebut dengan anakan Gunung Sindoro. Gunung Kembang tepat berada di samping Gunung Sindoro, kalau dari kejauhan memang terlihat seperti ibu dan anak.
Akhir tahun 2019 aku pernah muncak ke Gunung Kembang dengan teman-teman kuliah. Saat itu, kita mendaki melalui basecamp Blembem. Gunung Kembang terkenal sebagai gunung terbersih di Jawa Tengah. Hal itu terbukti saat kita melakukan registrasi, pihak basecamp mengecek satu-satu barang bawaan para pendaki dan akan mengecek ulang saat pendaki turun. Jika ada sampah yang tertinggal, maka pendaki akan dikenakan denda sebesar Rp 1.025.000 per sampah yang ditinggalkan di gunung.
Pendakian pertamaku ke Gunung Kembang sangat berkesan. Baru mulai perjalanan saja kita harus menyusuri kebun teh hingga akhirnya masuk di pintu rimba. Pemandangan yang sangat indah. Mendaki gunung, tetapi dikasih bonus jalan-jalan di kebun teh.
Saat memasuki pintu rimba, medan pun berubah. Yang tadinya tanah bebatuan di antara kebun teh, sekarang kita harus melewati jalanan tanah basah dengan vegetasi yang cukup rapat. Kebetulan saat itu kita mendaki di musim hujan, sehingga cuaca lebih terasa sejuk karena matahari tertutup oleh awan yang mendung.
Jalur Gunung Kembang via Blembem cukup menantang. Banyak sekali tanjakan-tanjakan yang tajam dan licin, beberapa kali bahkan bertemu dengan pohon besar tumbang yang menutup jalan. Akar gantung juga ikut menghiasi jalanan, berasa sedang difasilitasi untuk menjadi tarzan.
Semakin sore, kabut semakin tebal, jarak pandang pun hanya beberapa meter saja dari setiap langkah kaki. Beberapa kali kita istirahat di bawah pohon besar sambil menikmati cemilan dan buah-buahan yang kita bawa. Perjalanan semakin seru, karena setiap langkah diiringi cerita dan canda tawa.
Tidak terasa, puncak semakin dekat, medan pun semakin menanjak, dan vegetasi yang rapat kini berganti rerumputan hijau yang sedang subur-suburnya. Namun, sejak awal masuk pintu rimba memang kita tidak diberi ampun, tidak ada medan landai yang bisa dinikmati.
Akhirnya puncak pun terjamah. Kita disambut sunset di ujung barat yang terlihat malu-malu di belakang awan kelabu. Hujan baru saja selesai. Kini, pemandangan kota dari atas puncak Gunung Kembang terlihat lebih jelas. kerlap-kerlip lampu juga ikut menghiasi setiap sudut kota. Matahari pun kembali ke peraduannya.
Setelah puas menikmati eksotisnya pemandangan sore ini, kita segera mendirikan tenda sebelum hujan turun lagi. Beberapa menyiapkan makanan untuk disantap malam ini. Meskipun menu sederhana, hanya mie instan, sarden, dan kopi, tapi semua terasa nikmat karena dinikmati di tempat yang tidak biasa dengan teman-teman yang luar biasa.
Langit semakin gelap, kita pun memilih untuk istirahat dan tidur lelap. Saat tengah malam, kita dibuat kaget dengan suara yang tidak asing. Di luar tenda, ada babi hutan yang sedang mencari makan. Gunung Kembang memang masih terkenal dengan keasriannya, sehingga babi hutan masih sering menyapa para pendaki di tengah jalur maupun di puncaknya.
Kita cukup khawatir jika tiba-tiba si babi hutan mendekati tenda yang masih bau amis khas sarden. Suaranya semakin dekat dengan tenda, mengendus sisi tenda berharap mendapatkan makanan di sini. Kita diam sambil ketakutan. Untungnya, babi hutan perlahan menjauh.
Panik sudah mulai reda dan kita mencoba untuk tidur lagi. Keesokan paginya, ada banyak jejak yang ditinggalkan si babi hutan. Banyak tanah yang tergali karena mencari cacing tanah untuk dimakan. Ternyata, pendaki dari tenda lain juga banyak yang panik atas kehadiran babi hutan yang tak diundang.
Pagi ini, suasana di puncak Gunung Kembang cukup ramai. Banyak pendaki lain yang datang dari luar kota, termasuk diriku sendiri. Kita pun memutuskan untuk mengumpulkan semua pendaki dan mengajaknya foto bersama.
Pemandangan pagi ini sangat eksotis. Gunung Sindoro dan Sumbing yang tidak kita lihat kemarin sore, ternyata pagi ini berdiri gagah tanpa ditutupi oleh awan dan kabut. Dalam hatiku, suatu saat aku harus ke sini lagi.
Akhirnya, akhir tahun 2025 aku kembali menyambangi Gunung Kembang dengan jalur dan teman pendakian yang berbeda. Kali ini, aku memutuskan untuk tektok, alias tidak ngecamp di gunung. Aku tidak lagi memilih basecamp Blembem, tetapi mencoba basecamp Lengkong.
Melalui jalur Lengkong, perjalanan terasa lebih santai. Medan cukup mudah dan tidak terlalu menanjak, meskipun beberapa kali bertemu dengan jalan yang licin. Bahkan, aku menggunakan jasa ojek gunung dari basecamp hingga pos satu.
Hanya membutuhkan waktu empat jam akhirnya aku sampai di puncak Gunung Kembang, lagi dan lagi. Tidak banyak berubah, kondisi puncak masih banyak yang sama. Hanya beberapa plang yang aku kira sudah bertambah banyak.
Aku berada di puncak saat siang hari. Gunung Sindoro dan Sumbing yang waktu itu terlihat gagah, kini mereka berdiri di balik kabut tebal. Namun setelah beberapa menit, kabut mulai terbawa angin dan tersapu bersih, sehingga Gunung Sindoro mulai terlihat.
Sayangnya, itu hanya beberapa menit saja. Saat semua pendaki bersorak ria dan bergegas mengambil foto, kabut perlahan mulai datang. Begitu terus sampai akhirnya aku memutuskan untuk turun dan pulang. Meskipun begitu, pemandangan sapanjang perjalanan Gunung Kembang via Lengkong sangat menakjubkan. Hutan pakis dan hutan tarzan menjadi salah satu spot foto yang tidak boleh ditinggalkan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Film Colony dan Kaitannya dengan Sains yang Hilang Nurani dan Moralitas
-
Teori Konspirasi dan Friendship Manis dalam Anime Mr. Love: Queen's Choice
-
Menelusuri Jejak Sunan Giri dalam Balut Sejarah di Novel Saga dari Samudra
-
Kopitiam Murni 99, Spot Kuliner 24 Jam di Jambi dengan Cita Rasa Autentik
-
Disclosure Day: Thriller Sci-Fi Spielberg yang Penuh Emosi dan Ketegangan!
Terkini
-
Parfum untuk Gym Sebaiknya Seperti Apa? Ini 5 Rekomendasi yang Layak Dicoba
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
Navigasi Maba: Jangan Sampai Mabuk Organisasi Merusak Kuliah yang Wajib
-
4 Rekomendasi Oat Cleanser Andalan untuk Menenangkan Kulit Sensitif
-
Sejarah Baru! Piala Dunia 2026 Gebrak Dunia dengan 3 Tuan Rumah dan 48 Tim Peserta