Akhirnya dibaca juga buku ini, buku paling legend dalam mata pelajaran sejarah Indonesia, buku yang menjadi pemicu perlawanan, apalagi kalau bukan Max Havelaar, buku yang menjadi penyebab munculnya Politik Etis. Sebuah karya sastra yang melegenda dan disebut sebagai salah satu tonggak penting yang memunculkan perlawanan terhadap kekejaman penjajahan Belanda di Indonesia. Hubungan antara novel Max Havelaar dan Politik Etis sangat erat, di mana novel karya Multatuli (Eduard Douwes Dekker) terbitan tahun 1860 tersebut menjadi pemicu utama munculnya kesadaran moral di negeri Belanda, yang kemudian melahirkan kebijakan Politik Etis pada tahun 1901.
Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker yang mulai terbit pada 1860 merupakan karya monumental yang banyak mengisahkan potret kondisi masyarakat Lebak pada masa kolonial Belanda. Sang penulis, yang menggunakan nama pena Multatuli, menggambarkan kondisi Kabupaten Lebak yang begitu mengenaskan karena dicekik oleh penjajah Belanda ditambah dengan cengkeraman penguasa feodal pribumi yang zalim pada masa itu.
Penerbitan novel ini diyakini mengguncang publik Belanda sendiri karena justru membuka mata dan pandangan rakyat Belanda tentang praktik kolonialisme kelam di bumi Nusantara. Pada masa itu, kolonialisme memang dianggap sebagai sebuah sistem yang wajar dan lumrah. Roman inilah yang akhirnya secara berani menggugat praktik penyelewengan dalam kolonialisme, di mana orang-orang pada masa itu hidup dalam delusi bahwa situasi di wilayah Hindia-Belanda baik-baik saja dan berjalan normal.
Peneliti karya Multatuli, Ubaidillah Muchtar, bahkan menyebut Max Havelaar bagaikan sebuah bom yang menyadarkan masyarakat akan kebobrokan sistem kolonialisme Belanda. Terbitnya karya ini diyakini sebagai penyebab terjadinya "gonjang-gonjang" di Belanda yang ramai-ramai mengkritik perlakuan pemerintah kolonial terhadap rakyat di wilayah jajahan.
Setelah novel ini terbit, terjadi gonjang-gonjang di Belanda dan akhirnya mereka sadar telah melakukan ketidakadilan. Narasi palsu tentang wilayah Hindia-Belanda yang makmur, aman, dan damai dipatahkan telak oleh Multatuli yang membeberkan fakta sebenarnya: adanya penyelewengan kekuasaan yang masif, rakyat diperas habis-habisan demi kekayaan negeri Belanda, sementara pribumi hanya disisakan sedikit sekadar agar tidak mati kelaparan. Pemberitaan palsu tentang wilayah jajahan yang makmur di bawah penjajahan Belanda yang dibongkar habis oleh Multatuli inilah yang akhirnya memunculkan Politik Etis pada periode 1900-an.
Gerakan Politik Etis dari rakyat Belanda sebagai dampak langsung dari novel Max Havelaar memunculkan gagasan tentang perlunya membayar utang budi terhadap tanah jajahan di wilayah Hindia-Belanda. Politik Etis ini mempunyai tiga konsep utama yang dikenal sebagai Trias Politika Belanda, yaitu Irigasi untuk memperbaiki taraf kehidupan masyarakat pribumi dalam bidang pangan dan pertanian, Emigrasi dalam hal mobilitas tenaga kerja, serta Edukasi atau memberikan akses pendidikan formal bagi masyarakat pribumi.
Ide politik etis inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai awal kehancuran cengkeraman kolonialisme Belanda di Nusantara. Khusus untuk program edukasi yang akhirnya diberikan oleh pemerintah kolonial bagi kaum pribumi, hal ini diyakini sangat berpengaruh besar pada lahirnya kaum intelektual dan masyarakat terpelajar di wilayah Nusantara. Mereka menjadi "melek" secara politik dan sosial, lalu bersatu untuk memerdekakan Indonesia, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan para tokoh pejuang terdidik lainnya.
Meskipun masa kolonial telah lama lewat, karya ini dinilai masih sangat relevan untuk dipelajari pada masa kini. Ubaidillah, yang juga menjabat sebagai Kepala Museum Multatuli di Lebak, Banten, menyebutkan bahwa diterjemahkannya novel ini ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia menunjukkan masih tingginya minat pembaca global terhadap karya-karya Multatuli.
Semangat anti-kolonialisme, anti-penyelewengan kekuasaan, anti-korupsi, serta nilai-nilai kemanusiaan yang diusung dalam buku ini masih sangat patut untuk dibaca dan direnungkan. Praktik feodalisme dan kolonialisme di bumi Indonesia pada masa lalu yang sama-sama korup serta menindas rakyat kecil dapat terus dipelajari, sebab tindakan-tindakan keliru serupa nyatanya masih kerap terjadi dalam birokrasi modern saat ini.
Begitu pentingnya peran karya ini atas perjalanan sejarah bangsa Indonesia hingga membuat sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer menegaskan urgensi mempelajari Max Havelaar. Pramoedya bahkan pernah berkata bahwa seorang politikus yang tidak mengenal Multatuli praktis tidak akan mengenal humanisme atau humanitas secara modern. Sebab, seorang politikus yang buta terhadap pemikiran Multatuli berisiko tumbuh menjadi penguasa yang kejam akibat tidak memahami akar sejarah penindasan dan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati.
Identitas Buku:
- Judul: Max Havelaar
- Penulis: Multatuli
- Penerbit: Anak Hebat Indonesia
- ISBN: 9786235150994
Baca Juga
-
Menyelami 150 Tahun Sejarah Indonesia dalam Semalam Bersama Lembu Semar
-
Sembunyi di Bawah Meja Demi Nyawa: Tragedi Mei 1998 Lewat Mata Bocah Cina
-
Rahasia Gelap Mantan Tunawisma di Balik Minimarket yang Merepotkan!
-
Seteru dengan Pramoedya hingga Si Oyen: Sisi Lain Buya Hamka dalam Ayah
-
Menembus Silicon Valley dari Kampus UDEL: Tamparan Pedas Sarjana Kertas
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menemukan Ruang Sunyi dalam Selamat Menunaikan Puisi Karya Joko Pinurbo
-
5 Buku Rekomendasi Wonwoo SEVENTEEN, Ada yang Sudah Kamu Baca?
-
Menyelami 150 Tahun Sejarah Indonesia dalam Semalam Bersama Lembu Semar
-
Andai Waktu Bisa Diulang Kembali: Hadir dengan Pesan Moral Paling Menyentuh
-
Review The Lost Library: Misteri Perpustakaan Hilang yang Penuh Kejutan
Terkini
-
5 Low pH Cleanser Lokal yang Aman untuk Kulit Sensitif, Cuma Rp30 Ribuan!
-
Praktis Banget! 5 Serum Pad yang Bikin Kulit Makin Glowing
-
Puluhan Tahun Jadi Sineas, Christopher Nolan Takut Garap Film Bergenre Ini
-
4 Tinted Sunscreen Tanpa Alkohol dan Pewangi Atasi PIH pada Kulit Sensitif
-
Tren Gaya Hidup Baru Perempuan Gen Z: Dari Quiet Luxury ke Quiet Living