Belakangan ini, media sosial Korea Selatan diramaikan oleh sebuah tren baru bernama wakppubol (). Meski masih terdengar asing bagi banyak orang di Indonesia, mainan ini berhasil mencuri perhatian anak muda Korea berkat sensasi unik yang ditawarkannya. Video-video tentang wakppubol pun dengan cepat menyebar di Instagram, TikTok, hingga YouTube, membuat semakin banyak orang penasaran untuk mencobanya.
Sekilas, wakppubol tampak seperti bola kecil berwarna-warni. Namun, yang membuatnya berbeda adalah lapisan lilin di bagian luar yang membungkus isian lembut di dalamnya. Saat bola tersebut dipecahkan, lapisan luarnya akan retak dan menghasilkan suara yang dianggap memuaskan oleh banyak orang. Momen inilah yang sering direkam dan diunggah ke media sosial.
Nama wakppubol sendiri berasal dari gabungan kata wax, yang berarti lilin dalam bahasa Inggris, dan kata Korea ppusigi yang berarti menghancurkan atau memecahkan. Sesuai namanya, proses memecahkan bola lilin menjadi daya tarik utama dari tren ini. Wakppubol sendiri dijual dengan harga sekitar 2.000–5.000 won. Saking viralnya, penjualan mainan kenyal di Korea meningkat 500% dibanding tahun sebelumnya.
Menurut unggahan yang beredar di media sosial Korea, wakppubol dibuat dengan membentuk adonan lembut terlebih dahulu, kemudian mencelupkannya ke dalam lilin cair hingga seluruh permukaannya tertutup. Setelah mengeras, bola tersebut siap dimainkan. Banyak kreator konten yang membuat wakppubol dengan berbagai warna dan hiasan menarik, mulai dari nuansa pastel hingga desain yang terinspirasi dari karakter favorit mereka.
Popularitas wakppubol tidak lepas dari maraknya konten video pendek. Dalam beberapa detik, penonton dapat menyaksikan seluruh proses, mulai dari pembuatan, pendinginan, hingga saat bola itu akhirnya dipecahkan. Suara retakan lilin yang khas membuat banyak video wakppubol masuk ke kategori ASMR, yaitu konten audio visual yang dirancang untuk memberikan sensasi menyenangkan dan menenangkan.
Bagi sebagian orang, tren ini bukan sekadar hiburan biasa. Banyak pengguna media sosial Korea mengaku menikmati sensasi memecahkan wakppubol sebagai cara sederhana untuk mengurangi stres dan kecemasan setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Tak sedikit pula yang merasa puas melihat perubahan bentuk bola tersebut setelah lapisan luarnya pecah.
Fenomena ini juga didorong oleh budaya media sosial yang berkembang pesat di Korea Selatan. Berbagai tren sering kali menyebar dengan cepat ketika mulai dimainkan oleh influencer atau figur publik. Sejumlah idol K-pop dan kreator konten diketahui ikut mencoba wakppubol, sehingga popularitasnya semakin meningkat di kalangan anak muda.
Selain menjadi hiburan, wakppubol juga memunculkan sisi kreatif penggunanya. Banyak orang berlomba-lomba membuat desain yang unik agar video mereka menarik perhatian. Ada yang menambahkan warna-warna cerah, hiasan berbentuk bunga, hingga menciptakan bola dengan ukuran yang tidak biasa. Kreativitas tersebut membuat setiap unggahan memiliki ciri khas tersendiri.
Meski demikian, tren wakppubol tidak sepenuhnya lepas dari kritik. Sebagian warganet mempertanyakan dampak lingkungan dari mainan ini. Pasalnya, lapisan lilin yang telah dipecahkan umumnya tidak dapat digunakan kembali dan berpotensi menjadi limbah. Kekhawatiran ini memunculkan diskusi mengenai keberlanjutan tren yang mengandalkan barang sekali pakai.
Di sisi lain, ada pula yang menilai bahwa popularitas wakppubol menunjukkan perubahan cara anak muda mencari hiburan. Jika dahulu permainan identik dengan aktivitas yang dilakukan bersama teman atau keluarga, kini banyak hiburan yang lahir dari media sosial dan dinikmati secara individual. Konten-konten singkat yang mampu memberikan kepuasan instan pun semakin diminati.
Terlepas dari pro dan kontra yang ada, wakppubol berhasil membuktikan bahwa tren di internet dapat muncul dari hal-hal sederhana. Sebuah bola kecil yang dilapisi lilin mampu menarik perhatian jutaan orang hanya karena menawarkan pengalaman visual dan suara yang berbeda.
Fenomena wakppubol juga menjadi pengingat bahwa budaya populer Korea Selatan tidak hanya berkembang melalui musik dan drama, tetapi juga lewat tren-tren unik yang lahir di media sosial. Dengan kecepatan penyebaran informasi saat ini, bukan tidak mungkin tren yang sedang viral di Korea tersebut akan segera dikenal oleh masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Apakah kamu tertarik untuk membelinya?
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Dialami Nanik S Deyang, Benarkah Stres Bisa Sebabkan Penyakit Jantung? Ini Penjelasan Dokter
-
5 Cara Sederhana Redakan Stres Kerja agar Tidak Burnout, Mudah Dilakukan!
-
5 Rekomendasi Suplemen Magnesium untuk Atasi Insomnia dan Mengurangi Stres
-
Jajan Dulu, Tenang Kemudian: Coping Mechanism ala Gen Z, Aman Diteruskan?
-
Aturan Minum Magnesium yang Benar Biar Tak Mudah Stres dan Tidur Nyenyak di Usia 30-an
Lifestyle
-
Cari Laptop Rp5 Jutaan? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Kuliah dan Kerja
-
5 Rekomendasi Novel Keigo Higashino Terbaik, Sang Masterpiece Misteri Jepang
-
5 Lipstik Lokal untuk Bibir Hitam di Bawah Rp50 Ribu, Pigmentasinya Juara!
-
4 Moisturizer Lokal Beras untuk Kunci Kulit Glowing dan Plumpy Setiap Hari
-
Punya HP Lipat? Hindari 5 Kesalahan Ini Sebelum Terlambat
Terkini
-
Film Live-Action Look Back Masuk Kompetisi Festival Film Venesia ke-83
-
Review Film The Dink: Transisi Karir Atlet Muda hingga Menjadi Pelatih
-
Review See You at Work Tomorrow: Cinta yang Diuji oleh Rahasia Masa Lalu
-
Estetika Visual atau Trik Bisnis? Membongkar Praktik Shrinkflation di Balik Porsi Mini Kafe Viral
-
Bullet Train Explosion: Ketika Shinkansen Berpacu Melawan Bom dan Waktu