M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
Ilustrasi daun kemangi (Dokumentasi Suara.com)
Tika Maya Sari

Kawan-kawan tahu daun kemangi? Iya, daun-daun kecil yang kerap dijadikan lalapan itu rupanya memiliki segudang manfaat sekaligus herba aromatik yang berjasa pada setiap masakan rumahan Nusantara. Jujurly, artikel ini lahir sewaktu saya makan sayur bobor bikinan Emak dimana ada kemangi di dalamnya.

Tanaman yang Kaya Manfaat

Kemangi (Ocimum basilicum) merupakan jenis tanaman perdu yang banyak tersebar di seluruh Indonesia. Daunnya kecil, tapi memiliki aroma semriwing yang khas. Melansir laman Alodokter, studi menunjukkan bahwa dalam 100 gram daun kemangi mengandung:

  • 23 kalori,
  • 3 gram protein,
  • 177 miligram kalsium,
  • 295 miligram kalium,
  • 64 miligram magnesium,
  • 18 miligram vitamin C, dan
  • 3 miligram zat besi.

Daun kemangi sendiri juga mengandung antioksidan lutein dan zeaxanthin, serat, fosfor, folat, zinc, Vitamin A dan B. Selain itu, tanaman ini juga berguna untuk:

  • Mengatasi jerawat,
  • Membantu mempercepat penyembuhan luka,
  • Menurunkan kadar asam lambung,
  • Mencegah gangguan pencernaan,
  • Sifatnya sebagai adaptogen membuat tubuh rileks, mengatasi gangguan kecemasan, mengatasi gangguan tidur, dan meningkatkan daya ingat,
  • Anti kanker,
  • Mengontrol gula darah, dan
  • Menurunkan tekanan darah tinggi.

Bumbu Aromatik yang Hampir Ada di Tiap Masakan

Pada praktiknya, daun kemangi kerap dikonsumsi mentah sebagai lalapan maupun ditambahkan pada masakan sebagai bumbu aromatik. Aroma semriwing dan citarasanya betulan khas sekali sehingga mudah dikenali, seperti sudah menjadi identitas masakan Nusantara yang kaya rempah.

Barangkali kita sudah familiar dengan lalapan kemangi pada pecel lele. Namun, pada konsep masakan sayur bobor, sayur bening, bumbu rujak, sampai nasi bakar yang mencuri perhatian Masterchef internasional pun menambahkan daun kemangi pada masakannya.

Sudahlah aromanya menguar dengan karismatik, citarasa makanannya pun upgrade menjadi kerinduan akan kampung halaman. Kendati sudah ikut dimasak, rasa daun kemanginya tetap bertahan.

Tanaman yang Mudah Dibudidayakan

Tanaman kemangi sendiri cenderung mudah ditanam dan dibudidayakan dalam jumlah besar. Selain tidak memerlukan lahan yang luas, perawatannya pun terbilang mudah sekali.

Benih kemangi yang dapat disemai dalam pot, polyback, ember bekas, atau plastik bekas kemasan minyak yang sudah dilubangi untuk sirkulasi air. Dalam 3-4 hari, kemangi akan tumbuh.

Berdasarkan pengalaman, tanaman kemangi membutuhkan penyiraman rutin dan pupuk untuk memenuhi keperluan zat haranya. Bagi yang menyukai sayuran organik dan nggak mau menggunakan pupuk kimia, tanaman ini bisa diberi pupuk organik seperti kompos, atau cangkang telur yang dipecahkan kecil-kecil dan dipendam di dekat akarnya. Dibarengi dengan sinar matahari yang cukup, daun kemangi akan tumbuh lebat dan lebar.

Karena mudah dibudidayakan itulah, masyarakat banyak menanam kemangi selain sebagai bumbu masakan ataupun lalapan, dia juga bertindak sebagai komoditi yang selalu dibanggakan emak-emak di pekarangan rumahnya. Namun karena prinsip berbagi masih kental, orang yang memiliki banyak tanaman kemangi kerap membagikan bibitnya kepada para tetangga.

Berkebun Sebagai Kegiatan Mengurangi Stres

Bagi sebagian orang, berkebun itu seru karena bisa menanam tanaman dan menghasilkan komoditi. Padahal, studi telah membuktikan bahwa berkebun mampu mengurangi stres karena kita terpapar alam secara langsung. Proses inilah yang menekan kadar kortisol, memberikan efek rileks, dan bahagia.

Sejatinya, berkebun pun bebas hendak memilih tanaman apa. Bisa sayur-sayuran, buah-buahan, hingga tanaman bunga yang cantik-cantik. Pun kemangi boleh masuk ke dalam list sayuran yang mudah tumbuh, gampang dirawat, dan tentunya bisa dipetik sebagai lalapan hingga bumbu aromatik masakan. Tapi semua kembali ke selera masing-masing ya.

So, gimana menurut kawan-kawan?