Sebuah mitos sesederhana bersiul di malam hari ternyata dapat diangkat menjadi sebuah film pendek yang kengeriannya tak hanya bertahan sepanjang durasi, tetapi masih menyisakan perasaan tidak nyaman yang entah kenapa memberikan kita peringatan agar tidak ikut-ikutan bersiul ketika malam tiba. Inilah film pendek berjudul Singsot, yang durasinya bahkan tak ada lima belas menit tetapi masih menyisakan perasaan tidak nyaman setelah filmnya tandas.
Mitos yang Ternyata Berputar di Sekitar Kita
Singsot yang merupakan judul sekaligus jiwa dalam film pendek ini diambil dalam bahasa Jawa yang berarti bersiul. Latarnya adalah sebuah desa yang warganya masih aktif menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, pun dialog dalam film ini nyaris keseluruhan menggunakan bahasa Jawa. Namun, tenang saja. Sudah disediakan subtitle dalam bahasa Indonesia dan Inggris untuk memahami filmnya.
Sebagaimana hidup di desa, kepercayaan akan mitos-mitos masih melekat kuat dalam masyarakat. Di mana wejangan orang tua dianggap sebagai perintah absolut yang pantang dibantah. Membantah sama dengan kualat, maka hanya ganjaran nasib buruk yang akan didapat atas pembakangan tersebut. Mitos tersebut berkembang menjadi larangan. Jangan bersiul di malam hari! Saya sendiri percaya jika larangan bersiul di malam hari bukan hanya berputar di sekitar lingkungan kultur Jawa tetapi juga menjadi mitos yang cukup populer di daerah lain.
Di film pendek ini kita akan berjumpa dengan tokoh utamanya. Seorang anak laki-laki bernama Pulung yang menginap di rumah kakek dan neneknya. Kakeknya sendiri seorang kolektor burung dan aktif dalam berbagai kompetisi bahkan mengantongi banyak piala. Memelihara burung bukan sekadar hobi semata. Bagi sebagian orang dapat menjadi kompetisi mahal yang membuat sebagian orang tersebut dapat menghalalkan segala cara.
Di mata Pulung, hobi kakeknya ini sangat luar biasa. Hari itu, Pulung diperlihatkan burung baru sang kakek. Hasil dari menjual burung-burungnya lain, yang menjadikan burung satu itu luar biasa berharga. Bahkan menjadi incaran banyak orang. Pulung bahkan diajari caranya di hadapan burung tersebut. Sebuah metode yang terkenal di antara pecinta burung untuk berinteraksi dengan burung mereka dan melatih kicaunya. Sayang, sang kakek mengajari Pulung bersiul ketika hari telah gelap. Pulung tak henti-hentinya bersiul hingga mendapatkan teguran dari sang nenek.
Bersiul di malam hari adalah tabu. Bagi orang Jawa, bersiul ketika malam dipercaya dapat mengundang makhluk halus. Tak hanya Pulung yang dimarahi, bahkan kakeknya pun juga dimarahi karena dianggap mempengaruhi sang cucu dengan hal-hal buruk. Seperti anak-anak pada umumnya yang tak mau diperintah oleh orang-orang tua, Pulung yang keras kepala tidak mempercayai peringatan neneknya karena merasa cukup berani. Ia pun tetap bersiul tanpa pernah menyadari kelalaiannya dapat menjadi sebuah mimpi buruk. Serangkaian teror pun terjadi.
Horor yang Sederhana Tetapi Membekas
Pulung terlelap sebentar setelah lelah bermain gim. Sedangkan anak itu sendiri tak menyadari jika ia telah ditinggal sendirian di rumah oleh kakek-neneknya yang pergi ke syukuran warga. Anak itu masih asyik bersiul, tanpa menyadari jika hal remeh yang dilakukannya akan menjadi awal dari mimpi buruk mengerikan.
Tepat setelah ia bersiul tiba-tiba saja suara siulan balasan datang. Sempat mengira siulan tersebut berasal dari kakeknya, ternyata Pulung menemukan ia sendirian di rumah tersebut. Lalu, lampu mati dan dimulailah mimpi buruk dari si Pulung yang kepala batu saat dinasihati neneknya agar tidak bersiul saat malam hari.
Film pendek ini sebenarnya mengangkat cerita dengan premis sederhana; mitos dilanggar, ada harga yang dibayar. Bentuk-bentuk teror yang didapat Pulung pun teror membahayakan nyawa, bahkan bisa dibilang sering ditemukan di film-film horor pada umumnya. Karena merupakan film indie, maka jangan berharap pula akan ada efek visual realistis.
Namun, karena sederhana itulah ketakutan yang dihadirkan film ini bisa dibilang familier. Namun, ada satu potongan di film ini yang sangat membekas. Sedikit spoiler di akhir film, ya. Ada pula plot twist yang tidak terduga. Walaupun sebenarnya disisipkan clue-nya di awal.
Review Keseluruhan
Menemukan film ini karena iseng ternyata worth sekali. Menonton sekali duduk dengan satu konflik sederhana rasanya tidak buruk juga. Nilai saya adalah 7/10. Malah setelahnya saya jadi sering berburu film-film pendek lainnya. Akting aktornya sangat natural, seolah sedang tidak berakting. Film pendek ini juga mendapatkan beberapa penghargaan juga. Oh iya, ketinggalan satu informasi pendek. Film pendek ini sudah diadaptasi ke versi film layar lebar yang lebih panjang dengan judul Singsot Siulan Kematian di tahun 2025 lalu.
Film pendek Singsot ini bisa ditonton dengan gratis di YouTube di channel Ravacana Films. Sedangkan versi film panjangnya bisa ditonton di Netflix.
Informasi Film
- Judul: Singsot
- Produksi: Ravacana Films
- Bahasa: Jawa
- Durasi: 14 menit
- Bahasa: Jawa
- Director: Wahyu Agung Prasetyo
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Cengkeraman Penjajah dan Cita-cita Seni: Konflik Batin Pangeran dari Timur
-
Review Film Tuner: Thriller yang Menyeimbangkan Drama dan Aksi Kriminal!
-
Review Juvenile Justice: Sebuah Pengungkapan Kasus Brutal pada Remaja
-
Ulasan Uncle Samsik: Potret Korea Selatan di Ambang Krisis Politik 1960
-
Satu Makan Siang dan Kenangan Cinta Pertama di Buku Makan Siang Okta
Terkini
-
Catat! Ini 6 Barang yang Wajib Kamu Bawa saat Liburan Musim Panas
-
Yang Perlu Dikampanyekan Adalah Kesiapan Finansial, Bukan Penghinaan
-
Berlatar Negeri Mongolia, Anime Jaadugar: A Witch in Mongolia Tayang 4 Juli
-
Piala Dunia: Euforia Sepak Bola atau Jerat Judi dan Pemerasan Ekonomi?
-
Spanyol dan Meksiko Nirbobol, Pertanda Calon Juara Piala Dunia 2026?