Suara tawa dan jeritan terdengar hampir bersamaan di dalam bioskop. Yup, seseorang baru saja dikejutkan kemunculan hantu di layar, lalu beberapa detik kemudian tertawa karena tingkah konyol karakter yang panik setengah mati. Kombinasi yang terlihat aneh ini menjadi salah satu formula paling populer dalam perfilman Indonesia beberapa tahun terakhir.
Fenomena tersebut kembali mencuat melalui film Dukun Magang, garapan sutradara Chiska Doppert yang diproduksi oleh Dens Vision Multimedia. Film ini dibintangi sederet nama seperti Jefan Nathanio, Hana Saraswati, Adi Sudirja, Dodit Mulyanto, Mo Sidik, Wira Nagara, Fajar Nugra, Mang Osa, Salsabila Zahra, hingga Gabriel Austin.
Alih-alih menawarkan horor yang isinya teror tanpa jeda, Dukun Magang tampil beda. Film ini memadukan dunia mistis dengan humor yang ringan, menghadirkan pengalaman menonton yang membuat penonton bergantian merasa tegang sekaligus terhibur. Masa, sih?
Oh, pastinya, Sobat Yoursay. Ceritanya berpusat pada Raka, mahasiswa tingkat akhir yang frustrasi karena skripsinya terus mengalami hambatan. Demi mendapatkan bahan penelitian yang menarik, ia mengikuti Sekar menuju Desa Kalimati, desa yang masih lekat dengan tradisi dan praktik perdukunan.
Awalnya, perjalanan itu hanya dianggap sebagai bagian dari pencarian bahan akademik. Namun, keadaan berubah ketika insiden tidak terduga membuat Kuntilanak Hitam yang telah dikurung selama dua belas tahun kembali bebas.
Terjebak Menjadi Dukun Dadakan
Kemunculan makhluk gaib tersebut memicu teror yang mengancam seluruh warga desa. Merasa ikut bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi, Raka akhirnya menjalani proses yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: belajar menjadi dukun.
Di bawah bimbingan Mbah Djambrong, dukun senior yang dihormati warga, Raka mulai mempelajari berbagai ritual dan pengetahuan mistis. Masalahnya, dia bukan orang yang terbiasa dengan dunia tersebut. Sebagai mahasiswa yang lebih akrab dengan teori, penelitian, dan skripsi, hampir semua hal yang Raka pelajari terasa begitu asing.
Dari sinilah berbagai situasi absurd bermunculan. Raka berkali-kali melakukan kesalahan, salah memahami petunjuk, hingga terjebak dalam berbagai kejadian kocak yang membuat perjalanan melawan Kuntilanak Hitam menjadi sangat menggelitik.
Mengapa Horor Komedi Bikin Nagih?
Sekilas kisahnya memang menarik, tetapi mengapa film horor yang seharusnya membuat takut sekarang malah banyak disukai karena memancing tawa?
Jadi begini. Menurutku, rasa takut dan tawa jelas saling bertolak belakang. Padahal, secara pengalaman menonton, keduanya memiliki kemiripan yang cukup besar. Ketika terkejut, tubuh bereaksi spontan. Detak jantung meningkat, perhatian menjadi lebih fokus, dan emosi bergerak dengan cepat. Hal yang sama juga terjadi saat seseorang tertawa karena sebuah lelucon.
Karena itulah horor dan komedi sering kali berjalan berdampingan. Keduanya sama-sama mengandalkan kejutan.
Dalam film yang seratus persen horor, kejutan digunakan untuk menciptakan rasa takut. Sementara dalam komedi, kejutan digunakan untuk memancing tawa. Ketika kedua elemen tersebut digabungkan, penonton mendapatkan pengalaman menonton yang lebih dinamis.
Film Dukun Magang tampaknya memahami hal tersebut dengan cukup baik. Film ini tidak berusaha membuat penonton berada dalam kondisi tegang selama dua jam penuh. Sebaliknya, ketegangan diberikan secukupnya, lalu dilepaskan melalui humor yang muncul dari karakter maupun situasi.
Jalan Tengah yang Nyaman bagi Penonton
Pendekatan seperti ini juga menjelaskan mengapa horor komedi begitu populer di Indonesia. Sinefil di Indonesia sebenarnya sangat dekat dengan cerita-cerita mistis. Hampir setiap daerah memiliki kisah hantu, legenda, atau kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, tidak semua penonton menyukai horor yang terlalu gelap atau terlalu brutal.
Horor komedi menjadi jalan tengah yang nyaman. Penonton tetap bisa menikmati unsur mistis yang akrab tanpa harus merasa terlalu tertekan oleh suasana yang mencekam.
Tidak heran jika berbagai film horor komedi terus bermunculan dan berhasil menarik perhatian pasar. Formula ini memungkinkan film menjangkau penonton yang lebih luas, termasuk mereka yang sebenarnya tidak terlalu menyukai genre horor.
Itulah alasan mengapa kuanggap film Dukun Magang bukan sekadar film tentang mahasiswa yang belajar menjadi dukun. Film ini juga menjadi contoh bagaimana genre horor terus beradaptasi dengan kebutuhan penonton masa kini.
Banyak penikmat film saat ini tidak hanya mencari rasa takut. Mereka juga mencari hiburan. Mereka ingin keluar dari bioskop dengan pengalaman yang menyenangkan, bukan hanya dengan perasaan tertekan atau ketakutan.
Melalui perpaduan antara dunia kampus, ilmu perdukunan, Kuntilanak Hitam, dan sederet karakter yang kerap memancing tawa, Dukun Magang rupanya mampu hadir dalam bentuk yang lebih santai tanpa kehilangan daya tariknya.
Nah, buat Sobat Yoursay yang mau tertawa lepas di bioskop, jangan ragu beli tiket film Dukun Magang. Selamat menonton!
Baca Juga
-
Review Film Akal Imitasi: Ketika AI Masuk Kelas, Pintar Jadi Kian Mahal?
-
Review I Play Rocky: Kisah Stallone Kalah Besar dari Karakter Fiksinya
-
Review The Stunt Driver: Kisah Nyata Luar Biasa, tapi Filmnya Biasa Saja
-
Harumkah Bunga di Surga?
-
Review Best of the Best: Film Tari yang Lupa Memberi Ruang pada Tariannya
Artikel Terkait
-
Ketika Film Cerita Lila Menjadi Cerminan Luka Masa Kecil
-
Meisya Amira Jadi Wanita Tunawicara yang Menggila di Film Juminten Edan
-
Fajar Nugra Gunakan Pakaian Dalam Wanita untuk Pelet di Film Pemikat Jiwa
-
Legislator PDIP Kritik Ekspansi Bioskop: Jangan Sampai Jadi Risiko Baru bagi Industri Film
-
NGORBIT: Dari Skripsi ke Dunia Gaib, Perjalanan Raka di Film 'Dukun Magang'
Ulasan
-
Inner Child, Trauma, dan Topeng Superhero: Pelajaran dari Buku dr. Andreas
-
Review Time To Hunt: Keinginan untuk Kabur yang Membawa Kita Pada Perburuan
-
Jangan Takut Laba-Laba Sebelum Membaca "Weaver and the Web"
-
Badland Hunters: Ketika Dunia Hancur, Apa yang Membuat Kita Tetap Bertahan?
-
Series Still Single: Saat Jodoh Tidak Sesuai Ramalan Zodiak
Terkini
-
Logo Sudah Dirilis, Narnia: The Magician's Nephew akan Tayang Februari 2027
-
Politik Nggak Ngaruh ke Hidup? Tunggu Sampai Bencana Datang ke Depan Rumah
-
Praktis! 5 Tone Up Body Spray Ini Bikin Kulit Cerah dan Glowing Seketika
-
Grand Blue Dreaming Umumkan Season 4, Kehidupan Percintaan Iori Makin Rumit
-
Di Balik Kemewahan AI Indonesia: Ada Bumi yang Kian Gerah