Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Kehidupan Sosial di Batavia (Dok. Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Pernah nggak sih kalian bertanya-tanya tentang bagaimana rupa Batavia di era kolonial? Apakah seperti di film-film Eropa? Ketika membayangkan Batavia pada masa kolonial, banyak orang mungkin membayangkan sebuah kota yang sepenuhnya dikuasai dan dibentuk oleh budaya Belanda. Namun, gambaran tersebut ternyata jauh lebih kompleks.

Dalam buku Kehidupan Sosial di Batavia: Orang Eropa dan Eurasia di Hindia Timur, sejarawan Jean Gelman Taylor menunjukkan bahwa masyarakat kolonial di Batavia bukanlah komunitas Eropa yang murni. Sebaliknya, kota ini menjadi ruang pertemuan berbagai budaya yang melahirkan identitas baru, yaitu masyarakat Eurasia atau Indo.

Buku yang merupakan terjemahan dari The Social World of Batavia: Europeans and Eurasians in Colonial Indonesia ini mengupas kehidupan sosial masyarakat kolonial sejak berdirinya Batavia oleh Jan Pieterszoon Coen pada awal abad ke-17 hingga menjelang berakhirnya era VOC. Dengan ketebalan 387 halaman, karya ini menawarkan perspektif yang berbeda dari sejarah kolonial yang biasanya berfokus pada politik dan ekonomi.

Isi Buku

Salah satu temuan menarik dalam buku ini adalah kenyataan bahwa masyarakat elite Batavia justru banyak dibentuk oleh perempuan Asia. Pada masa awal kolonisasi, VOC mengalami kesulitan mendatangkan perempuan Belanda dalam jumlah besar ke Hindia Timur. Akibatnya, banyak pegawai VOC menjalin hubungan dengan perempuan lokal maupun perempuan Asia dari wilayah koloni Belanda lainnya.

Untuk mengurangi praktik pergundikan atau hubungan tidak resmi, VOC kemudian mendorong pernikahan legal antara pegawai Eropa dan perempuan Asia yang telah dibaptis. Dari sinilah lahir komunitas Eurasia yang menjadi tulang punggung masyarakat kolonial.

Dalam beberapa generasi, muncul kelompok elite berdarah campuran yang memiliki status hukum sebagai orang Eropa, meskipun secara budaya mereka sangat dipengaruhi oleh lingkungan Asia.

Taylor menunjukkan bahwa komunitas ini bahkan membangun pola sosial yang unik. Kekayaan, status sosial, dan jaringan kekuasaan sering kali diwariskan melalui garis perempuan. Pernikahan menjadi instrumen penting untuk meningkatkan status sosial dan memperluas jaringan politik. Seorang pejabat VOC yang menikahi perempuan dari keluarga Eurasia terpandang berpeluang memperoleh akses yang lebih besar terhadap kekuasaan dan kekayaan.

Lahirnya Budaya Indisch atau Budaya Mestizo

Menariknya, proses asimilasi budaya berlangsung dua arah. Jika selama ini kolonialisme sering dipahami sebagai proses pemaksaan budaya Barat kepada masyarakat lokal, Batavia menunjukkan fenomena yang berbeda. Banyak orang Eropa justru mengadopsi kebiasaan Asia dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka mengenakan kebaya di lingkungan rumah, duduk di tikar, makan sirih, mandi beberapa kali sehari, hingga menggunakan bahasa Melayu dalam percakapan sehari-hari. Bahkan dalam urusan pengasuhan anak, pengaruh perempuan pribumi dan para pengasuh lokal sangat besar. Kebiasaan yang awalnya dianggap asing oleh orang Eropa lambat laun menjadi bagian dari kehidupan kolonial.

Fenomena ini melahirkan budaya yang dikenal sebagai budaya Indisch atau budaya Mestizo, yaitu perpaduan antara unsur Eropa dan Asia. Dalam banyak aspek, budaya tersebut lebih dekat kepada kehidupan masyarakat Nusantara dibandingkan dengan budaya Belanda murni.

Namun, identitas campuran ini tidak selalu diterima dengan baik. Seiring semakin banyaknya orang Belanda yang datang langsung dari Eropa pada abad ke-19, muncul upaya untuk “mengeropakan kembali” masyarakat kolonial. Pemerintah kolonial berusaha menghapus kebiasaan yang dianggap terlalu pribumi dan memperkuat identitas Eropa.

Negosiasi Budaya, Pembentukan Identitas Baru, serta Peran Besar Perempuan

Masa pemerintahan Herman Willem Daendels dan kemudian Thomas Stamford Raffles menjadi titik penting dalam proses tersebut. Gaun Eropa mulai dipromosikan menggantikan kebaya, kebiasaan menyirih dianggap tidak beradab, dan berbagai institusi sosial dibangun untuk memperkuat gaya hidup Barat.

Meski demikian, upaya tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Budaya Indisch tetap bertahan dalam kehidupan domestik selama bertahun-tahun. Bahkan banyak pejabat tinggi kolonial yang lahir dan besar di Hindia sehingga memiliki kedekatan budaya dengan masyarakat lokal.

Melalui penelitian yang mendalam, Taylor berhasil menunjukkan bahwa sejarah kolonial tidak sesederhana hubungan antara penjajah dan yang dijajah. Di balik struktur kekuasaan kolonial, terdapat proses negosiasi budaya, pembentukan identitas baru, serta peran besar perempuan yang sering diabaikan dalam penulisan sejarah.

Kehidupan Sosial di Batavia menjadi bacaan penting bagi siapa saja yang ingin memahami wajah kolonialisme dari sisi yang lebih manusiawi. Buku ini mengingatkan bahwa Batavia bukan sekadar kota Belanda di Asia, melainkan ruang percampuran budaya yang melahirkan masyarakat unik dengan identitas yang tidak sepenuhnya Eropa dan tidak pula sepenuhnya pribumi. Dari sanalah lahir salah satu bab paling menarik dalam sejarah sosial Indonesia.

Identitas Buku

  • Judul Asli: The Social World of Batavia: Europeans and Eurasians in Colonial Indonesia
  • Judul Terjemahan: Kehidupan Sosial di Batavia: Orang Eropa dan Eurasia di Hindia Timur
  • Penulis: Jean Gelman Taylor
  • Penerbit: Masup Jakarta 
  • Tahun Terbit: 2009 
  • Tebal: 387 Halaman
  • ISBN: 978-979-15706-5-7
  • Kategori: Budaya, Politik, Sosial