Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film A Man Called Otto (IMDb)
Ryan Farizzal

A Man Called Otto adalah film drama-komedi yang disutradarai oleh Marc Forster, merupakan remake Hollywood dari novel laris Fredrik Backman berjudul A Man Called Ove (dan adaptasi Swedia tahun 2015).

Film ini dirilis secara terbatas pada 29 Desember 2022 dan secara luas pada 13 Januari 2023 oleh Sony Pictures Releasing. Dengan durasi sekitar 126 menit, film ini dibintangi Tom Hanks sebagai Otto Anderson, didukung Mariana Treviño sebagai Marisol, serta penampilan pendukung dari Rachel Keller (Sonya), Manuel Garcia-Rulfo (Tommy), dan Truman Hanks yang memerankan Otto muda.

Sebuah Perjalanan Emosional Menemukan Makna Hidup

Salah satu adegan di film A Man Called Otto (IMDb)

Film ini mengisahkan Otto Anderson, seorang pria tua berusia 63 tahun yang pemarah, kaku, dan sangat terikat pada rutinitas di lingkungan pinggiran Pittsburgh. Enam bulan setelah kehilangan istrinya tercinta, Sonya, Otto kehilangan arah hidup. Ia pensiun dini dari pabrik baja, membatalkan utilitas rumah, dan berulang kali mencoba mengakhiri hidupnya untuk menyusul sang istri. Akan tetapi, setiap upaya bunuh diri tersebut selalu terganggu oleh intervensi tak terduga dari tetangga-tetangganya.

Kedatangan keluarga baru di sebelah rumahnya—Marisol yang sedang hamil besar, suaminya Tommy yang ceroboh, serta dua putri kecil mereka—menjadi titik balik. Marisol, dengan kepribadiannya yang cerdas, hangat, dan gigih, secara perlahan meruntuhkan tembok kesendirian Otto. Melalui interaksi sehari-hari, Otto mulai terlibat dalam kehidupan komunitas: membantu tetangga, mengadopsi kucing liar, melawan agen properti yang ingin menggusur tetangga lansia, serta membangun ikatan persahabatan dengan berbagai karakter seperti Jimmy, Malcolm, dan pasangan Reuben dan Anita.

Review Film A Man Called Otto

Salah satu adegan di film A Man Called Otto (IMDb)

Secara tema, A Man Called Otto mengeksplorasi kesedihan, kesepian, penebusan, dan pentingnya komunitas. Film ini menunjukkan bagaimana kehilangan dapat mengubah seseorang menjadi pribadi yang sinis, tetapi kebaikan kecil dari orang lain mampu menyembuhkan luka tersebut. Tom Hanks menghadirkan penampilan yang nuansa dan autentik, menggambarkan Otto sebagai karakter yang awalnya menyebalkan akan tetapi lambat laun menjadi relatable dan menyentuh. Chemistry antara Hanks dan Treviño menjadi kekuatan utama, menciptakan dinamika yang lucu sekaligus mengharukan.

Kritikus memberikan respons campuran: Rotten Tomatoes mencatat 70% fresh dengan rata-rata 6.1/10, sementara Metacritic di angka 51/100. Akan tetapi, penonton memberikan rating tinggi (A dari CinemaScore), menghargai pesan humanis dan elemen feel-good-nya. Film ini sukses secara komersial dengan pendapatan lebih dari 113 juta dolar AS di seluruh dunia dari budget 50 juta dolar AS. Kelemahan utama adalah beberapa klise dan pacing yang terasa formulaic, tetapi kekuatan emosional dan humor ringannya berhasil mengimbanginya kok.

Film ini tersedia di Prime Video Indonesia untuk disewa (rent) atau dibeli (buy). Saat ini, tidak ada indikasi bahwa film ini termasuk dalam langganan Prime Video secara gratis di wilayah Indonesia; kamu dapat menyewanya dengan harga terjangkau (sekitar Rp11.900 untuk HD sewa, atau lebih untuk pembelian permanen, tergantung promo). Subtitle bahasa Indonesia tersedia, sehingga mudah dinikmati penonton lokal. Ketersediaan ini sudah berlangsung sejak beberapa waktu lalu dan masih dapat diakses hingga setidaknya akhir 2026 di beberapa platform terkait. Pastikan memeriksa aplikasi Prime Video untuk update terkini, karena hak siar dapat berubah sewaktu-waktu.

Salah satu adegan paling dramatis adalah upaya bunuh diri Otto yang berulang kali, khususnya momen di mana ia menggantung diri di ruang tamu. Hook langit-langit runtuh, menciptakan campuran humor gelap dan kesedihan mendalam yang mencerminkan kerapuhan karakternya. Adegan ini efektif menunjukkan betapa putus asanya Otto, sekaligus menyisipkan elemen komedi yang menjadi ciri khas film.

Adegan paling berkesan dan mengharukan adalah kunjungan Otto ke makam Sonya. Di sana, ia berbicara dengan istrinya seolah-olah Sonya masih hidup, menceritakan hari-harinya, keluhan tentang tetangga, dan perkembangan hidupnya. Tom Hanks menyampaikannya dengan sangat natural, penuh emosi tertahan, membuatku merasakan kedalaman cinta dan kesedihan Otto. Adegan ini sering disebut sebagai puncak emosional film, mengingatkan kita pada nilai hubungan jangka panjang dan bagaimana kehilangan membentuk identitas seseorang.

Adegan lain yang tak terlupakan adalah saat Otto membantu persalinan Marisol di tengah kekacauan, atau momen-momen kecil seperti mengajari tetangga, berbagi makanan, dan akhirnya menerima peran sebagai kakek bagi anak-anak tetangga. Adegan pertemuan awal dengan tetangga baru juga ikonik, di mana Otto yang sedang frustrasi terpaksa menyelamatkan mereka dari kecelakaan kecil, memulai transformasinya.

Secara keseluruhan, A Man Called Otto adalah film yang hangat dan inspiratif. Meski tidak revolusioner, ia berhasil menyampaikan pesan bahwa tidak ada yang terlambat untuk berubah dan menemukan makna hidup melalui orang-orang di sekitar. Direkomendasikan bagi yang menyukai cerita karakter-driven dengan keseimbangan humor dan drama. Film ini mengingatkan kita untuk lebih empati dan terbuka terhadap sesama, terutama di era di mana kesepian menjadi semakin lumrah dan umum.

Tontonlah kalau kamu mencari hiburan yang menyentuh hati sekaligus menghibur. Tom Hanks sekali lagi membuktikan dirinya sebagai aktor serba bisa yang mampu menghidupkan karakter kompleks dengan kedalaman luar biasa. Rating pribadi: 7.5/10.