Petaka Gunung Welirang, disutradarai oleh Indra Gunawan dan diproduksi oleh StarVision Plus, merupakan film horor petualangan Indonesia yang tayang perdana di bioskop seluruh Indonesia mulai 2 Juli 2026. Film ini mengangkat kisah mistis seputar Gunung Welirang, khususnya wilayah Alas Lali Jiwo, yang terinspirasi dari cerita rakyat dan pengalaman pendakian nyata. Dengan durasi sekitar 105 menit, film ini menggabungkan elemen petualangan, drama persahabatan, serta teror supranatural bernuansa budaya Jawa.
Ujian Nyata Kesetiaan Lima Sahabat
Sinopsis film berfokus pada lima sahabat yang merayakan kelulusan mereka dengan mendaki Gunung Welirang. Awalnya, perjalanan ini dimaksudkan sebagai momen kebersamaan, pencarian matahari terbit, dan penyembuhan diri. Akan tetapi, ketika melewati Alas Lali Jiwo, kelompok tersebut mendengar suara gamelan yang aneh. Mereka pun tersesat dan bertemu dengan sosok Ratu Welirang beserta pasukan kerajaannya. Misteri kuno yang tersembunyi di gunung tersebut mulai terungkap, mengubah liburan menyenangkan menjadi petaka yang mencekam. Cerita ini ditulis oleh Upi berdasarkan kisah dari Maya Azka, menampilkan pemeran utama seperti Antonio Blanco Jr., Alika Jantinia, Giulio Parengkuan, Razan Zu, dan Jinan Safa.
Overall, Petaka Gunung Welirang berhasil memanfaatkan latar alam Gunung Welirang yang indah sekaligus menyeramkan. Sinematografi oleh Ujel Bausad menangkap keindahan hutan dan kabut pegunungan dengan baik, menciptakan kontras yang kuat antara keindahan alam dan ancaman gaib. Musik latar yang memadukan gamelan tradisional dengan elemen horor modern semakin memperkuat atmosfer mistis. Akting para pemeran muda terasa natural, terutama dalam menggambarkan dinamika persahabatan. Ikatan emosional antar karakter menjadi kekuatan utama film ini, meskipun menurutku horornya minim sih dan lebih condong ke drama.
Review Film Petaka Gunung Welirang
Film ini menawarkan teror yang bernuansa budaya, dengan referensi mitologi lokal seperti sosok Ratu Welirang. Berbeda dari horor pendakian konvensional, Petaka Gunung Welirang mencoba mengeksplorasi tema persahabatan, pengkhianatan rahasia, dan konsekuensi dari mengganggu tempat suci. Akan tetapi, bisa dibilang naskahnya masih mengikuti template film horor gunung Indonesia seperti KKN di Desa Penari atau Petaka Gunung Gede, dengan twist yang kurang inovatif. Meski demikian, arahan Indra Gunawan berhasil menjaga ketegangan secara bertahap, meski horor jump scare-nya tidak terlalu dominan.
Salah satu adegan paling menyeramkan terjadi saat kelompok tersesat di Alas Lali Jiwo. Suara gamelan yang semakin mendekat disertai munculnya sosok Ratu Welirang dan pasukan kerajaannya menciptakan ketegangan visual dan auditori yang intens. Bayangan figur-figur berpakaian kerajaan kuno yang muncul di tengah kabut tebal, diikuti oleh kejadian supranatural yang membuat para pendaki panik, berhasil membuatku dan penonton yang ada di bioskop merasa tidak nyaman. Adegan ini memanfaatkan pencahayaan redup dan sound design yang efektif untuk membangun rasa takut yang mendalam. Kurasa bagian ini sebagai puncak teror film, karena menggabungkan elemen visual mistis dengan ancaman fisik yang nyata.
Adegan yang paling melekat di benakku setelah film usai adalah kejadian di rumah sakit pasca-pendakian. Di sini, salah satu karakter mengalami kejang-kejang secara tiba-tiba yang disertai manifestasi supranatural dari Ratu Welirang. Adegan ini dinilai sangat mencengangkan dan tidak terduga, meskipun agak mendadak. Kombinasi antara trauma emosional, pengungkapan rahasia antar sahabat, dan elemen horor klinis membuatnya sulit dilupakan. Adegan ini juga memperkuat tema film tentang bagaimana petaka di gunung dapat membawa dampak jangka panjang ke kehidupan sehari-hari.
Kelebihan film ini terletak pada representasi budaya dan penghargaan terhadap keselamatan pendakian. Ia mengingatkan penonton akan pentingnya menghormati alam dan mitos setempat. Akan tetapi, kekurangannya ada pada pacing yang kadang lambat di bagian tengah dan horor yang kurang intens bagi penggemar genre hardcore. Visual effects dan makeup untuk sosok gaib cukup memadai, meski tidak revolusioner.
Jadi intinya, Petaka Gunung Welirang adalah tontonan yang solid untuk pencinta horor lokal yang menyukai setting gunung. Dengan rating usia 13+, film ini cocok ditonton bersama teman atau keluarga yang menyukai genre petualangan mistis. Buat kamu yang pernah mendaki atau tertarik dengan folklore Jawa, film ini akan terasa lebih relatable. Meski tidak sepenuhnya orisinal, ia menyajikan hiburan yang menghibur dan sedikit mendidik. Aku rekomendasikan untuk ditonton di bioskop agar pengalaman atmosfernya lebih maksimal.
Dengan tayang perdana mulai 2 Juli 2026, Petaka Gunung Welirang berpotensi menjadi salah satu film horor Indonesia yang dibicarakan tahun ini. Buat kamu yang mencari film dengan kombinasi petualangan dan ketegangan, film ini layak masuk daftar tontonan. Rating pribadi: 8/10.
Baca Juga
-
Review Elle: Nostalgia 90-an dengan Pesan Optimisme yang Tak Terlupakan
-
Review Film Dan Da Dan: Evil Eye, Babak Baru Petualangan Momo dan Okarun
-
Enola Holmes 3: Hadir dengan Konflik Pernikahan dan Konspirasi Kolonial
-
Lebih dari Sekadar Sci-Fi, Human Vapor Sajikan Body-Horror yang Bikin Merinding
-
Review Film Deep Water: Sajikan Thriller Survival yang Penuh Ketegangan!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Di Balik Bullying Mahasiswi Populer: Teror Bangkawarah yang Menjemput Nyawa
-
Nasi Goreng di Restoran Jepang? Mencicipi Chicken Tokio Goulash Zenbu
-
Seni Memahami Kekasih: Potret Hubungan 'Anak Muda Miskin' yang Sangat Relate dengan Kehidupan Nyata
-
Review Jujur The Prodigy: Saat Kejeniusan Berubah Menjadi Senjata Mematikan
-
Review Color Book: Meramu Duka Menjadi Perjalanan Cinta yang Begitu Tulus
Terkini
-
RAM 24 GB, Kamera OIS, Baterai 8000 mAh! Ini HP Realme Terbaik
-
Piala Dunia 2026 Hampir Berakhir, Saatnya Cari Hiburan Lain?
-
Wajah Lembap dan Sehat! 4 Cleanser Probiotic Jaga Mikrobioma Skin Barrier
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan
-
Argentina Lolos Dramatis ke Perempat Final, Messi Raih Player of the Match