Hayuning Ratri Hapsari | Athar Farha
Poster Worst Neighbor Ever (Netflix)
Athar Farha

Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang. Ironisnya, 'Worst Neighbor Ever' menunjukkan ancaman terbesar bukan datang dari orang asing yang berkeliaran di jalan, melainkan dari seseorang yang tinggal hanya beberapa meter dari rumah kita. Mereka adalah tetangga yang setiap hari kita sapa, tapi ternyata menyimpan kemarahan, dendam, atau niat jahat yang perlahan berubah menjadi tragedi.

Series dokumenter terbaru Netflix yang tayang pada 1 Juli 2026 ini diproduksi Blumhouse Television untuk Netflix. Penyutradaraannya dipimpin Cynthia Childs. Selama empat episode, dokumenter ini menggabungkan wawancara keluarga korban, rekaman arsip kepolisian, bodycam polisi, panggilan darurat 911, hingga animated reenactments untuk merekonstruksi setiap peristiwa.

Alih-alih mengikuti satu kasus besar, 'Worst Neighbor Ever' menghadirkan empat kisah nyata yang memiliki benang merah: konflik bertetangga yang berkembang menjadi pembunuhan.

Episode pertama mengisahkan pasangan Shawna dan David Scott yang terus diteror Frances Zaayer, mantan penghuni rumah mereka. Perselisihan yang awalnya tampak sepele berubah menjadi pelecehan, laporan polisi, ancaman berkepanjangan, hingga akhirnya berujung penembakan yang menewaskan David dan melukai Shawna.

Episode kedua mengikuti kehidupan Miles dan Melina Armstead yang hidup dalam ketakutan akibat ulah tetangga mereka, Jamal Thomas. Teror berlangsung selama berbulan-bulan tanpa penyelesaian berarti hingga akhirnya Miles ditembak mati saat sedang membersihkan halaman rumahnya sendiri.

Kasus ketiga mengangkat tragedi ledakan rumah yang dilakukan Monserrate ‘Moncy’ Shirley bersama komplotannya demi memperoleh uang asuransi. Ledakan itu bukan hanya menghancurkan rumah mereka, tapi juga menewaskan pasangan tetangga yang sama sekali nggak bersalah.

Sementara episode terakhir membahas Caroline Herrling, perempuan yang menyembunyikan kematian seorang pria demi menguasai asetnya. Kasus tersebut berkembang menjadi penipuan yang semakin mengerikan ketika jasad korban dipotong-potong untuk menghilangkan jejak. 

Ngeri! Keempat kisah itu memang mengerikan.

Apakah Dokumenter True Crime Cukup Jadi Kumpulan Kisah Tragis?

Scene Dokumenter Series Worst Neighbor Ever (Netflix)

Menurutku, ini keunikan sekaligus kelemahan terbesar ‘Worst Neighbor Ever’. 

Sebagai tontonan, seres ini sangat efektif membangun ketegangan. Rekaman bodycam polisi, panggilan darurat, hingga wawancara keluarga korban membuat setiap tragedi begitu nyata. Bahkan, salah satu momen yang paling menyentuh justru bukan adegan kekerasannya, melainkan ketika ibu Miles menceritakan dirinya masih rutin menulis surat kepada putranya setiap hari Selasa meski Miles lama meninggal dunia.  

Masalahnya, dokumenter ini berhenti tepat ketika pertanyaan terpenting seharusnya mulai diajukan. Mengapa semua ini bisa terjadi?

Alih-alih menggali akar persoalan, series dokumenter ini lebih sibuk menyusun kronologi. Kita mengetahui apa yang dilakukan pelaku, kapan kejadian berlangsung, dan bagaimana korban meninggal. Namun, kita hampir nggak diajak memahami proses panjang yang membawa seseorang menjadi begitu berbahaya.

Padahal, memahami penyebab bukan berarti membenarkan kejahatan. Ada perbedaan besar antara menjelaskan dan membenarkan. Dokumenter seharusnya mampu menunjukkan bagaimana faktor kesehatan mental, penyalahgunaan narkoba, konflik sosial, lingkungan, hingga kegagalan sistem hukum dapat saling berkelindan sebelum akhirnya melahirkan tragedi. Dengan memahami akar masalah, penonton bukan hanya merasa ngeri, tapi juga memperoleh pemahaman yang mungkin berguna untuk mencegah kasus serupa.

Hal lain yang menurutku kurang mendapat perhatian adalah peran aparat penegak hukum. Dalam beberapa episode terlihat jelas, korban telah berkali-kali melapor sebelum pembunuhan benar-benar terjadi. Ancaman sudah disampaikan. Bukti sudah dikumpulkan. Rasa takut sudah berkali-kali diutarakan. Namun, perlindungan yang memadai nggak kunjung datang.

Sayangnya, dokumenter ini hanya memperlihatkan kegagalan tersebut tanpa mengupas lebih dalam mengapa sistem bisa begitu lambat merespons. Padahal, itu bisa jadi letak diskusi yang paling penting. Banyak pembunuhan bukan terjadi secara tiba-tiba. Seringkali didahului ancaman yang diabaikan, laporan yang nggak ditindaklanjuti, atau konflik yang dibiarkan berlarut-larut hingga akhirnya meledak menjadi kekerasan.

Karena itu, menurutku dokumenter true crime memiliki tanggung jawab yang lebih besar ketimbang sebatas membuat penonton tegang.

Genre ini memang lahir dari kisah nyata. Namun, ketika tragedi nyata dijadikan tontonan, pembuat film juga memikul tanggung jawab moral untuk menghadirkan konteks, analisis, dan refleksi. Tujuannya bukan hanya agar penonton mengetahui kejahatan pernah terjadi, melainkan memahami mengapa kejahatan itu bisa terjadi dan apa yang bisa dipelajari agar tidak terulang.

Kalau nggak, dokumenter berisiko berubah menjadi konsumsi rasa penasaran semata. Yup, aku dibuat bergidik selama satu jam, lalu berpindah ke kasus berikutnya tanpa memahami apa pun selain dunia kebanyakan diisi orang jahat. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit daripada itu.

‘Worst Neighbor Ever’ tetap merupakan series dokumenter true crime yang menarik untuk diikuti. Produksinya rapi, ritmenya cepat, dan setiap episode mampu menjaga rasa penasaran hingga akhir. Namun, di balik semua tragedi yang ditampilkan, aku merasa kehilangan sesuatu yang paling penting: keberanian untuk bertanya lebih jauh.

Soalnya, dokumenter terbaik bukanlah yang membuat kita tahu informasi terkait kejadian dan siapa pelakunya. Menurutku, dokumenter terbaik adalah yang membuat kita lebih memahami manusia, sistem yang mengelilinginya, dan bagaimana tragedi sebenarnya bisa dicegah sebelum terlambat.

Dan bila Sobat Yoursay penasaran juga ingin merasakan apa yang kurasakan, cuz langsung cek Netflix, ya! Selamat menonton.