M. Reza Sulaiman | Reza Agustin
Ilustrasi ular dan rumah. (Dok. Pribadi/Ibispaint)
Reza Agustin

Ibuku memulai warungnya setahun lalu, selang beberapa bulan semenjak Bapak meninggal. Karena jika tidak ada Bapak, tidak ada lagi tulang punggung keluarga. Beban sebagai tulang punggung keluarga berpindah pada kami, aku dan Ibu. Warung itu dibangun di halaman depan rumah menggunakan uang sisa santunan kematian Bapak. Ibu tidak memasang spanduk apa pun karena dananya terbatas. Namun, warung kecil tersebut segera menjadi ramai karena pada dasarnya masakan Ibu memang enak dan harganya lebih miring dibandingkan dengan warung lain.

Kendati hanya menyajikan menu sederhana berupa masakan rumahan seperti oseng-oseng, perkedel, sayur bening, dan berbagai macam gorengan, nyatanya warung Ibu bisa bersaing dengan warung lain yang sudah lebih dulu berdiri. Sebut saja warungnya Bu Broto. Warung tersebut telah berusia belasan tahun dan selalu ramai karena buka pagi-pagi sekali. Selalu jadi tujuan pembeli ketika mencari sarapan cepat sebelum beraktivitas. Salah satu sepupuku pun bekerja di sana sejak berdiri, Mbak Nur namanya. Ia pula yang memberikan saran kepada Ibu ketika berniat membuka warung. Misalnya mencari pedagang yang harga bahan bakunya lebih murah, juga membawakan gorengan untuk diberikan kepada tukang ketika membangun warung.

Sudah setahun berjalan, warung kecil Ibu bisa dibilang masih ramai pembeli. Namun, beberapa hari kemarin Ibu mengeluhkan munculnya hewan-hewan aneh yang masuk ke dalam warung. Mula-mulanya serangga kecil seperti kalajengking dan kelabang, lalu kemarin muncullah ular hitam dengan ukuran cukup besar masuk ke dapur. Tanganku sempat disengat kalajengking tersebut sampai bengkak besar dan tidak bisa membantu Ibu secara maksimal. Belum habis kena sengat kalajengking, pagi ini aku hampir dipatuk ular besar ketika hendak membuka warung. Ular tersebut berukuran cukup besar dan berwarna hitam legam.

Ular yang tidak pernah kami lihat sebelumnya. Bahkan kemunculan serangga dan ular tersebut sudah terasa cukup janggal. Selama puluhan tahun menempati rumah ini, kami jarang sekali menemukan hewan-hewan tersebut dalam keadaan hidup karena sudah lebih dulu diburu kucing peliharaan sendiri maupun kucing tetangga. Perilaku mereka pun aneh karena terkesan tidak takut kepada manusia dan malah sengaja menakut-nakuti. Setelah kuceritakan perihal kejanggalan hewan-hewan tersebut, Ibu tiba-tiba saja menjerit.

Ia harusnya mengangkat pepes yang baru saja matang untuk disajikan ke meja, tetapi pepes itu tidak jadi terhidang karena di dalam dandang itu pula terkukus kelabang dan kalajengking. Seketika perasaan kami memburuk dan Ibu memutuskan untuk menutup warung lebih awal bahkan sebelum sempat dibuka. Hari-hari berikutnya pun, ular hitam besar itu kembali muncul. Kali ini kedatangannya benar-benar menakuti pembeli yang sedang makan di tempat. Sebagai puncaknya, ada satu kejadian yang harus segera kukatakan kepada Ibu.

Pukul tiga pagi, aku terbangun entah karena apa. Saat itulah aku mendengar langkah kaki seseorang di luar rumah. Aku mengintip dan menemukan sosok hitam sedang mengelilingi warung kami sambil menebarkan sesuatu. Ketakutan, aku memilih menyambung tidur dengan perasaan gamang. Pagi harinya ketika kucek, tanah yang disebar di sekeliling warung tersebut masih terkesan basah. Ada beberapa kelopak bunga dan irisan daun pandan pula. Membuatku berspekulasi bahwa tanah yang ditebar tersebut adalah tanah kuburan. Sejak kejadian-kejadian aneh tersebut, Ibu memutuskan menutup warung. Ia yakin ada seseorang yang memiliki niat jahat kepada warung kami.

Ibu akhirnya beralih memasarkan masakan matang seperti pepes dan garang asem* lewat status WhatsApp, yang penting masih ada pemasukan kecil-kecilan. Untungnya penjualan lewat daring itu juga membuahkan hasil walaupun tidak sebesar ketika membuka warung. Sore itu, Mbak Nur memesan dua porsi garang asem. Ia langsung mampir ke rumah kami untuk mengambil pesanan sekaligus membayar.

"Kok sudah nggak buka warung lagi, Bulik? Banyak yang cariin, loh," celetuk Mbak Nur.

"Kapan-kapan saja, deh, Nur. Bulik belakangan ini capek buka warung terus. Ingin istirahat dulu di rumah," balas ibuku.

"Oalah, ya sudah, Bulik. Jangan terlalu memaksakan diri juga, Bulik. Jaga kesehatan, ya. Besok Nur mau mampir lagi," pamit Mbak Nur.

Selang beberapa hari kemudian, Ibu bermaksud membuka warung lagi. Tak lupa pula pagi itu Ibu menebar garam di penjuru warung. Kata orang dulu, ular takut dengan garam sehingga garam-garam tersebut diharapkan dapat menangkal kedatangan si ular. Matahari mulai naik, menjelang siang warung sudah ramai lagi. Aku sedang menggoreng ketika Ibu tiba-tiba memekik kencang lalu tumbang. Aku dan para pembeli segera mencari tahu apa yang terjadi pada Ibu.

Seekor ular hitam keluar lewat pintu depan. Rupanya Ibu dipatuk ular hitam tersebut. Tanpa menunggu lama, aku dibantu beberapa pembeli dan tetangga membawa Ibu ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan. Ular tersebut sialnya berbisa. Namun, untungnya bukan bisa yang sangat mematikan. Setelah mendapatkan perawatan dan obat, Ibu diperbolehkan pulang. Ia mengalami demam sehingga kami berniat menutup warung lagi padahal baru saja buka pagi tadi.

"Sudah ditebar garam kok ularnya masih datang ya, Nduk?" celetuk Ibu.

"Kan ular memang nggak takut garam, Bu. Mereka itu nggak sukanya sama sesuatu yang bau menyengat. Ular takut garam kan mitos orang zaman dulu, Bu. Kalau sekarang kan sudah modern, pakai cara modern juga harusnya."

Ibu mengangguk-angguk paham. Ia tidak membalas perkara ular itu lagi. Sore itu, Mbak Nur kembali datang bertamu. Tak lupa pula membawa buah-buahan dan bertanya-tanya mengenai keadaan Ibu. Selama ini Ibu enggan bercerita tentang teror-teror yang terjadi pada kami, akan tetapi Ibu tidak bisa menahannya lagi di hadapan Mbak Nur selaku keponakan kesayangannya.

"Sepertinya ada yang punya niat buruk sama Bulik, Nur. Ada yang kirim guna-guna biar Bulik nggak buka warung lagi," adu Ibu.

Mbak Nur hanya menggeleng. "Yang namanya guna-guna itu nggak ada, Bulik. Sekarang sudah zaman modern, Bulik jangan percaya yang begituan, ya. Mungkin memang di sini ada sarang ular saja. Kalau ularnya datang lagi, lebih baik panggil damkar saja, Bulik."

Seperti biasa, Mbak Nur selalu berusaha agar Ibu tidak terlalu kepikiran. Sebelum pulang, ia bahkan sempat menyelipkan amplop ke Ibu. Nominalnya juga besar, melebihi yang diberikan orang-orang pada Ibu. Sebagai keponakan kesayangan, Mbak Nur tidak pernah mengecewakan Ibu. Sepeninggal Mbak Nur, aku menutup pintu rumah dan ingin tidur lebih awal. Masalah ular atau guna-guna itu biarlah dipikirkan besok.

Dini hari itu, aku terbangun lagi. Suara yang sama terdengar jelas dari arah warung. Bedanya kali ini aku tidak takut. Siapa pun pelaku penyebaran tanah kuburan di warung itu harus ditangkap. Ia harus bertanggung jawab karena telah membuat Ibu celaka atas apa yang sudah ia perbuat. Aku mengambil pentungan dari dapur, berjalan mengendap ke depan, menuju sosok tersebut. Ia berpakaian serba hitam dari atas sampai bawah. Jaket bertudung, celana hitam longgar, dan sepatu bots warna senada. Ia menggenggam sebuah karung, yang ketika dituangkan isinya berupa kalajengking, kelabang, dan ular hitam! Tanpa banyak ba-bi-bu segera kupukul kepala sosok itu sekuat tenaga. Sosok itu menjerit dan aku kaget.

Mbak Nur terduduk di tanah, sambil berusaha menutupi wajahnya yang tidak bisa lagi disembunyikan.

*Garang asem atau garang asam adalah makanan tradisional khas Jawa Tengah. Garang asem dibuat dari olahan ayam yang dimasak menggunakan daun pisang berbentuk tum dan didominasi oleh rasa asam serta pedas. (Wikipedia)