Lintang Siltya Utami | Reza Agustin
Poster Film Singsot: Siulan Kematian (IMDb)
Reza Agustin

Setelah film pendeknya, Singsot diadaptasi ke format layar lebar pada 13 Maret 2025 oleh Clockwork Films dan pada 17 Juli 2025 dapat ditonton melalui gawai secara resmi di Netflix. Premisnya masih sama, sutradaranya sama, tetapi dengan durasi yang lebih lama, penambahan karakter, dan intrik baru yang lebih luas.

Sinopsis

Sebuah insiden yang dikaitkan dengan peristiwa paranormal menimpa Agus Pete (Jamaluddin Latif) yang menyebabkannya menderita sakit misterius. Imbas dari kejadian tersebut, warga desa mulai merasa terancam. Ipung (Ardhana Jovin) dinasihati oleh neneknya (Sri Isworowati) agar tidak bersiul ketika magrib seperti yang dilakukan sang kakek (Landung Simatupang) karena dianggap akan membawa kesialan. Malam itu, Mbah Darmo (Teguh Mahesa) yang harusnya pergi ronda ditemukan tergeletak tak sadarkan diri di rumahnya hingga akhirnya meninggal esoknya secara mendadak. 

Sementara itu sang kakek yang merupakan penghobi burung bersama sahabatnya Mbah Manto (Fajar Suharno) menaruh kecurigaan bahwa sakit misterius Agus Pete dan kematian Mbah Darmo memiliki keterkaitan. Ipung pun mulai mengalami serangkaian teror menyeramkan yang mulai mengancam nyawanya. Di sisi lain, Wiwik (Siti Fauziah) istri Agus Pete juga mulai menunjukkan gelagat aneh.

Membandingkan dengan Versi Film Pendeknya

Menikmati versi adaptasi dari jenis karya menjadi karya lain, maka membanding-bandingkan tak bisa dihindari. Di versi layar lebar yang lebih panjang ini ada berbagai hal baru dan segar jika dibandingkan dengan versi film pendeknya. Salah satunya adalah penambahan karakter Wiwik yang pemerannya pernah viral setelah menghidupkan karakter Bu Tejo di film Tilik.

Ia berhasil pula menghidupkan karakter seorang Wiwik yang sedang kepepet menjadi antagonis. Tak lupa pula eksplorasi tentang budaya spiritual pun menjadi lebih luas. Misalnya diselipkannya tentang kepemilikan pegangan dan juga pesugihan yang sebelumnya tak ada di versi pendeknya. Dua hal tersebut menjadi bagian penting dan menghidupkan film ini. Sebagaimana yang kita tahu simbah-simbah zaman dulu memiliki pegangan dan ilmu untuk melindungi diri dari berbagai serangan spiritual, juga sebaliknya. Ilmu dan pegangan tersebut juga dipakai  untuk menyerang dan melukai seseorang.

Hal yang saya sukai dari versi lebih panjangnya adalah dengan tetap memasukkan adegan-adegan ikonik di film pendeknya. Seperti adegan sembunyi di bawah ranjang dan kepala di sangkar itu. Memang sedikit spoiler, tapi saya merasa dua adegan itu sangat sayang jika dihilangkan. Seperti bumbu yang menambah kadar kengeriannya. Di versi lebih panjangnya ini lebih banyak pula bentuk-bentuk teror yang dihadirkan sehingga semakin bertambah rasa takut dan ngerinya. Konflik antar karakter juga menjadi bumbu pelengkap yang nantinya menambah ketegangan.

Ulasan Singsot: Siulan Kematian

Hal favorit saya mengenai film ini adalah akting pemainnya yang sangat luwes dan membumi. Pemilihan aktor lokal dengan lidah Jawa asli membuat setiap dialognya terasa alami. Bukan sekadar aksen yang dibuat-buat. Chemistry antar pemain juga terbangun dengan baik. Terutama antara karakter Ipung dan kakeknya yang terjalin erat juga ikut membangun berbagai emosi di  dalamnya.  Pun ketegangan yang diciptakan dalam film ini juga didukung oleh pemilihan setting desa yang masih asri dan terkesan seram dengan pepohonan dan hutan gelapnya.

Adapun beberapa hal lain yang membuat saya menikmati film ini adalah bagaimana ketegangan yang dibangun dalam filmnya juga terkesan natural. Melalui dialog-dialog yang luwes, akting pemainnya, juga tone di film ini sendiri. Dengan warna-warna gelap, penonton akan dikuasai oleh suasana muram dan menakutkan.

Namun, jika disuruh membicarakan bagian-bagian yang dirasa masih kurang, mungkin inilah jawaban saya. Selayaknya film horor Indonesia pada umumnya yang banyak menampilkan jumpscare, ada beberapa bagian dari jumpscare tersebut yang berhasil menimbulkan ketakutan tetapi ada pula yang terkesan flat saja. Namun, masih sedikit mengejutkan karena didukung suara latar belakang. Di sisi lain, ada beberapa efek animasi visual di film ini yang agak kurang sehingga terasa kurang proper saja. Walaupun sebenarnya tak mengganggu alur atau mempengaruhi cerita, tapi tetap saja terasa kurang memuaskan.

Kesimpulan

Menonton film yang durasinya kurang dari dua jam ini, sebenarnya terasa cukup padat. Mulai dari ketakutan dan kengeriannya. Sayangnya perasaan tidak nyaman yang ditinggalkan versi layar lebarnya tak bertahan lama seperti versi film pendeknya. Mungkin karena poin-poin di atas. Namun, bukan berarti film ini tidak patut untuk dinikmati. Saya cukup menikmati film ini. Dengan jalan cerita yang lebih segar, akting mumpuni, dan suasana ngeri sepanjang film, Singsot: Siulan Kematian bisa jadi tontonan seru yang membangkitkan rasa takut walaupun sedang tidak melanggar mitos atau pantangan. Jika harus memberi nilai, mungkin nilainya 3/5 saja. 

Informasi Film

  • Judul: Singsot: Siulan Kematian
  • Sutradara: Wahyu Agung Prasetyo
  • Produksi: Clockwork Films, Ravacana Films
  • Pemain: Ardhana Jovin, Landung Simatupang, Sri Isworowati, Jamaluddin Latif, Siti Fauziah, Fajar Suharno, Teguh Mahesa, dll
  • Durasi: 75  menit
  • Tayang: Netflix