Please Look After Mom karya Shin Kyung-sook, yang diterbitkan di Indonesia dengan judul Ibu Tercinta, bagi saya adalah novel yang meninggalkan luka dan renungan panjang setelah halaman terakhir ditutup. Sejak awal saya sudah merasa buku ini akan membuat saya menangis. Karena bagi saya, cerita apa pun yang berhubungan dengan sosok ibu hampir selalu menyentuh emosi dan dugaan itu benar adanya.
Novel ini berawal dari peristiwa sederhana yang berubah menjadi tragedi. Park So-nyo, perempuan berusia 69 tahun, menghilang di Stasiun Seoul setelah terpisah dari suaminya. Sang suami yang berjalan lebih dulu tidak menyadari bahwa istrinya tertinggal di belakang. Kejadian tersebut membuat seluruh anggota keluarga berpencar mencari keberadaan ibu mereka. Namun, semakin lama pencarian berlangsung, semakin banyak pula kenangan, penyesalan, dan kenyataan pahit yang muncul ke permukaan.
Cerita disusun dalam empat bagian utama dengan sudut pandang yang bergantian, kemudian diakhiri sebuah epilog yang mengikat seluruh emosi pembaca. Struktur ini membuat setiap anggota keluarga memiliki kesempatan untuk mengungkapkan hubungan mereka dengan Park So-nyo sekaligus memperlihatkan bagaimana mereka memandang sosok ibu selama ini.
Bagian pertama mengikuti Chi-hon, putri sulung keluarga. Saat membantu mencari ibunya, ia terus dihantui ingatan tentang perempuan sederhana yang bahkan tidak bisa membaca dan menulis, tetapi rela mengorbankan hampir seluruh hidupnya demi suami serta anak-anaknya. Baru setelah sang ibu menghilang, Chi-hon menyadari betapa sering ia menganggap semua pengorbanan itu sebagai sesuatu yang wajar.
Sudut pandang berikutnya berasal dari Hyung-chul, putra sulung yang menjadi harapan besar keluarga. Kesuksesan yang ia raih ternyata tidak mampu menghapus rasa bersalah karena merasa gagal membalas semua kerja keras ibunya. Ia mengenang bagaimana Park So-nyo mempertaruhkan banyak hal agar anaknya memperoleh pendidikan dan masa depan yang lebih baik.
Kisah kemudian berpindah kepada sang ayah. Selama bertahun-tahun ia dikenal keras kepala, dingin, dan sering mengabaikan istrinya. Kehilangan tersebut memaksanya melihat kembali perjalanan pernikahan mereka. Untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari bahwa selama ini kehidupannya sangat bergantung pada perempuan yang selalu berada di sisinya.
Bagian yang paling menyentuh justru datang dari sudut pandang Park So-nyo sendiri. Melalui narasi yang terasa seperti suara kenangan atau jiwa sang ibu, pembaca diajak mengikuti perjalanan batinnya saat tersesat di Seoul. Ia mengenang rasa sakit, perjuangan membesarkan anak-anak, hingga kasih sayang yang tetap utuh meskipun dirinya sering diabaikan. Bagian ini terasa begitu emosional karena menunjukkan bahwa seorang ibu memahami semua kekurangan anak-anaknya, tetapi tetap mencintai mereka tanpa syarat.
Novel ditutup dengan epilog ketika Chi-hon berada di Roma dan mengunjungi patung Pieta. Di hadapan karya seni tersebut, ia memanjatkan doa agar ibunya memperoleh kedamaian. Penutup ini menjadi simbol kerinduan sekaligus penerimaan yang begitu mengharukan.
Meski saya sangat menikmati pesan yang disampaikan, pengalaman membaca novel ini tidak sepenuhnya mulus. Gaya penceritaannya cukup lambat dengan narasi yang panjang sehingga bagian awal terasa membosankan bagi saya. Bahkan saya sempat menghentikan bacaan beberapa kali sebelum akhirnya berhasil menamatkannya. Namun, semua kesabaran itu terbayar ketika cerita mulai menunjukkan kedalaman emosinya.
Hal paling berharga dari novel ini adalah pelajaran yang ditinggalkannya. Kehadiran ibu sering dianggap biasa karena kita merasa beliau akan selalu ada. Padahal, kehilangan bisa datang tanpa peringatan. Buku ini juga mengingatkan bahwa seorang ibu bukan hanya sosok yang melayani keluarga, melainkan manusia yang memiliki impian, kelelahan, kebutuhan emosional, dan kehidupan yang sering kali dikorbankan demi orang lain. Selain itu, ucapan sederhana seperti "terima kasih" dan "aku sayang ibu" ternyata tidak seharusnya ditunda hingga penyesalan datang.
Setelah menutup halaman terakhir, saya hanya memiliki satu keinginan sederhana, yaitu memeluk ibu saya sendiri dan mengucapkan terima kasih atas semua hal yang selama ini mungkin tidak pernah saya sadari. Please Look After Mom bukan sekadar novel tentang kehilangan, tetapi juga pengingat agar kita menghargai orang tua selagi masih memiliki kesempatan.
Identitas Buku
Judul: Please Look After Mom
Penulis: Kyung Sook Shin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Februari 2020
Halaman: 296 Halaman
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020315409
Baca Juga
-
I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki: Bertahan Hidup Lewat Harapan-harapan Kecil
-
As Long as the Lemon Trees Grow: Ketika Harapan Tumbuh di Tengah Perang
-
Ulasan Novel Gagal Menjadi Manusia: Karya Paling Kelam Osamu Dazai
-
Ulasan Men Are from Mars, Women Are from Venus: Memahami Perbedaan Cara Pria dan Wanita Mencintai
-
Animal Farm dan Cermin Politik Modern: Saat Kesetaraan Hanya Menjadi Slogan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis: Hangat, Realistis, dan Bermakna
-
Review Film Nothing to Lose: Potret Nyata Ketimpangan Sosial Zaman Sekarang
-
I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki: Bertahan Hidup Lewat Harapan-harapan Kecil
-
Ulasan Novel Semesta Thalita, Ketika Kata Pulang Tak Lagi Bermakna
-
As Long as the Lemon Trees Grow: Ketika Harapan Tumbuh di Tengah Perang
Terkini
-
Standar Ganda Idol K-Pop : Kenapa Idol Laki-Laki Lebih Mudah Dimaafkan?
-
Bukan Manja, Ini Alasan Anak Muda Terjebak Doom Spending
-
Komunitas Dermaga Diri: Ruang Aman untuk Pulih dari Luka Batin
-
Tayang 2 September, Portrait of a Family Hadirkan Kisah Keluarga Penuh Haru
-
Pelajaran dari Surabaya: Penyangga Ekonomi yang Sering Diremehkan