PHK, cicilan rumah, tuntutan keluarga, lalu kebutuhan untuk segera menghasilkan uang menjadi rangkaian masalah yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Agensi Rumah Tangga mengambil semua persoalan itu dan membungkusnya dalam drama komedi yang ringan, tanpa kehilangan kesempatan untuk membicarakan sesuatu yang lebih serius tentang pekerjaan dan perjuangan perempuan.
Film produksi Starvision Plus ini disutradarai Naya Anindita, dengan Chand Parwez Servia sebagai produser dan skenario yang ditulis Upi Avianto. Agensi Rumah Tangga diadaptasi dari novel berjudul sama karya Almira Bastari yang terbit pada 2024. Film berdurasi ±115 menit ini tayang di bioskop sejak 10 September 2026.
Enzy Storia menjadi pemeran utama sebagai Katia Amaranto, ditemani Fita Anggraini sebagai Sashi dan Afgansyah Reza sebagai Kafka. Deretan pemain lainnya juga cukup ramai, mulai dari Unique Priscilla sebagai Titin, Tike Priatnakusumah sebagai Bi Minah, Yunita Siregar sebagai Mila, Ardit Erwandha sebagai Banu, sampai Ummi Quary, Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, Dea Panendra, Boah Sartika, Priska Baru Segu, Astrid Juwita, dan Mega Salsabila.
Cerita tentu saja tertuju pada Katia yang kehilangan pekerjaan setelah kena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja. Enam bulan menganggur membuat kondisi ekonominya semakin tertekan, apalagi cicilan KPR terus berjalan. Tekanan dari ibunya yang berharap Katia mencari pekerjaan lebih mapan ikut memperumit keadaan.
Persoalan yang dialami Bi Minah kemudian memberi Katia ide. Banyak penyalur ART dianggap kurang bisa dipercaya, sementara kebutuhan keluarga pada pekerja yang dapat diandalkan terus berjalan. Bersama sahabatnya, Sashi, Katia lalu membangun Agensi Rumah Tangga sebagai usaha penyaluran calon ART.
Bisnis baru tersebut tentu membawa masalah sendiri. Katia harus menghadapi para klien dengan karakter berbeda, para ART dengan persoalan masing-masing, konflik bersama ibunya, sampai Kafka, penyanyi terkenal yang jadi salah satu kliennya.
Di tengah urusan pekerjaan yang makin rumit, Katia juga mulai berhadapan dengan persoalan perasaan. Pada akhirnya, pilihan antara mengejar pekerjaan yang sesuai harapan keluarga atau mempertahankan usaha yang sudah mempertemukannya dengan orang-orang yang udah kayak keluarga baru jadi bagian penting perjalanan Katia.
Ketika ART Nggak Cuma Jadi Latar Doang
Yup, mereka diberi karakter, kebutuhan, masalah, hubungan, dan ruang untuk jadi manusia utuh. Pendekatan semacam ini penting karena pekerjaan ART selama ini cukup sering hadir dalam cerita dari sudut pandang majikan. Film ini mencoba membalik posisi kamera dan memberi perhatian lebih besar pada para pekerjanya.
Di titik itu, komedi menjadi pilihan yang cukup cerdas. Film punya persoalan tentang PHK, penghasilan, pekerjaan, keluarga, dan ketimpangan posisi antara pemberi kerja dengan pekerja. Semua isu tersebut bisa saja diarahkan jadi drama penuh air mata. Agensi Rumah Tangga malah membuatnya lebih ringan melalui kekacauan sehari-hari, karakter-karakter yang berwarna, serta interaksi yang menghibur.
Pilihan tersebut membuat perjuangan para karakter lebih manusiawi. Katia boleh terdesak keadaan, gagal, bingung menentukan arah hidup, lalu tetap punya ruang untuk tertawa dan membuat keputusan. Perempuan dalam film ini pun hadir dengan berbagai cara untuk bertahan, dari pekerja yang kehilangan pekerjaan sampai para ART yang berusaha mencari penghasilan.
Meski begitu, pendekatan komedi juga membawa konsekuensi. Beberapa persoalan besar rasanya jadi lebih ringan karena terus ditembaki humor. Di sinilah film seharusnya menjaga keseimbangan agar kelucuan berfungsi sebagai jembatan menuju isu sosial, bukan sekadar hiasan.
Bagiku, Film Agensi Rumah Tangga punya gagasan yang cukup menarik: pekerjaan apa pun layak dilihat sebagai pekerjaan yang dijalani manusia dengan kebutuhan, harga diri, dan perjuangan masing-masing. Ketika gagasan tersebut dibawa lewat komedi, film ini terasa lebih ramah ditonton sekaligus membuka ruang untuk melihat kembali pekerjaan yang selama ini begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sobat Yoursay tertarik nonton? Cuz, langsung ke bioskop, ya! Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
-
Review The Disciple: A Wu-Tang Fable dan Ironi Album Eksklusif Wu-Tang Clan
Artikel Terkait
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
Korban PHK Tabrak Porsche di Gading Serpong, Sikap Pemilik Mobil Mewah itu Bikin Shock
-
Film Jumbo Akhirnya Tembus Pasar Italia, Kini Diputar di 121 Bioskop
-
Beautiful Pain: Kisah Nyata Perjuangan Perempuan Bangkit dari Luka KDRT
Ulasan
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
Terkini
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
5 Exfoliating Toner Lokal yang Affordable dan Ramah untuk Kulit Sensitif